Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Ada Corona, Jangan Merana

Sabtu, 28 Maret 2020 - 11:11 | 55.54k
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis Buku Hukum dan Agama.
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis Buku Hukum dan Agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANGSudah menjadi kewajiban kita untuk maju terus
seakan-akan batas kemampuan kita tidak ada.

(Pierre Teilhard de Chardin)

Advertisement

Pernyataan Pierre Teilhard de Chardin itu mengingatkan kita, bahwa kita ini bisa maju atau mencapai prestasi hebat dalam hidup ini. Jika kita tidak sampai maju, maka itu kesalahan kita, bukan orang atau bangsa dan negara lain.

Secara general, kita bisa maju, salah satunya ditentukan oleh besaran atau ragam tantangan yang bisa kita hadapi. Jika tantangan ini bisa kita jawab atau selesaikan, ini tandanya kita bisa menunjukkan diri dalam prestasi sebagai individu, keluarga, kelompok, atau bangsa dan negara.

Saat bangsa Indonesia dan masyarakat dunia sedang diuji dengan virus Corona (Covid-19), maka ujian ini juga layak dibaca atau ditempatkan sebagai bagian dari ”virus” yang mengingatkan, bahwa kita ini dkaruniai hidup oleh Allah SWT untuk membuktikan kalau gelar sebagai ”khalifah fil ardl” (pemimpin di bumi) memang pantas, yakni kita harus menunjukkan bukan hanya bisa keluar dari serbuan virus Corona, tetapi juga tetap mampu memainkan pran sebagai sosok yang bisa melahirkan banyak kreasi yang membuat dunia ini menarik dihuni (dinikmati) dalam segala aspeknya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Jika seperti itu, tandanya kita bukan hanya bisa menaikkan status kita dari negara ”lembek” menjadi negara kuat, tetapi juga akan membuat kita mampu menghadapi apapun tantangan, termasuk virus Corona yang membentang. Kita akan bisa melewati (mengalahkan) tantangan demikian, jika kita memang terus berusaha dan menunjukkan progresifitas kapabilitas sebagai bangsa atau ”utusan Tuhan” yang tidak mau, apalagi menerima kalah.

Dalam raha itulah, sagat tidak logis jika kita sampai merana akibat Corona. Ada beragam dampak yang membuat derita karena Corona adalah wajar, tetapi menunjukkan sikap sebagai bangsa yang terus merana seolah sudah mengalami ketidakberdayaan berkelanjutan adalah kekeliruan.  

Tanda kalau kita tidak menyerah, diantaranya selalu giat dalam menunjukkan kinerja sebagai subye bangsa, baik yang berada di lini rakyat biasa maupun khususnya yang sedang berada di zoa elitisme kekuasaan. Bagi yang beradadi zona kekuasaan ini, segala modal kekuasaan, dapat digunakan secara benar demi mengentas (menjadi solusi) atas dampak yang menimpa rakyat.

Saat negara masih saja belum beranjak statusnya dari negara ”lembek” (meminjam istilah atau label dari Sosiolog Gunnar Myrdal), apalagi terasanya atau terbacaya pada sat menghadapi ujian virus Corona, maka ini mengindikasikan kalau masyarakatnya atau kita memang belum berkeinginan kuat atau belum benar-benar menunjukkan nyali secara maksimal untuk menjadikan bangsa atau negara ini  menjadi bangsa atau negara yang maju.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kita bisa menjadi sekumpulan manusia-manusia, dalam hal ini sebagai kesatuan subyek bangsa  yang berhasil, mencapai prestasi hebat, atau menikmati kebernegaraan yang sejahtera secara ekonomi dan di aspek kesehatan adalah  sesuai dengan tingkat usaha-usaha yang bersifat serius yang kita tunjukkan. Kalau kita tidak menunjukkan keseriusan misalnya dalam ”mengurus” masalah bangsa, memang dampak rakyat merana bisa terjadi dan bahkan boleh jadi berkepanjangan.

Sungguh lucu jika  masih ada sekumpulan kaum elitis yang hanya pasip atau tidak banyak menunjukka mental kinerja utama atau seriusnya di saat bangsa menghadapi ujian virus Corona. Atas hal ini, logis jika muncul gugatan, apa sebenarnya yang sedang dicari oleh elitis ini dalam relasinya dengan amanat rakyat dan realitas problem bangsa?

Kemajuan dan kesejahteraan hanya bisa diraih dengan kerja keras atau berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan. Tidak ada rakyat yang akan atau ditimpa kondisi merana sepanjang elitismenya memang sungguh-sungguh mengerahkan segala kemauan dan kemampuannya untuk menjaga kemaslahatan rakyat.

Mereka itu bisa menjadi lokomotif perubahan dalam kehidupannya, baik di ranah domestik atau di publiknya jika tidak memilih jalur eksklusifitas gaya hidup. Di negara-negara manapun yang rakyatnya bisa kuat menghadapi ujian adalah ditentukan oleh teladan yang diberikan oleh para pemimpinnya (elitisme kekuasaan) yang jujur dalam menjalankan amanat dan selalu aktif berada di barisan kepentingan rakyat. Rakyat tidak sering dibiarkan berjuang melawan kesulitannya sendiri, melainkan terus diberikan pemecahan masalah secara lebih mudah.

Kondisi merana seharusnya  tidak perlu ditemukan akibat Corona, jika saja semua subyek bangsa, khususnya di kalangan elitisnya benar-benar sangat serius membuktikan kalau dirinya ”pengabdi” totalitas kepentingan rakyat secara profesional.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis Buku Hukum dan Agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES