Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Puasa Rindu

Jumat, 01 Mei 2020 - 10:06 | 117.39k
Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pascasarjana Unisma dan Penulis Buku Tangis Dunia Kedokteran.
Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pascasarjana Unisma dan Penulis Buku Tangis Dunia Kedokteran.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Bulan ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan ramadhan yang telah menambah satu menu lagi untuk di tahan. Apabila bulan ramadhan biasanya diisi dari menahan lapar dan haus serta nafsu maka pada ramadhan kali ini ada satu tambahan puasa atau sesuatu yang harus ditahan yakni rindu. Rindu menjadi sesuatu yang “wajib” untuk ditahan oleh semua orang termasuk ummat muslim yang sedang berpuasa. Rindu menjadi menu baru dalam ramadhan tahun ini karena berkaitan dengan kondisi dan situasi yang masih dibelenggu corona.

Rindu menjadi puasa yang tidak jelas kapan waktunya untuk berbuka. Kalau puasa dari lapar dan haus dimulai dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari maka rindu tidak jelas kapan dapat diakhiri atau kapan dapat berbuka. Rindu merupakan suatu rasa dimana sangat ingin dan berharap terhadap sesuatu seperti pertemuan. Puasa rindu terpaksa harus dijalani dalam ramadhan tahun ini karena apabila kita tidak mau melaksanakan ibadah puasa rindu maka akan memperparah kondisi penyebaran virus corona. Diantara beberapa jenis puasa rindu di bulan ramadhan ini adalah; Pertama, rindu rutinitas.

Advertisement

Setiap orang yang tidak dapat menjalankan rutinitasnya seperti keadaan normal tentu sekarang sedang merindukan rutinitas yang biasa dilakukannya tersebut. Suasana dirumah saja dan tidak dapat menjalankan rutinitas seperti pekerjaan tentu membuat seseorang berada dalam kondisi yang bosan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kedua, rindu belajar. Aktivitas belajar khususnya dalam pendidikan formal seperti di sekolah dan pendidikan tinggi akan menjadi suasana yang sangat dirindukan. Bagi anak-anak di usia Sekolak Dasar sampai Menengah tentu sangat merindukan suasanan sekolah. Dimana, di sekolah mereka dapat berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Bercerita ngalor ngidul dan lain-lain. Di Perguruan Tinggi, Dosen sangat merindukan suasana kampus, suasana akademik dimana tiap dosen dapat berbagi ide, riset bersama dengan koleganya sesama Dosen.

Ketiga, keluarga. Rindu terhadap keluarga merupakan kerinduan yang lumrah. Kerinduan ini dapat terjadi pada hampir semua orang yang tidak berada dalam satu dekapan wilayah dengan keluarganya. Seorang anak yang tinggal terpisah dengan orangtuanya karena bekerja di luar kota, seorang suami yang terpisah dengan istrinya karena dinas di luar daerah dan lain-lain. Kerinduan terhadap keluarga yang biasa di tebus tiap minggu atau tiap bulan maka kini harus ditahan. Sebab, telah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pemberlakuan PSBB telah menyebabkan orang tidak leluasa mengunjungi anggota keluarganya yang berada di daerah berbeda.

Kelima, rindu kekasih. Rindu kekasih merupakan jenis rindu yang paling berat untuk ditahan. Rindu kekasih menjadi jenis kerinduan yang paling berat di tahan karena dalam rindu terhadap kekasih atau tambatan hati ini merupakan kerinduan yang didasari oleh “campuran” rasa yang membara dalam tiap diri sang perindu. Sedang dimana, sedang apa, sedang dengan siapa. Begitulah gambaran kerinduan yang tergambar dalam hati dan otak seseorang yang sedang merindukan sang pujaan hati. Kalaupun menurut Gus Miftah, cinta yang indah atau kerinduan pada diri kaum milenial sudah tidak ada lagi. Sebab, kerinduan atau cinta yang indah bagi kaum milenial telah dibunuh oleh millennials killing everything. Yakni, dimana generasi milenial sudah tidak lagi merasakan cinta yang membeku, cinta yang menyakitkan karena generasi milenial terlalu mudah berkomunikasi dengan kekasihnya. Semisal saat rindu maka cukup kirim pesan dan foto serta kalimat “kangen yank”.

Namun yang perlu difahami, bahwa kerinduan seseorang pada kekasih tercintanya merupakan kerinduan yang tidak mungkin terurai dan terasa tanpa adanya pertemuan secara langsung. Orang yang sedang kasmaran maka kebersamaan secara hati, fisik, pikiran dalam satu tempat dan satu waktu adalah sebuah keniscayaan. Menahan pertemuan karena corona menjadi puasa yang jauh lebih dasyat dari sekedar menahan lapar dan haus. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pascasarjana Unisma dan Penulis Buku Tangis Dunia Kedokteran.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-3 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES