Advertisement
Kopi TIMES

Ke Kota Jeddah, Jemaah Haji Indonesia Ziarah Kuburan Istri Nabi Adam

Pasca prosesi Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina), salah satu kegiatan sebagian jemaah haji Indonesia adalah berwisata religi. Kota atau tempat-tempat  bersejarah di Arab Saudi dikunjungi. Di antaranya, ziarah ke kuburan istri Nabi Adam, nenek moyang man

TIMES Indonesia,
Ke Kota Jeddah, Jemaah Haji Indonesia Ziarah Kuburan Istri Nabi Adam
Jemaah haji Indonesia asal Probolinggo di Kota Jeddah (FOTO: KH. Tauhidullah Badri for TIMES Indonesia)
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

PROBOLINGGO Pasca prosesi Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina), salah satu kegiatan sebagian jemaah haji Indonesia adalah berwisata religi. Kota atau tempat-tempat  bersejarah di Arab Saudi dikunjungi. Di antaranya, ziarah ke kuburan istri Nabi Adam, nenek moyang manusia di Kota Jeddah.

Konon, karena ada kuburan Siti Hawa, nenek moyang manusia inilah, kota tua tersebut dinamai Jeddah. Nama ‘Jeddah’ terambil dari Bahasa Arab, yaitu kata ‘Jaddah’ atau ‘Juddah’ yang berarti nenek.

Advertisement

Kota Jeddah ini menjadi salah satu tempat yang biasa dikunjungi oleh jemaah haji atau umrah. Selain berkunjung ke kuburan Siti Hawa, di kota ini jemaah juga menikmati sejumlah tempat wisat lain.

Ada Masjid Qishas, yang letaknya bersebelahan dengan kantor mahkamah atau pengadilan Kota Jeddah. Ia semula bernama Masjid Syeikh Ibrahim Al-Juffali, warga Jeddah kaya yang membangun masjid.

Tapi karena hukuman pancung biasa dilakukan di salah satu sudut masjid ini, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Masjid Qishah, yang berarti hukum pancung.

Hukuman ini biasanya dilakukan secara terbuka setelah Shalat Jumat. Masyarakat bisa menyaksikan secara langsung ketika seorang terpidana dipenggal lehernya sampai terpisah dari tubuh.

Meski terkesan mengerikan, keadaan di sekitar masjid tidak tampak menyeramkan.

Advertisement

Tempat lain yang juga dikunjungi, yaitu Balad atau Cornish, pusat perbelanjaan di Kota Jeddah. Di dalamnya, ada pertokoan atau pusat perbelanjaan modern. Al-Balad, banyak menyimpan sejarah masa lalu Jeddah.

Di sekitarnya, banyak bangunan bersejarah, bangunan arkeologi dan warisan budaya. Seperti peninggalan Benteng Jeddah dan jalur-jalur bersejarah: Jalur Al-Mazhlum, Jalur Syam, Jalur Yaman, dan Jalur Laut.

Di dalamnya juga terdapat sejumlah masjid bersejarah. Seperti Masjid Utsman bin Affan, Masjid Asy-Syafi'i, Masjid Al-Basya, Masjid Ukasy, Masjid al-Mi'mar, Masjid Agung Al-Hanafi, serta juga terdapat pasar-pasar bersejarah.

Dan yang tak kalah menarik, saat ini sudah banyak berdiri pertokoaan dan restoran dengan memakai nama Indonesia. Ada Toko Ali Murah, Bakso Mang Udin, Restoran Masakan Indonesia dan lain-lain.

Berkunjung ke Kota Jeddah, jemaah haji Indonesia juga melihat Laut Merah, yang berhubungan dengan Mukjizat Nabi Musa. Laut dengan panjang sekitar 1.900 kilometer dengan lebar sekitar 300 kilometer ini, menjadi saksi tenggelamnya Fr’aun dan pasukannya saat mengejar Nabi Musa.

Laut Merah hampir sama dengan laut-laut lainnya. Warnanya tampak biru dan sebagian berwarna bening. Uniknya, di bawah Laut Merah ini terdapat banyak alang-alang dan ganggang.

Pada musim panas, air di Laut Merah terlihat kemerahan akibat warna dari alang-alang, ganggang, dan ekosistem yang berada di bawahnya.

Sebutan Laut Merah atau Red Sea, memang tidak lepas dari adanya alang-alang di dalamnya. Alang-alang, dalam bahasa Inggris disebut ‘Reed.’ Akan tetapi ada kesalahan untuk menyebut 'Reed' menjadi 'Red'. Ini diantara alasan kenapa laut ini disebut Laut Merah.

Jeddah ini pada awalnya digunakan oleh suku Qudha’ah untuk beristirahat usai berburu ikan. Lambat laun akhirnya mereka jadikan sebagai perkampungan dan selanjutnya saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Pada tahun 648 Masehi, Kota Jeddah menjadi kota pelabuhan bagi Makkah dan sekitarnya, sejak diresmikan oleh Kholifah Utsman bin Affan.

Sejak itu, Kota Jeddah semakin maju dan pesat menjadi kota internasional. Terlebih dengan keberadaan Airport Internasional King Abd Aziz.

Tidak hanya wisatawan, jemaah haji pun mayoritas memasuki Makkah dan Madinah melalui Jeddah. Itulah kenapa Jeddah disebut juga sebagai kota pintu dua kota suci. Bahkan beberapa tahun ini Jeddah sudah menjadi salah satu tempat miqat jamaah haji atau umrah.

Jeddah juga kota industri dan juga kota seni. Karena banyak karya seni di sepanjang jalan Kota Jeddah. Seperti patung sepeda besar, yang oleh jemaah haji Indonesia sering disebut sepeda Nabi Adam. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhammad Iqbal
PenulisMuhammad IqbalSarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam (2009), serta Magister Pendidikan Agama Islam (2016) Universitas Nurul Jadid. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik di Probolinggo, Jawa Timur.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia