Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Merespon Bala: Musibah atau Anugrah

Kamis, 30 April 2020 - 10:20 | 219.28k
Drs. H. Anwar Sa’dullah, M.Pd.I, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
Drs. H. Anwar Sa’dullah, M.Pd.I, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Sejak pertama kali Presiden RI mengumumkan 2 warga Indonesia positif virus corona (covid-19) pada tanggal 2 Maret 2020, pasien covid terus meningkat secara drastis. Tercatat sampai hari ini (28/4/2020), terdapat 9.096 orang dinyatakan posistif covid-19 di Indonesia.

Secara global, terdapat 213 negara yang diserang oleh virus ini dengan jumlah 2.810.325 orang dinyatakan terjangkit dan 193.825 orang dinyatakan telah meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, dari 9.096 yang dinyatakan posistif , terdapat 1.151 dinyatakan sembuh dan 765 telah meninggal dunia.

Advertisement

Dengan begitu masifnya penyebaran covid-19  tentunya perlu penyikapan yang bijaksana. Apakah memang benar ini murni musibah atau justru ada hikmah dibalik ini semua dan akhirnya justru menjadi anugrah tanpa disadari.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dalam kajian literature bahasa arab, musibah covid-19 ini bisa dikategorikan sebagai bala’.  Kata bala' arti aslinya membuat pakaian hal ini mengisyaratkan bahwa bala' adalah bentuk ujian Allah yang berfungsi untuk membentuk atau membuat kepribadian manusia. Kata bala‘ juga berasal dari kata “baliya” yang secara bahasa mempunyai makna ujian (al-ikhtibar), yang bisa dalam bentuk kebaikan maupun keburukan. Al-bala’ dalam Al-Qur’an merupakan cobaan Allah swt. kepada manusia yang terjadi di dunia, karena ia diciptakan dengan sesuatu yang urgent di balik penciptaannya. Semua bentuknya merupakan cobaan seperti telingga, penglihatan sampai akalnya merupakan cobaan dari Allah, serta cobaan lainnya di dunia ini baik dalam bentuk sebuah kebaikan atau kemakmuran maupun keburukan atau bencana.

Secara garis besar bala’ terbagi menjadi 2 kategori sebagaimana tertuang dalam Al-Quran. Bala’ bisa berupa keburukan disebut dengan mihnah dan bisa berupa kebaikan yang disebut dengan minhah.

Adapun contoh bala' dalam konotasi yang buruk adalah apa yang dilakukan oleh rezim Fir’aun yang membunuh anak laki-laki. Sedangkan contoh bala' dalam konotasi yang positif atau anugerah adalah apa yang diperoleh oleh seorang cendekiawan pada zaman Nabi Sulaiman yang mampu untuk memindahkan tahta ratu Bilqis dengan teknologi semacam teleportasi, lalu dia menyatakan “hadza Min Fadhli Rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur” (hal ini merupakan karunia dari Tuhan untuk memberikan bala’ kepadaku, apakah aku termasuk orang yang bersyukur ataukah aku termasuk orang yang kufur). Dari penjelasan tersebut bisa ditarik difahami bahwa baik musibah maupun anugrah sama-sama masuk kategori bala'.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Apabila dikaitkan dengan kondisi sekarang, tentunya peristiwa covid-19 ini perlu direspon dengan respon yang terbaik. Apabila berupa musibah responnya adalah bersabar sedangkan kalau dalam konteks anugerah responnya adalah bersyukur karena covid-19 merupakan kategori bala’. Akan tetapi dalam menyikapinya seringkali manusia terjebak melihat tampilan lahiriyahnya saja. Hal ini bisa dilihat dalam contoh yang salah dalam  memandang bahwa kekayaan merupakan suatu bentuk bala' yang baik sedangkan kemiskinan dipandang sebagai bala' yang buruk.

Dalam Al Quran dikatakan bahwa seringkali manusia menduga kalau rezekinya lancar berarti sedang disayang Tuhan, namun kalau rezekinya tersendat menganggapnya sebagai bentuk penghinaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tentunya tidak demikian, karena dalam konteks bala’ yang terpenting adalah responnya bukan pada bentuk ujiannya. Jika diilustrasikan bahwa ujian itu sama saja, yang terpenting adalah responnya, positif atau negatif. Bisa jadi ada siswa yang mengikuti ujian lalu dia menyontek dan nilainya baik di sisi lain ada siswa yang mengerjakan ujian secara jujur kemudian nilainya jelek. Dalam konteks ini yang dinilai orang baik adalah siswa yang mengerjakan soal dengan jujur sekalipun nilai lahiriyahnya jelek sedangkan orang yang nilainya  baik dia dianggap buruk dikarenakan dia mengerjakannya secara tidak jujur.

 Dari contoh di atas dapat dismpulkan bahwa seorang jutawan yang bekerja dengan cara haram tentu statusnya lebih rendah dibandingkan orang miskin yang bekerja dengan halal. Oleh karena itu, bala’ merupakan suatu bentuk ujian secara umum baik dalam konteks musibah maupun anugerah yang terpenting kita tidak terjebak melihat tampilan lahiriyah melainkan fokus terhadap bagaimana meresponya. Kalau mendapatkan musibah maka harus bersabar, kalau mendapatkan anugerah maka harus bersyukur. Inilah mengapa bala’ merupakan titik temu antara sabar dengan bersyukur. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Drs. H. Anwar Sa’dullah, M.Pd.I, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-3 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES