Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Puasa Politik

Selasa, 28 April 2020 - 13:36 | 67.80k
Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pasjasarjana Unisma dan Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pasjasarjana Unisma dan Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Bulan ramadhan atau bulan puasa merupakan bulan yang dinobatkan sebagai bulan terbaik untuk menyucikan diri dari hal-hal yang bersifat kedunian yang “kotor” dan “busuk”. Bulan ramadhan menjadi bulan dimana urusan ukhrawi diprioritaskan dan urusan duniawi dikesampingkan. Kewajiban untuk tidak makan dan tidak minum dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari merupakan salah satu bentuk kewajiban yang seakan menjelaskan bahwa manusia terlalu sibuk dengan urusan perut dalam menjalani kehidupan sehingga perlu diingatkan melalui kewajiban untuk tidak makan dan minum.

Salah satu yang membuat manusia lupa bahkan rakus dalam urusan duniawi atau perut adalah soal kekuasaan. Hampir seluruh manusia terlena denngan kekuasaan. Kekuasaan menjadi objek yang diburu tanpa mempedulikan caranya. Jangankan cara yang halal, yang harampun dilakukan. Dengan kekuasaan maka seakan akan hakikat hidup didunia berhasil diraih.

Dalam memperoleh kekuasaan banyak cara yang ditempuh terutama melalui jalur politik. Diakui atau tidak, jalur politik memang menjadi jalur yang paling cepat dalam menghantarkan seseorang menduduki kekuasaan. Jalur politik disini dapat berupa tiga cara. Satu, bergabung dengan organisasi politik. Kedua, bermain mata dengan para politisi dan ketiga membangun “kelompok politik”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Cara yang pertama atau masuk kedalam organisasi politik yang resmi ialah dimana seseorang masuk ke dunia politik melalui organisasi politik seperti partai politik. Dari jalur partai politik inilah kemudian seseorang berproses untuk mencapai hasratnya untuk memperoleh kekuasaan. Pilihan melalui partai politik bukanlah pilihan yang salah. Sebab, partai politik merupakan organisasi yang dapat dengan cepat menghantarkan seseorang meraih kekuasaan. Lihat saja, bagaimana seorang Presiden nernama Jokowi yang dapat menjadi Wali Kota, Gubernur dan Presiden karena menjadi kader dari partai politik bernama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Atau lihat bagaimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dapat meraih puncak kekuasaaan di Republik Indonesia setelah mendirikan Partai Demokrat. Atau Megawati Soerkanoputri yang menjadi Presiden karena menjadi ketua umum PDI-P atau Abudrrahman Wahid (Gus Dur) yang menjadi Presiden setelah mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Banyak pula tokoh yang dapat menduduki posisi strategis dipemerintahan karena tekun berproses di partai politik. Ada Khanif Dhakiri, Imam Nahrawi, Abdul Halim Iskandar, Jhony G. Plate dan lain-lain. Bahkan dengan berproses di partai politik seseorang dapat mendudki kursi kekuasaan yang tidak sesuai dengan bidangnya. Hal ini terjadi karena dalam politik, power sharing atau bagi-bagi kekuasaan lebih utama daripada kompetensi. Lihat saja, bagaimana posisi menteri yang diberikan kepada kader partai politik tertentu tanpa linearitas kompetensi kader Parpol tersebut dengan jabatan yang diperolehnya.

Kedua, seseorang dapat meraih kejayaan dalam dunia politik juga tidak harus melalui partai politik melainkan bermain mata dengan partai politik. Bermain mata dengan partai politik adalah dimana seseorang yang berambisi menduduki kursi kekuasaan melobi atau mendekati partai politik untuk menndapatkan rekomendasi dari Parpol bersangkutan. Dalam konteks ini, dapat diambil contoh dari beberapa tokoh masyarakat atau pengusaha yang mendekati partai politik demi memperoleh tiket menuju pemilihan kepala daerah baik tingkat Kabupaten/Kota atau Provinsi.  

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Ketiga, tidak masuk partai politik atau mendekati partai politik melainkan membangun semacam kelompok dengan tujuan politik baik dalam rangka menghantarkan seseorang kepuncak kekuasaan atau menghantarkan diri memperoleh kekuasaan. Biasannya, kelompk politik ini merupakan gabungan dari tokoh-tokoh LSM, pengusaha dan lain-lain. Anehnya, kelompok-kelompok semacam ini mampu memainkan mesin politik secara dinamis sehingga dapat mempengaruhi orang lain masuk dalam propanganda politik mereka termasuk partai politik sekalipun.

Diakui atau tidak, proses memperoleh kekuasaan melalui jalur politik selalu diwarnai oleh berbagai intrik terhadap lawan. Intrik politik biasanya tidak mengenal siapa, kapan dan dimana. Dalam intrik politik maka yang lebih dominan adalah bagaimana meningkatkan bargaining orang yang didukung dan menjahtuhkan lawan sehingga kekuasaan dapat diraih. Karena misinya adalah kemenangan maka memfitnah lawan, mencaci lawan politik menjadi sesuatu yang sah-sah saja.

Namun, di bulan ramadhan ini, semua orang seharusnya melakukan puasa politik atau tidak hanya puasa dari lapar dan haus belaka. Puasa politik adalah dimana para politisi menahan diri untuk menjaga dan mengendalikan segala intrik politiknya selama bulan ramadhan. Para politisi tidak melakukan manuver berlebih sebagai serangan politiknya. Puasa politik juga meliputi bagaimana tidak memanfaatkan bulan ramadhan untuk dibawa keranah politis.    

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pasjasarjana Unisma dan Dosen Luar Biasa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES