Bukan Sekadar Hiburan, Lomba HUT RI Punya Makna Mendalam

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Mengikuti lomba Perayaan Kemerdekaan 17 Agustus sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Banyak lomba yang digelar, baik untuk anak-anak maupun dewasa.
Dan itu biasa dimainkan mulai dari tingkat RT, komunitas, sekolah, perusahaan, sampai tingkat Nasional. Kali ini SD Menorah merayakan hari kemerdekaan dengan mengadakan beragam lomba yang seru dan menyenangkan. Bukan hanya untuk edukasi tapi juga mengundang keceriaan para siswa.
Advertisement
Lomba tersebut meliputi, tarik tambang, makan kerupuk, tangkap belut, balap karung, balap kelereng, pukul air, nyunggi tempeh, estafet air, joget balon dan benteng-bentengan. Lebih istimewa, di sini para panitia menyiapkan segudang hadiah untuk para pemenang lomba.
Tak heran, semua warga sekolah sangat antusias ikut berpartisipasi. Mulai dari Ketua Yayasan Tunas Zaitun, Direktur, Kepala Sekolah SD Menorah, Guru, Staff, Security dan Cleaning Service.
Nah selain lomba, tentunya pihak sekolah juga memberikan wejangan tentang makna mengikuti lomba Tujuh Belasan.
Meski dilakukan hampir setiap tahun, tidak banyak dari masyarakat maupun siswa yang tahu sejarah asal mula tradisi perayaan tersebut. Itu terlihat dari sebagian besar jawaban siswa ketika diberi pertanyaan tentang makna dari mengikuti lomba Tujuh Belasan.
Dengan polos, mereka menjawab; untuk seru-seruan dan bersenang-senang bersama.
Tidak salah. Tapi sebenarnya dari beberapa jenis perlombaan punya sejarah dan filosofi yang cukup dalam. Sejarawan dan Budayawan JJ Rizal mengatakan bahwa tradisi lomba yang kerap menghiasi perayaan HUT Kemerdekaan RI itu muncul pada tahun 1950 an.
Masyarakat kala itu begitu antusias ingin memeriahkan perayaan HUT RI. Dan sampai saat ini tradisi masih tejaga dengan baik sehingga terus menyebar luas di seluruh sabang sampai merauke.
Tentang berbagai lomba HUT RI yang digelar di SD Menorah, berikut cara permainan serta maknanya :
1. Lomba Tarik Tambang (Tug of War)
Lomba tarik tambang cukup menantang dan membuat napas terengah-engah. Dua regu bertanding dari dua sisi berlawanan dan semua peserta memegang erat sebuah tali tambang. Kemudian masing-masing regu menarik tali tambang sekuat mungkin agar regu yang berlawanan melewati garis pembatas.
Ini menandakan semangat persatuan bisa membantu mengalahkan lawan. Selain itu, tarik tambang mengajarkan adanya kerja keras dan taktik supaya bisa menumbangkan lawan.
Permainan ini juga memiliki filosofi makna persatuan dan kerja keras bangsa dalam merebutkan “tambang” kemerdekaan secara bersama. Jadi.. lomba ini bukan hanya adu kekuatan. Karena tanpa tim yang kompak, kemenangan sulit diraih. Tarik tambang mengajarkan tentang gotong royong, kebersamaan dan solidaritas.
Seperti peribahasa “Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing” yang artinya bersama-sama dalam suka duka, baik buruk sama-sama ditanggung.
“Alone we can do so little, together we can do so much” ~ Hellen Keller.
2. Lomba Makan Kerupuk (Crackers Eating Competition)
Salah satu lomba tradisional yang populer pada hari kemerdekaan Indonesia yaitu Makan Kerupuk. Cara Permainannya mudah Panitia perlombaan menyiapkan kerupuk sebanyak peserta. Kemudian kerupuk digantung dengan tali secara berjejer pada sebuah tali panjang.
Tangan peserta lomba diikat sambil berusaha memakan kerupuk masing-masing yang menggantung Lomba ini menggambarkan kesulitan pangan pada masa penjajahan. Orang Indonesia dulu banyak yang kelaparan, karena hasil panen sering diambil paksa oleh para penjajah, kerupuk merupakan simbol pangan (keprihatinan).
Jadi lomba ini mengingatkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki saat ini, karena untuk memenuhi kebutuhan makan saja dibutuhkan kerja keras. Seperti pepatah “kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tak menghargai apa yang telah dimiliki”.
3. Lomba Tangkap Belut (Catching Eels Game)
Salah satu lomba yang sangat menggelikan yaitu tangkap belut. Cara mainnya kita harus memindahkan belut-belut dari bak kemudian dimasukkan ke dalam botol.
Kalau kita perhatikan peribahasa tentang belut cukup banyak, salah satu contohnya “Licin bagai belut yang artinya cerdik dan licik sehingga susah menghadapinya (menangkapnya)”.
Para siswa menganggap permainan ini hanya untuk lucu-lucuan saja. Makna sebenarnya, permainan ini menggambarkan susahnya mengusir penjajah dari Indonesia.
Permainan tangkap belut ini butuh kesabaran dan ketekunan yang berkelanjutan. Jadi, lomba ini mengajarkan kita untuk melatih kesabaran dan butuh perjuangan untuk mencapai tujuan. “Apapun pekerjaan yang anda geluti cintailah dan syukurilah. Maka anda akan merasa seperti berlibur setiap hari”.
4. Lomba Balap Karung ( Sack Race)
Lomba balap karung sangat terkenal di Indonesia. Lomba ini dilakukan dengan cara melompat dengan dua kaki yang ada di dalam karung. Peserta yang melintasi garis akhir paling cepat adalah yang menang.
Permainan ini menggambarkan rakyat pada zaman penjajahan menggunakan pakaian dengan bahan karung goni seperti halnya karung goni yang dipakai saat balap karung, Bisa kita bayangkan kesulitan dan penderitaan yang dialami rakyat pada masa penjajahan sampai mengalami kelangkaan bahan pakaian.
Filosofi nginjak-nginjak karung sambil balapan ini adalah salah satu bentuk pelampiasan kekesalan pada karung goni bekas yang dulu dikenakan oleh rakyat Indonesia. Jadi, bisa dikatakan bahwa perlombaan ini berarti “sesulit apapun keadaan, walaupun harus dengan jatuh bangun hingga terluka tetaplah bersemangat untuk meraih cita-cita”.
5. Lomba Balap Kelereng (Egg and Spoon Race)
Lomba membawa kelereng menggunakan sendok sangat sering dimainkan oleh anak-anak. Lomba ini dilakukan dengan cara menggigit sendok dan meletakkan kelereng diatas sendok tersebut kemudian peserta jalan perlahan-lahan untuk menjaga keseimbangan agar kelerengnya tidak jatuh mulai dari start sampai finish.
Tetapi kalau sudah sering berlatih dengan jalan cepat pun juga bisa. Pemenangnya adalah yang tercepat sampai finish tanpa kelarengnya terjatuh.
Filosofi dari lomba ini adalah harus senantiasa berhati-hati dalam menjaga kecepatan dan tetap fokus pada misi yang diemban. Sebab keduanya merupakan kunci sukses dalam perjalanan mencapai keberhasilan. Jadi, untuk mencapai tujuan itu harus sabar, fokus dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
“Anda harus mengambil tindakan sekarang yang akan membawa anda menujuj tujuan anda” ~ Jackson Brown Jr.
6. Lomba Pukul Air (Water Hitting Competition)
Lomba Pukul Air merupakan Lomba yang cukup menegangkan. Plastik berisi air yang digantung di bambu lalu dipukul menggunakan sebilah tongkat kecil. Biasanya menggunakan pelepah pisang.
Untuk menjaga keamanan sebaiknya peserta mengenakan helm, guna menghindari salah sasaran seandainya kompetitornya yang kena gebug dan bukan plastiknya. Karena mata peserta lomba harus ditutup rapat dengan kain. Ketika ada aba-aba mulai, peserta berjalan menuju plastik yang berisi air dan memukulnya.
Peserta yang menang adalah yang paling cepat memukul plastik berisi air itu sampai pecah.
Dalam hal ini, permainan pukul air memberikan pengertian kepada kita bahwa untuk menentukan tujuan hidup memang harus diawali dengan niat dan insting yang kuat. Agar pada saat berjalan mengarungi kehidupan, kita dapat menentukan arah tujuan. Hingga akhirnya tidak terjerumus dalam lubang yang salah.
Bayangkan saja, untuk memukul air di dalam plastik ke arah yang tepat di sertai dengan mata tertutup kain. bagaimana cara kita melihatnya?. Tentunya menggunakan insting atau naluri dalam jiwa.
Jika kita sudah yakin bahwa keberadaan air dalam plastik itu sudah tepat untuk kita pukul. Maka dengan segenap kemampuan yang ada pada kekuatan tangan kita, balon air itupun akan pecah.
Jadi, omba pukul air ini mengajarkan kita bahwa ketika kita melakukan apa yang kita yakini dengan sepenuh hati, apa yang menurut hati nurani kita benar, lakukan semua itu dengan penuh percaya sampai meraih keberhasilan.
7. Lomba Nyunggi Tempeh (Uphold Tray Balancing Games)
Lomba Nyunggi Tempeh hanya memerlukan peralatan simpel. Kita hanya perlu membawa tempeh kosong di atas kepala kita. Kemudian kita diwajibkan untuk berjalan secepat mungkin menuju garis finish. Tapi karena tidak ada beban yang menahan tempeh, justru benda ini jadi mudah jatuh.
Lomba Nyunggi tempeh sering dimainkan oleh perempuan. Lomba ini mengadu kecepatan dan keseimbangan. Peserta nyunggi tempeh dari start lalu berjalan maju sejauh 5 meter bolak-balik. Peserta tercepat nyungi tempeh sampai finish tanpa menjatuhkan tempeh dinyatakan menang.
Nyunggi berasal dari bahasa Jawa yang artinya kegiatan membawa barang dengan meletakannya di atas kepala. Mirip seperti apa yang dilakukan para wanita Bali yang membawa barang di kepala.
Akhir-akhir ini budaya Indonesia semakin dilupakan seiring berjalannya waktu. Budaya Indonesia semakin tergerus dengan hal-hal yang berbau modernisasi. Ada sebuah peribahasa yang sangat cocok untuk menggambarkan lomba ini, yakni “Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”. Yang artinya, sebaiknya kita selalu mengikuti kebiasaan dan adat istiadat di tempat kita berada.
Jadi, lomba nyunggi tempeh mengandung makna “Seharusnya kita melestarikan kebiasaan adat istiadat dan budaya, khususnya kita sebagai generasi muda dukunglah kelestarian budaya dan ikut menjaga budaya lokal”.
8. Lomba Estafet Air (Estafet Water Competition)
Lomba Estafet Air tergolong lomba yang sederhana, hanya memerlukan sebuah ember berisi air secukupnya. Gelas yang bagian bawahnya telah diberi lubang kecil dan botol plastik.
Caranya mudah, peserta duduk dengan posisi berbanjar, lalu peserta paling depan bertugas mengambil air. Dan yang paling belakang menuangkannya ke dalam botol
Gelas yang berisi air diberikan secara estafet kepada rekanya yang dibelakang melalui atas kepala. Botol berisi air tebanyak dengan batas waktu yang ditentukan itulah pemenangnya. Jadi, lomba Estafet air ini dapat melatih kerjasama tim. Melatih kesadaran diri akan tugas dan tanggung jawab dalam menentukan posisi kapan harus berpindah dan melatih kekompakan dalam tim.
“Tim itu tempat berbagi beban dan membagi kesedihan” ~Doug Smith.
9. Lomba Joget Balon (Ballon Dance Competition)
Lomba Joget Balon sangat seru untuk diikuti. Peralatan yang diperlukan pun sangat simpel, hanya butuh musik dan balon yang sudah ditiup. Permainannya mudah, peserta lomba diwajibkan berpasangan 2 orang dengan group (5 pasangan).
Lalu mengapit bola di punggung sambil berjoget mengikuti irama. Dan balon tidak boleh jatuh maupun meletus. Peserta dinyatakan menang apabila balon yang mereka apit tidak lepas atau jatuh dalam waktu yang telah ditentukan.
Pada lomba ini peserta harus kompak dengan pasangan berjoget masing-masing. Berjogetnya pun harus sepadan agar balonnya tidak terjatuh.
Jadi, bisa dikatakan lomba joget balon ini mengandung makna, “ketika kamu bekerja dengan orang lain, kamu harus memikirkan cara yang paling tepat agar kamu dan teman kerjamu bisa menuju keberhasilan”.
10. Lomba Benteng-Bentengan (Fortress Race)
Benteng-Bentengan adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup. Masing-masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Para grup memilih suatu tempat sebagai markas. Biasanya sebuah tiang atau pohon.
Permainan ini dimulai dengan majunya salah satu pemain dari salah satu benteng untuk menantang para pemain dari benteng lawannya. Pemain dari benteng lawannya akan maju untuk mengejar. Jika pemain dari benteng penantang ini dapat terkejar dan dapat disentuh oleh pemain lawan, maka pemain penantang dinyatakan mati.
Biasanya pemain penantang akan berlari menghindar atau kembali ke bentengnya sendiri. Teman-teman dari benteng penantang ini, akan mengejar pemain dari benteng lawan yang memburu tadi. Demikian seterusnya sehingga terjadi saling kejar mengejar antara pemain dari kedua benteng.
Sering kali terjadi adalah salah satu benteng kehabisan pemain karena telah dimatikan dan bentengnya dikepung oleh lawannya. Jadi, melalui permainan ini dapat melatih gerak badan pemain. Bagaimana kita bergerak lincah agar kita tidak tersentuh oleh lawan. Untuk melatih stamina, menumbuhkan kerjasama di antara teman, memupuk jiwa sportivitas yang tinggi, untuk mengakui kekalahan dan meningkatkan kesegaran jasmani.
Lomba Benteng-Bentengan mengandung makna untuk mencapai tujuan dibutuhkan kreatifitas dan kerjasama.
“Jika kamu tidak melompat, kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya terbang,” ~Guy Finley.
Berbagai perlombaan tersebut untuk mengenang perjuangan para pendahulu. Dalam konteks kekinian, perlombaan Tujuh Belasan juga dapat memberikan manfaat. Misal, bagi orang dewasa, kegiatan perlombaan dapat memperkuat kebersamaan dan guyub antar warga.
Tidak ketinggalan juga bagi anak-anak, lomba Tujuh Belasan dapat memupuk jiwa persahabatan. Serta bersepakat untuk saling bekerja sama demi meraih kemenangan.
Jiwa sprotivitas dalam perlombaan juga bisa secara langsung ditanamkan. Dengan kegiatan rutin setiap tahun diharapkan anak-anak SD Menorah semakin mencintai Negara Republik Indonesia. (*)
Penulis adalah Miss Sofia, Guru kelas 6 SD Menorah, Perum Mendut Regency J-40, Banyuwangi
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Deasy Mayasari |
Publisher | : Rizal Dani |
Sumber | : TIMES Banyuwangi |