Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Kita Lebih Kuat Dari Covid-19

Selasa, 10 Maret 2020 - 14:28 | 122.43k
Ana Rokhmatussa’diyah, Doktor Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Unisma, Penulis Buku dan Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang.
Ana Rokhmatussa’diyah, Doktor Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Unisma, Penulis Buku dan Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Para pembelajaran Islam sangatlah paham, bahwa mu’jizat Nabi Muhammad SAW berupa Al-Quran yang  di dalamnya diantaranya berisi tentang kewajiban umat Islam untuk mengambil I’tibar dari berbagai peristiwa yang terjadi seperti serbuan virus Corona (Covid-19) yang intinya, bahwa umat yang hidup dengan petunjuk Al-Qur’an ini berkewajiban mengemas gaya hidupnya di jalan kebenaran dan bukan di jalur pembangkangan.

Jika hidup manusia itu  ingin banyak dapat berkah dan bukan musibah seperti bisa diauhkan dari banyak ancaman penyakit, maka perilaku berpola kemaksiatan, kekejian, kemusrikan, dan pelanggaran doktrin agama harus dihindari sejauh-jauhnya.

Advertisement

Kondisi paradoksal yang sayangnya tering terjadi, saat diuji oleh datangnya suatu musibah seperti virus Covid-19, saat itu pula manusia baru terlihat sadar tentang urgensi agama dan kewajaiban pengabdian pada Tuhan, namun tatkala bencana Covid-19 itu sudah berlalu lama atau kadar penyembuhannya kecil, manusia bisa saja kembali menabur banyak dosa dan kejahatan di muka bumi.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Ironisnya lagi, kejahatan yang ditabur  atau dilakukan oleh manusia bukan hanya membahayakan dirinya, tetapi juga membahayakan makhluk hidup lainnya. Manusia terjerumus melakukan kejahatan terhadap binatang, tumbuh-tumbuhan, laut, dan makhluk hidup lainnya. Binatang yang seharusnya haram dikonsumsi, tetap saja dikonsumsi demi memenuhi selera biologis dan gaya hidup.

Kejahatan manusia terhadap bumi dan ekologi misalnya telah mencapai stadium yang membahayakan dan potensial menghancurkan baik terhadap dirinya, masa depan peradaban, maupun terhadap keselestarian bumi dan ekologi itu sendiri.

Umumnya manusia itu gampang lupa kepada agama dan Tuhannya ketika kepentingan duniawi sedang dipuja-puja dan dituhankannya. Supaya manusia tidak berlarut-larut  dalam lupa dan pengabaian terhadap ajaran agama, Tuhan lantas memberikan kritiknya dalam bentuk musibah, supaya  manusia tidak lupa daratan dan kembali bergabung ke “rumah Tuhan” (laila, 2004).

Manusia ini faktanya sering atau gampang melupakan dan mengabaikan ajaran agama dan Tuhannya. Meski berkali-kali Tuhan melontarkan kritiknya secara radikal dalam bentuk bencana alam, manusia sepertinya tak pernah mengenal jera, tak sungguh-sungguh bertobat atas perbuatan jahat, zalim, dan munkar yang  dilakukannya.

Saat ini misalnya, kita memang masih atau sedang shok dengan ujian Covid-19, dan dalam diri kita saling bertanya, kenapa Tuhan memberikan ujian  Covid-19 yang tergolong demikian besar kepada kita? Bukankah Tuhan tak akan memberikan ujian yang kadarnya melebihi kemampuan kita?

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Tentulah jika pertanyaan yang terakhir itu yang diajukan sebagai gugatan terhadap diri kita, kita bisa berfikir arif dan bening, bahwa Tuhan menimpakan Covid-19 kepada kita karena Tuhan Maha Tahu kalau kita cukup punya kekuatan untuk menghadapinya. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam diri kita masih tersedia potensi kekuatan besar untuk bisa keluar dari belitan musibah yang menimpa ini,

Selayaknya kita harus menjadi makhluk Tuhan dan penguasa di muka bumi (khalifah fil-ardl) yang betul-betul bisa memimpin di bumi ini, seperti mengelola, mengasihi atau menyelamatkan nasib bumi sebagaimana kita menyelamatkan dan mengasihi diri kita sendiri.

Kalau kita tak ingin ingin menjalani hidup dengan berbagai bentuk virus seperti halnya Covid 19, maka kita harus menghormati dan “memanusiawikan” bumi, laut, binatang, kekayaan hutan, dan lain sebagainya. Kita berwajiban menyayangi makhluk Tuhan lainnya, dan bukan malah menghancurkannya.

Pemikir Islam kenamaan Ibnu Khaldun “tiada masyarakat/manusia yang tak berubah”. Ada perubahan yang mempunyai akibat menguntungkan atau membawa pengaruh positip, tapi ada juga perubahan yang membawa pengaruh negatip, yang membawa pada kemunduran (regresip).

Banyak terjadi perubahan sosial yang menjadikan manusia tenggelam dalam persoalan-persoalan yang dihadapinya dan tak dapat mengambil suatu sikap yang tepat terhadap keadaan baru. Covid 19 adalah bagian dari ”ongkos” perubahanatau kedaan baru,  kehidupan manusia, sehingga sebagai konsekuensinya dari perubahan ini, manusia  harus bisa menunjukkan kalau dirinyalah yang ,lebih kuat.

Dalam Islam, manusia bisa lebih kuat bukan hanya dengan melawan kecenderungan konsumsinya pada jenis makanan yang diharamkan oleh Kitab Suci (Al-Quran), tetapi manusia juga diberi ruang berkomunikasi lebih serius padaNya sebagai bukti intensitas dalam ber-habluminallah seperti memanjatkan banyak doa, diantaranya bagi yang mampu untuk berziarah ke tanah suci, yang memang dalam ranah teologis merupakan ke bagian dari ”pusat kekuasaan Allah” (Baitullah). Disinilah seharusnya pemerintah Arab Saudi justru menyadari, bahwa ”Baitullah” lebih kuat dibandingkan dengan Covid-19.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Ana Rokhmatussa’diyah, Doktor Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Unisma, Penulis Buku dan Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang

*)Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Adhitya Hendra

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES