Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Ngaji Matematika (3): Setiap Individu Cerdas Matematik

Jumat, 01 Mei 2020 - 14:29 | 59.25k
Abdul Halim Fathani, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.
Abdul Halim Fathani, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANGKITA sebagai manusia ini merupakan makhluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna. Manusia memiliki derajat yang paling tinggi jika dibandingkan dengan makhluk Allah swt yang lain. Bahkan, Allah swt memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud (sujud tahiyyah) kepada Adam as. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 34: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Yang membuktikan bahwa manusia adalah makhluk Allah swt yang terbaik, telah ditegaskan dalam firman Allah swt, Surat at-Tiin ayat 4: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Kata kuncinya: bentuk yang terbaik, yang sangat sempurna. Baik secara jasadiyah maupun ruhaniyah. Manusia diciptakan dengan struktur tubuh yang sempurna yang dilengkapi dengan akal. Dengan akal, manusia dapat berfikir, berkreasi, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan membangun peradaban.

Advertisement

Titin Nirhadayati (2020) mengatakan akal yang dianugerahkan kepada manusia memiliki tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda. Kecerdasan sangat mempengaruhi perkembangan seseorang. Mayoritas orang meyakini bahwa orang yang cerdas adalah orang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Padahal, dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam Islam, telah dikemukakan berbagai pengembangan jenis kecerdasan manusia, sebagaimana yang termaktub dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Gardner (1993) mendefinisikan kecerdasan sebagai berikut: kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan masalah baru untuk dipecahkan; dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam budaya suatu masyarakat.

Berpijak pada definisi kecerdasan menurut Howard Gardner di atas, menjadikan kita semakin sadar pada sebuah ‘kesimpulan’ bahwa setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segala bidang, melainkan cerdas di bidangnya masing-masing. Dalam praktik di kehidupan nyata, hampir semua aktivitas yang dilakukan individu memerlukan kombinasi dari beberapa kecerdasan.

Kecerdasan manusia itu banyak ragamnya. Dalam diri setiap individu manusia, mesti ada delapan kecerdasan (akan terus berkembang), yakni kecerdasan matematik, kecerdasan linguistik, kecerdasan musik, kecerdasan spasial, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan naturalis. Antara individu yang satu dengan yang lain memiliki derajat kecenderungan kecerdasan yang tidak sama. Salah satu kecerdasan yang ada dalam diri manusia tersebut adalah kecerdasan matematik. Merujuk pada Gardner berarti dapat kita katakan “setiap individu adalah cerdas matematik, tidak ada individu yang bodoh di bidang matematik”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Pada hakikatnya setiap individu di antara kita telah dianugerahi kecerdasan matematik. May Lwin, dkk (2008:43) mendefinisikan kecerdasan matematik merupakan kemampuan tentang bilangan dan perhitungan, pola, dan pemikiran logis dan ilmiah. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan atau kehidupan sehari-hari, dengan matematika sebagai alat untuk menghasilkan solusinya.

Seorang individu dengan kemampuan matematik akan menyenangi pekerjaan atau aktivitas yang berkaitan dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual.

Thomas Armstrong (2005) juga menegaskan bahwa kecerdasan matematik melibatkan keterampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika atau akal sehat. Individu yang memiliki kelebihan di bidang kecerdasan matematik ini akan mampu berpikir secara numerik atau dalam konteks pola dan urutan logis, atau dalam bentuk-bentuk cara berpikir logis yang lainnya.

Mari kita perhatikan firman Allah swt dalam Surat al-Ankabut ayat 43: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” Dari ayat ini, kita akan dapat memahami ayat-ayat Allah swt, jika kita mampu untuk berpikir secara logis.

Kecerdasan matematik bukanlah kecerdasan yang statis. Bisa meningkat, bisa juga menurun bahkan hilang. Tergantung bagaimana dan seringnya setiap individu kita untuk mengembangkannya. Jika individu tersebut tidak ada ikhtiar untuk mengembangkannya, bisa-bisa kecerdasan matematik yang sudah ada, justru akan melemah dan menghilang.

Setiap individu itu memiliki kecerdasan matematik, namun dengan kadar yang belum tentu sama. Tergantung ‘kebiasaan’ masing-masing dalam merawanya. Oleh karenanya, -sekali lagi- memperlakukan secara berbeda (baca: unik) dalam pembelajaran atau kehidupan nyata kepada setiap individu merupakan suatu keniscayaan.

Kecerdasan matematik yang ada dalam diri kita itu dapat dilatih dan dikembangkan melalui pelbagai kreativitas dan inovasi. Selalu melakukan ikhtiar untuk mengembangkan kecerdasan matematik merupakan salah satu bukti mensyukuri anugerah Allah swt, yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Tentu, masih terbuka ruang juga untuk mengembangkan kecerdasan bidang lainnya. Tidak terbatas hanya kecerdasan matematik. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Oleh: Abdul Halim Fathani, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES