Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Penerapan Konsep Pendidikan Multikultural di Lembaga Pendidikan

Rabu, 08 April 2020 - 03:40 | 519.99k
Kukuh Santoso, S.Pd.I, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA)
Kukuh Santoso, S.Pd.I, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA)
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan kederajatan dalam perbedaan kebudayaan-kebudayaan. Dari dasar penegertian ini dapat dikatakan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menekankan kesederajatan dalam perbedaan-perbedaan kebudayaan atau latar belakang siswa.

Pendidikan multikultural adalah salah satu pendekatan yang menekankan terhadap pengenalan siswa dan menghargai budaya yang berbeda dari budaya asal mereka.Dalam cakupan yang lebih luas, dalam sistem pendidikan nasional merupakan salah satu solusi bagi keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama.

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Menurut Rodolfo Stavenhagen, pendidikan multikultural harus didiasarkan pada tujuan untuk menciptakan stabilitas dan itegrasi nasional. Untuk mewujudkan pendidikan multikultural membutuhkan telaah ulang terhadap berbagai konsep pendidikan yang meliputi tujuan pendidikan, muatan kurikulum, metode pembelajaran dan berbagai konsep tentang lembaga pendidikan formal. Oleh karena itu terdapat beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan dalam melaksanakan pendidikan multikultural :

Menekankan Kualitas Proses Daripada Hasil; Terkait dengan upaya meningkatkan kualitas proses belajar, salah satu caranya adalah dengan tidak membebankan guru terhadap setoran target materi dalam waktu yang telah ditentukan tetapi juga dengan memberikan kebebasan bagi seorang guru untuk menentukan model pembelajaran di kelas agar guru mengetahui cara mana yang paling efektif dalam proses pembelajaran, sehingga dengan upaya ini, kualitas proses belajar siswa menjadi lebih efektif.

 Murid bukan sekedar obyek pendidikan tetapi subyek pendidikan; Murid bukan hanya sebagai peserta didik tetapi juga sebagai subyek pendidikan dimana murid diberikan kesempatan untuk menyampaikan beberapa keinginan, terkait dengan proses pendidikan yang dijalani, sehingga terjalin hubungan yang baik antara guru dan siswa yang menciptakan pembelajaran yang baik dan menyenangkan.

Mengahargai Perbedaan

Menghargai perbedaan adalah salah satu sikap yang harus dikembangkan dalam rangka mewujudkan pendidikan multikultural. Latar belakang sosial ekonomi yang berbeda merupakan aset yang sangat berharga dalam dunia pendidikan, bertujuan agar siswa dapat saling menghargai dan biasa berbeda.

Special Treatment for Special Student

Sekolah mempunyai kewajiban untuk memberikan penghargaan atas setiap prestasi yang mampu diraih oleh para siswa.Hal ini dimaksudkan untuk menodrong semangat para siswa agar berkembang sesuai dengan potensi yang siswa miliki.Sekolah tidak mempunyai hak untuk memaksa anak berkembang mengikuti program-program yang tidak dimaui anak, melainkan memberikan pelayanan terhadap potensi-potensi yang mereka miliki.Karena dengan potensi tersebut anak dapat hidup dengan layak pada mendatang.

Menerapkan Kurikulum pendidikan yang tepat

Desain kurikulum yang digunakan dalam kegiatan proses belajar mengajar hendaknya disesuaikan dengan arah pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh sekolah dalam mendesain kurikulum adalah melibatkan masyarakat sebagai salah satu sumber belajar untuk memberikan berbagai masukan dalam penyusunan kurikulum terutama beberapa kurikulum yang berhubungan dengan muatan lokal sehingga diharapkan dengan kurikulum ini dapat mencapai sasaran dan tujuan yang diinginkan.

Lebih lanjut, pendidikan Islam di sekolah pada dasarnya berusaha untuk bagaimana membina sikap dan perilaku keberagamaan peserta didik itu sendiri, yang tidak hanya difokuskan pada aspek pemahaman (tentang agama) semata, tetapi bagaimana usaha pendidikan agama (Islam) mampu menanamkan perilaku khalq dan khuluqnya, dengan mengetahui ajaran agama (knowing), kemudian mempraktekkan tentang apa yang diketahuinya (doing), dan mampu beragama atau menjalani hidup atas dasar ajaran dan nilai-nilai agama (being).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Menurut A. Malik Fadjar pendidikan Islam perlu untuk dikembangkan lagi ke arah : (1) pendidikan Islam Multikulturalis, yakni pendidikan Islam dikemas dalam watak multicultural, ramah menyapa pebedaan budaya, social dan agama; (2) mempertegas misi penyempurnaan akhlak (liutammima makarimalakhlak); dan (3) spiritual watak kebangsaan, termasuk spiritualisasi berbagai aturan hidup untuk membangun bangsa yang beradab.

***

*)Penulis: Kukuh Santoso, S.Pd.I, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES