Kopi TIMES Universitas Islam Malang

“Ekspor” Bencana

Kamis, 27 Februari 2020 - 11:01 | 81.70k
Anang Sulistyono, Dosen dan Ketua Biro Konsultasi Hukum (BKBH), Universitas Islam Malang (Unisma).
Anang Sulistyono, Dosen dan Ketua Biro Konsultasi Hukum (BKBH), Universitas Islam Malang (Unisma).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Kita terkadang ikut menuduh negara tertentu sebagai penyebar atau “pengekspor” virus global, sementara kita lupa, bahwa kita pun nyaris di setiap tahun menjadi “pengekspor” bencana bagi negara tetangga.

Kita memang sering terseret dalama keasyikan menikmati atau setidaknya memilih tersenyum saat ada satu atau beberapa negara dihakimi oleh masyarakat dunia sebagai pencipta horror, sehingga mengakibatkan masyarakat mengalami reduksi keharmonisan dan kesalamatan, padahal kita termasuk yang kurang serius menangani masalah  bencana.

Advertisement

Sebagai bahan refleksi, jika asap masih mengepul dari dapur kita, barangkali bukan perasaan marah dan geram yang muncul dari diri kita, tetapi perasaan bangga dan senang, karena dengan asap mengepul dari dapur, berarti ada isteri yang sedang menunaikan tugas sucinya atau ber-jihad untuk menjaga keberlanjutan jasmani dan kehidupan segenap unsur keluarga (seperti suami dan anak).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Asap dari dapur bisa kita nilai sebagai pertanda, bahwa kehidupan domestik masih berjalan dengan normal, ada kebutuhan yang masih terpenuhi, ada amanah yang berusaha dijaga, atau ada siklus kehidupan yang tetap hangat dan stabil sesuai dengan kemampuan seseorang.

Sudah berkali-kali, beberapa negara tetangga merasa gerah dan  geram terhadap asap yang “diekspor” oleh masyarakat atau sekelompok orang dari bangsa kita. Asap yang semula berasal dari kebakaran atau pembakaran hutan akhirnya menjalar dan mencari mangsa, serta gagal dibendung, hingga memasuki kawasan negara  tetangga. Beberapa jalur penerbangan domestik pun pernah berkali-kali dibatalkan akibat kabut bercampur asap yang menutup atau mengurangi jarak pandang manusia. Bencana asap ini berhasil membuat jarak pandang manusia yang semula bisa leluasa menikmati pelangi duniawi, akhirnya tinggal sekitar tiga meter.

Pepatah yang menyebut “ada asap pasti ada api” memang benar adanya, bahwa asap yang  membuat negara tetangga kalang kabut, adalah disebabkan oleh api. Api disulut oleh seseorang atau sekelompok orang hingga membakar hutan beratus-ratus hektar, yang kemudian mengakibatkan bangunan kehidupan kemasyarakatan dan global ikut terganggu.

Pepatah itu sebenarnya dimaksudkan untuk mengingatkan manusia atua khususnya subyek kekuasaan, bahwa ekspor asap ke negara-negara tetangga tidak lebih adalah suatu praktik ekspor bencana, transfer musibah, atau pengiriman kesulitan dan kenestapaan hidup kepada sesama manusia dan bangsa atau negara lain.  

Sakit mata, sesak nafas, mempercepat eskalasi penyakit, dan lain sebagainya akibat asap merupakan bagian dari bencana yang diproduk oleh tangan-tangan jahat manusia. Mengapa tangan-tangan manusia sampai demiikian jahat sehingga tega-teganya melakukan pembakaran terhadap hutan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau mau berfikir pada diri atau bangsa sendiri, barangkali kita pun akan geram dan marah sekali jika ada negara-negara atau bangsa-bangsa lain mengekspor asap ke dalam negeri ini, apalagi di saat kondisi negeri sedang banyak diuji dengan berbagai ragam bencana alam.

Sayangnya, kita seringkali masih mudah terjebak dalam buaian kepentingan yang menyeret ambisi dan keserakahan dalam posisi tertinggi, sehingga kita lebih tergiur menciptakan “apinya” lebih dulu dan terus menerus, serta membuatnya semakin membara, dibandingkan mempertimbangkan kalau asap yang ditimbulkan dari api itu bisa menciptakan kondisi yang lebih fatalistik.

Allah SWT mengingatkan dalam firmanNya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula (Az-Zilzalah: 7-8).

Ayat tersebut menunjukkan, bahwa setiap apa yang diperbuat manusia ibarat api, yang di satu sisi, dari api ini  terdapat enerji yang bermanfaat bagi manusia, namun di sisi lain dapat mendatangkan petaka besar jika api yang disulut ini terlalu berlebihan. Kejelekan sekecil, apapun yang diperbuat manusia, termasuk melakukan “pembakaran” hutan adalah bagian dari  warna sejarah kehidupannya di muka bumi, yang tetap menyulitkan atau menghadirkan penyakit bagi dirinya maupun sesamanya.

Asap yang menjatuhkan citra masyarakat Indonesia adalah wujud lain dari  perbuatan kita, yang telah terjerumus dalam kebiadaban terhadap kekayaan hutan. Pohon-pohon yang semestinya harus kita lindungi dan kita manfaatkan secara normal, telah kita perlakukan secara zalim, seperti kita tebang habis-habisan atau kita bakar.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kita telah menjatuhkan pilihan sebagai api yang menjalar kemana-mana yang sebenarnya membakar diri sendiri, karena sumberdaya yang seharusnya kita perlakukan secara manusiawi dan menjadi aset masa depan, justru kita jadikan semata sebagai pemuas keserakahan. Disinilah negara, senyampang sekarnag masih musim hujaan untuk menciptakan “kuda-kuda” supaya nanti saat musim kemarau tiba, tidak dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk menjatuhkan pilihan mengekspor bencana asap lagi ke negara tetangga kita.

*)Penulis: Anang Sulistyono, Dosen dan Ketua Biro Konsultasi Hukum (BKBH), Universitas Islam Malang (Unisma).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES