Evolusi Guru Tiga Generasi
Evousi adalah perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan. Demikian makna evolusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika diamati dalam perjalanannya, guru di Indonesia telah berevolusi dalam tiga generasi.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Evolusi adalah perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan. Demikian makna evolusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jika diamati dalam perjalanannya, guru di Indonesia telah berevolusi dalam tiga generasi.
Pertama, Generasi Baby Boomer. Dalam catatan Wikipedia generasi ini lahir dalam rentang tahun 1946 - 1964. Generasi ini muncul akibat tingginya angka kelahiran setelah perang dunia II.
Guru dalam generasi ini sudah pensiun atau mendekati pensiun saat ini. Dalam mengajar mereka banyak berbagi pengalaman hidup kepada siswa. Oleh karenanya sebagian besar metode yang mereka gunakan di kelas adalah ceramah. Cara mengajar mereka umumnya konvensional jarang menggunakan perangkat teknologi dalam pembelajaran. Kebanyakan mereka tergantung buku paket sebagai bahan ajar.
Kedua, Generasi X. Generasi ini lahir dalam rentang tahun 1965 sampai dengan 1980. Pada tahun-tahun itu merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet.
Guru dalam generasi ini dalam pembelajaran umumnya sedikit lebih eksploratif dari generasi Baby Boomers. Mereka mulai menggunakan perangkat teknologi seperri laptop saat di kelas. Hanya umumnya mereka kurang kreatif. Biasanya laptop hanya digunakan untuk memutar video atau menyampaikan materi dalam aplikasi presentasi.
Ketiga, Generasi Y. Generasi ini lahir dalam rentang tahun 1981 sampai dengan 1994 . Generasi ini disebut juga dengan sebutan generasi milenial yang sudah mengenal teknologi seperti komputer, video games, dan smartphone juga internet.
Sebagian besar guru dalam generasi ini banyak mengekplorasi teknologi informasi dan komunikasi. Dalam mengajar mereka jarang fokus pada buku paket. Bahan ajar banyak mengadopsi dari internet. Sedangkan perangkat komunikasi seperti laptop dan gadget telah dijadikan perangkat pokok yang mendukung pembelajaran di kelas.
Semua itu wajar. Pada masa generasi Y perkembangan komunikasi dan informasi di Indonesia mulai melaju meski tidak terlalu cepat. Salah satu penandanya adalah dengan masuknya internet pada tahun 1990 an yang diprakarsai oleh para mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung).
Sekarang semua guru dalam tiga generasi ini melayani pendidikan anak bangsa dari Generasi Z dan Generasi Alpa. Generasi Z lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Sedangkan Generasi Alpa adalah yang lahir dalam rentang tahun 2010 -2024.
Beberapa Generasi Z sudah bekerja. Sebagian lagi sudah masih kuliah. Banyak juga yang masih sekolah. Sementara itu Generasi Alpha masih baru lahir dan sebagian duduk di bangku SD dan TK.
Demikianlah karakteristik guru dalam tiga generasi. Masing-masing punya ciri khas dan perbedaan. Setiap perbedaan dapat dipandang kewajaran karena mereka hidup dan dibesarkan dalam perkembangan jaman yang berbeda.
Karakteristik mereka dalam pembelajaran tidak menentukan kualitas sebagai pendidik profesional. Semua hanya pencerminan kebiasaan yang dipegaruhi jaman saat mereka dilahirkan dan berkembang.
Yang paling penting, meskipun guru tiga generasi ini berbeda, sebenarnya semua memiliki persamaan. Ada hal-hal yang konsisten dan tetap teguh dilaksanakan semua guru dalam semua generasi di semua jaman, yaitu sebagai berikut
- Guru itu mendidik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti mendidik memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak. Dalam kaitan ini mereka selalu melatih siswa dalam melaksanakan nilai-nilai karakter positif dalam pembiasaan dan keteladanan. Tujuan yang ingin dicapai menjadikan siswa manusia cerdas secara moral.
- Guru itu selalu mengajar yang artinya memberi pelajaran. Apa yang mereka berikan selalu sesuai kurikulum yang berlaku dalam setiap jaman.
- Guru itu membimbing. Dalam KBBI artinya menuntun, memberi petunjuk, mengasuh dan memberi penjelasan. Mereka selalu memberi penjelasan secara rinci jika siswa bertanya tentang materi belajar yang belum dipahaminya. Caranya dengan memberikan petunjuk dan arahan. Dengan kata lain mereka adalah orang-orang telaten, ulet dan sabar.
- Guru itu mengarahkan. Dalam KBBI artinya menujukan, memberi petunjuk, menghadapkan dan memaksudkan. Mereka selalu menunjukkan hal-hal positif yang bisa didapatkan siswa dengan mempelajari materi yang diberikan. Selain itu juga memberikan petunjuk siswa memanfaatkan ilmu yang didapatkannya dalam keseharian.
- Guru itu melatih. Dalam KBBI artinya mengajar seseorang agar terbiasa dan mampu melakukan sesuatu. Dalam hal ini mereka membiasakan siswa melakukan segala sesuatu secara mandiri dan dengan jiwa disiplin.
- Guru itu menilai. Dalam KBBI artinya memperkirakan, menghargai, dan memberi nilai (angka). Mereka selalu menghargai apapun hasil pekerjaan siswa. Salah satu bentuk penghargaannya adalah dengan memberi nilai berupa angka dan bukan sekedar memberi paraf.
- Guru itu mengevaluasi. Dalam KBBI artinya memberikan penilaian terus-menerus. Makna tersirat dari terus menerus ini adalah ketelatenan mereka dalam memantau siswa secara rutin. Jadi bukan berarti jika sudah memberikan nilai maka tugasnya selesai akan tetapi terus memantau perkembangan siswanya.
Inilah tujuh hal yang selalu konsisten dalam diri semua guru dalam semua generasi. Meski guru terus berevolusi dari jaman ke jaman, tugas utama mereka tetap tertanam dalam jiwa tidak peduli dalam generasi apa mereka lahir dan dibesarkan.
Semoga semua konsitensi ini juga menjadi amanat bagi Generasi Z dan Generasi Alpha jika nantinya mereka menjadi penerus jejak guru dalam mencerdaskan bangsa.(*)
*) Penulis, Ilham Wahyu Hidayat, Guru SMP Negeri 11 Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


