Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Merdeka Belajar di Hari Pendidikan Nasional

Minggu, 03 Mei 2020 - 16:00 | 89.99k
Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang (UNISMA), Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Jawa Timur dan Penulis Buku Pendidikan Islam Humanis.
Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang (UNISMA), Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Jawa Timur dan Penulis Buku Pendidikan Islam Humanis.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANGDidiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu (Ali bin Abi Thalib)

Pendidikan Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan dalam segi metode belajar siswa. Dengan sistem daring (pembelajaran online) guru dan siswa tidak langsung bertatap muka di kelas. Namun dengan jarak jauh. Hal ini terjadi akibat dari pandemi virus covid-19. Terobosan ini memaksa setiap guru untuk merancang model pembelajaran jarak jauh. Mau tidak mau, suka atau tidak suka setiap guru memberikan materi pelajaran melalui sistem online di tengah wabah ini.

Advertisement

Kebijakan kementerian Pendididikan tentang pembelajaran online ini diikuti mulai dari Aceh sampai Papua. Ini bagian dari 4 hal dari konsep merdeka belajar yaitu pemanfaatan teknologi. Hal positif dengan pandemic Covid-19 ini adalah cikal bakal dimulainya pemanfaatan teknologi secara massif dalam bidang pendidikan. Belajar di era teknologi menuntut siswa agar belajar mandiri dengan arahan dari guru.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Merdeka belajar merupakan kebijakan dari menteri pendidikan millennial Nadiem Makarim yang mempunyai makna kemerdekaan berfikir. Cara berfikir siswa dalam menemukan keilmuannya bisa berbagai sumber belajar. Howard Gardner dengan multiple intellegensinya mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri siswa. Setiap siswa adalah bintang betul adanya. Jika selama di sekolah siswa belum menemukan bakat yang dimilikinya, sekolah tersebut belum optimal dalam menerapkan merdeka belajar. Lulusan yang selama ini bertumpuan pada Ujian Nasional sudah ditiadakan. Ini menjadi gerbang baru sekolah menerapkan kompetensi lulusan sendiri, tentu mengedepankan kreativitas yang dimiliki siswa. Bukankah manusia itu awal mulanya ada kertas putih, yang dilukis oleh gurunya berbagai macam gambaran pada kertas tersebut. Ini yang dianut oleh kelompok empirisme konsep tabularasa dengan tokohnya John Locke.

Untuk mensukseskan program merdeka belajar secara massif, yang dibutuhkan adalah perubahan mindset guru dan orang tua. Tahun 1980 dan 1990 an ketika anak TK atau SD ditanya apa cita-citanya jika besar nanti? Mereka menjawab ingin jadi polisi, tentara, pns, dan dokter. Hari ini tentunya cita-cita itu berbeda. Bukankah rejeki tidak datang dari keempat profesi di atas. Kini bermunculan ragam cita-cita di abad 21 ini mulai pembisnis, youtuber, vloger, bloger, programmer, singer, dan profesi lainnya. Bahkan di bidang tulis menulis pun menguntungkan bagi yang benar-benar menekuninya. 

Perubahan mindset guru terletak para corak pembelajaran di dalam kelas. Bahwa guru bukanlah sumber satu-satunya dalam belajar siswa. Di luar guru, sumber belajar sangat banyak mulai dari lingkungan, orang tua, internet, teman dan lain sebagainya. Apa yang dilihat dan didengar itu adalah pengetahuan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Namun, dalam membentuk karakter siswa di sekolah, guru merupakan ujung tombak pertama. Di samping itu pendidikan bukanlah untuk tujuan dalam jangka waktu satu minggu atau satu tahun. Namun untuk 20 tahun yang akan datang, pondasi awal itu merupakan kekokohan dari bangunan. Rumah tidak akan berdiri kokoh jika pondasi awal tidak memakai cakar ayam. Dengan pondasi kuat, rumah akan berdiri tegak walaupun angin dan gempat menerpa. Begitu juga anak, sedari kecil pondasi karakter yang kuat kelak dewasa tidak akan terjadi korupsi, pencucian uang, dan suap menyuap.

Ke depan tentu hal yang baik masa pandemi virus corona ini, tetap dipertahankan. Pembelajaran online salah satunya. Namun ada beberapa kendala, diantaranya: kurang persiapan model belajar online bagi guru, jaringan siswa yang berada di pelosok, belum lagi bagi keluarga yang tidak mampu tidak punya hp, punya hp pun belum tentu punya paketan data. Kendala seperti ini ke depan pelan-pelan dibenahi, dan seluruh siswa dari berbagai pelosok bisa merasakan pendidikan online yang layak.

Di hari pendidikan ini tentu semua ingin pendidikan yang membebaskan sesuai dengan harapan merdeka belajar. Peserta didik bebas mengembangkan kreativitasnya masing-masing, tanpa ada paksaan. Tidak mungkin ikan disuruh manjat pohon, burung disuruh berenang. Semua siswa memiliki skill masing-masing, yang satu dengan yang lain berbeda. Disinilah kelas muncul keragaman, ada yang pintar musik, melukis, matematika, IPA, menyanyi, mendongeng, marathon, bahkan memasak. Keahlian yang dimiliki siswa harus ditemukan di sekolah. Dengan begitu, kelak menjadi sumber penghasilan bagi dirinya 20 tahun yang akan datang.

Mari bersama ciptakan sekolah yang membahagiakan, jangan sampai tugas online memberatkan siswa. Orang tua pun tidak stress akan tugas anaknya yang diberikanoleh guru. Konsep merdeka belajar itu untuk menciptakan pendidikan yang membahagiakan baik siswa, guru dan orang tua. Pembelajaran yang menyenangkan penuh dengan kreativitas dan inovatif akan disenangi dan murid mudah menangkap pelajaran. Sehingga dalam benak siswa muncul pernyataan “sekolahku rumah keduaku”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang (UNISMA), Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif Jawa Timur dan Penulis Buku Pendidikan Islam Humanis.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES