Advertisement
Kopi TIMES

Kegagalan Karena Pengkhianatan Perjuangan

Nusantara selama 3,5 abad berada dibawah kekuasaan Belanda, belum tentu karena kuatnya Belanda, namun boleh jadi karena lemahnya bangsa kita (lemah dalam arti luas). Dalam catatan sejarah, Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram pernah merencanakan untuk

TIMES Indonesia,
Kegagalan Karena Pengkhianatan Perjuangan
Penulis adalah Dr. Ir. Bambang Suwignyo, MP, IPM, Wakil Dekan P2M dan Kerjasama, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Pemerhati Sejarah dan Pendidikan bangsa, Ketua DRD (Dewan Riset Daerah) Kabupaten Kulon Progo dan Pengurus MPM Pimpina
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

YOGYAKARTA Nusantara selama 3,5 abad berada dibawah kekuasaan Belanda, belum tentu karena kuatnya Belanda, namun boleh jadi karena lemahnya bangsa kita (lemah dalam arti luas). Dalam catatan sejarah, Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram pernah merencanakan untuk menyerang Batavia (1628-1629) dan salah satu penyebab utama kegagalan adalah karena kekurangan logistik tentara.

Kekurangan logistik ini akibat gudang-gudang pangan tentara Mataram yang di tempatkan di pantura Jawa di bakar oleh Belanda, dan ironisnya yang membocorkan keberadaan lumbung pangan ini mata-mata Belanda yang konon berasal dari bangsa kita sendiri (perilaku pengkhianatan). Ada pihak-pihak yang memilih menikmati hasil jangka pendek daripada Kemerdekaan untuk bangsa dalam arti luas untuk anak cucu.

Advertisement

Hal serupa juga terjadi pada peristiwa tertangkap dan gugurnya Si Pitung (1890 an) pejuang kemerdekaan rakyat Batavia. Pitung sampai bisa ditangkap dan sampai meninggal karena bocornya kerahasiaan dirinya melalui orang pribumi yang menjadi kaki tangan Belanda. Demikian juga dengan kegagalan Diponegoro (1825-1830 M), pelemahan-pelemahan perjuangan Diponegoro bukan hanya karena melawan tentara Belanda namun juga karena dilemahkan oleh pihak-pihak dari bangsa sendiri. Sebelum Diponegoro ditangkap pada 1830 terlebih dahulu dilemahkan kekuatan pendukungnya.

Mulai dari dibujuknya Sentot Prawirodirjo salah satu penglima perang Diponegoro sampai akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Padang dan akhirnya ke Bengkulu  sampai meninggalnya. Gugurnya Ngabehi Joyokusumo dan dua putranya yang merupakan penasihat miliiter Diponegoro karena pengepungan tentara yang tidak semuanya tentara Belanda. Tertangkat dan diasingkannya penasihat spritual Diponegoro yaitu Kyai Mojo.

Seandainya mereka memahami bahwa memusuhi bangsa sendiri adalah potensi kemunduran, pelemahan dan kehancuran negeri tentu mereka akan berfikir ulang melakukannya. Seandainya mereka memahami bahwa kemerdekaan adalah nikmat yang luar biasa yang dapat dinikmati oleh seluruh bangsa sampai anak cucu, tentu kemerdekaan itu akan diupayakan apapun caranya.

Mengingatkan generasi anak bangsa dengan penguatan value sejarah perlu dilakukan dengan kuat dan terus menerus laksana iklan produk. Agar tidak ada celah bagi pihak-pihak yang memiliki niat untuk mengambil keuntungan pribadi atas kelemahan bangsa. kegagalan itu terjadi karena pengkhianatan perjuangan(*)

*) Penulis adalah Dr. Ir. Bambang Suwignyo, MP, IPM, Wakil Dekan P2M dan Kerjasama, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Pemerhati Sejarah dan Pendidikan bangsa, Ketua DRD (Dewan Riset Daerah) Kabupaten Kulon Progo dan Pengurus MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Advertisement

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia