Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Bukan Sekedar Intellectual Exercise

Selasa, 28 April 2020 - 08:40 | 111.26k
Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo. 
Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo. 
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Bulan Ramadhan adalah bulan diwajibkannya orang beriman berpuasa. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk, pembeda antara yang haq dan yang batil (furqon). Puasa melatih orang beriman mengendalikan diri, sementara Al Quran adalah firman Allah sebagai mujizat Nabi Muhammad SAW yang berfungsi sebagai petunjuk. Inilah yang menyebabkan bulan ini penuh dengan keberkahan, penuh ampunan, dan penuh kebaikan.

Berbagai kegiatan keagamaan meningkat dibulan ini. Kepedulian kepada sesama tumbuh. Kajian dan pengajian berlangsung dimana-mana. Ada kajian menjelang berbuka, kajian menjelang sholat taraweh, kajian bada sholat subuh. Karena covid-19 saat ini semuanya dilangsungkan dalam bentuk daring atau online. Intinya ada peningkatan intellectual exercise (meminjam istilah Prof. Nuh) pada bulan ini. Akibatnya diri kita seakan-akan bertambah pinter. Namun jauh dari itu harus ada niat yang ikhlas, hati yang bening, dan pikiran yang jernih. Inilah indah dan manisnya bulan Ramadhan.

Advertisement

Banyaknya media untuk menambah ketebalan keimanan selama ramadhan ini harus dipahami bukan hanya sebagai bentuk pengetahuan semata, melainkan harus ada hikmah dan keberkahannya, sehingga apa yang kita ketahui tentang ajaran agama yang terkandung dari Al Quran itu dapat kita amalkan dengan sebenarnya. Lantas apa yang harus dilakukan.

Sebagai bulan diturunkannya Al Quran maka bulan ini adalah bulan yang tepat untuk meningkatkan kualitas keilmuan kita sehingga pemahaman itu kemudian dapat kita amalkan dan rasakan. Seperti disampakain didalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Pertama, seperti yang disampaikan dimuka, harus ada niat yang ikhlas. Mencari ilmu harus diniatin semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Kedua adalah niat untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri ini. Jika ini yang kita lakukan maka kegiatan kajian atau pengajian adalah bernilai ibadah. Mencari ilmu nilainya sangat tinggi disisi Allah SWT. Bahkan mereka yang mencari kebenaran dengan mencari ilmu sedang berada di jalan Allah.

Kedua, harus dengan pikiran yang jernih. Tidak boleh ada pikiran yang kotor dalam mencari ilmu Allah. Kita harus cerdas dalam menuntut ilmu yang ada. Seperti diketahui ada 6 syarat dalam menuntut ilmu salah satunya adalah kecerdasan.

Ketiga, perlunya hati yang bening. Hati yang bening adalah hati yang jauh dari berbagai penyakit hati. Seorang pencari ilmu harus jauh dari sifat sombong, merasa lebih baik dari orang lain, iri, dengki, dan riya'. Untuk itu melatih diri agar hati senantiasa hidup dengan dzikrullah, mengingat Allah SWT.

Inilah kira-kira yang harus kita perhatikan selama bulan Ramadhan ini dalam menghidupkan hari-hari kita selama Ramadhan. Semoga intellectual exercise kita selama ramadhan ini mengantarkan kita pada amal-amal yang soleh, sehingga menuju pada level muttaqien, yakni hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur.

***

*)Oleh: Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES