Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Segitiga Cinta dalam Puasa

Selasa, 05 Mei 2020 - 16:55 | 36.18k
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Kota Malang.
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Kota Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Saat kita melaksanakan ibadah puasa, sungguh dalam jiwa kita telah bersemi ruang mesra ketaatan kepada Allah Swt. Ketaatan untuk melakukan ibadah puasa akan berbunga takwa di hadapan Allah Swt. Banyak orang yang mengaku bertakwa namun masih enggan dan terkesan terpaksa dalam melakukan ibadah puasa. Demkianlah ibadah puasa, ibadah yang hanya diketahui oleh kita dan Allah. Karena sejatinya orang-orang hanya dapat memprediksi bahwa kita berpuasa, sedangkan Allah tahu kita lahir dan batin, apakah kita betul-betul melaksanakan ibadah puasa secara kaffah ataukah tidak.

Puasa yang diperintahkan kepada orang-orang yang beriman dapat mendatangkan kebaikan bagi jiwa, psikologis, dan fisiknya. Setidak-tidaknya saat kita berpuasa, kita berada  dalam taman-taman ibadah kepada Allah sehingga hati kita mendapatkan ketenangan. Ketengan ini dapat kita rasakan sampai tiba saat berbuka dan terkadang ketengan tersebut dapat kita rasakan sepanjang hari sampai malam. Hal ini karena selama beribadah puasa, kita betul-betul khusuk dan hanya mengharap ridha Allah semata.

Advertisement

Ketenangan yang kita dapatkan dengan berpuasa akan berbeda dengan ketengan lain yang kita dapatkan di luar puasa. Hal ini karena pada saat kita berpuasa selalu didampingi malaikat Allah yang selalu memohonkan ampun bagi orang-orang yang tengah berpuasa. Begitu indahnya berpuasa sehingga makhluk Allah yang lain selalu memuji orang-orang yang berpuasa karena Allah.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, saat Ummu Ammarah binti Ka’ab dari kalangan Anshar didatangi oleh Rasullullah, Ummu menyuguhkan makanan kepada Rasulullah. Lantas Nabi berkata kepada kepada Ummu “Makanlah.” Kemudian ia berkata, “Aku sedang berpuasa.” Lalu Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya malaikat mendoakan orang yang berpuasa ketika di hadapannya ada orang yang makan, sampai dia selesai makan atau kenyang.” (HR. At-Tirmidzi, 2/141, hadits nomor 782). Oleh karena itu, saat para malaikat mendoakan diri kita, secara tidak langsung hati kita terasa damai bahkan mendapatkan kesenangan yang tiada tara. 

Apabila kita melihat dari perspektif ilmu psikologis, kita akan menjumpai sebuah teori RAS (Ratikular Aktiviting System). Menurut teori ini orang yang senantiasa berada dalam kondisi tenang atau saat otaknya berada dalam gelombang alfa (gelombang otak 8-12 Hz) atau theta (gelombang otak 4-8 Hz), maka sistem limbik kita akan senantiasa mengontrol rasa takut, cemas, resah dan gelisah (psikodemia.com). Efek yang dihasilkan ialah seluruh kondisi tubuh dalam keadaan tenang dan bahagia. Saat tubuh merasakan hal yang sedemikian rupa, maka dengan energi yang sangat minimalpun sel dapat melaksanakan aktivitasnya secara optimal.

Begitu cintanya Allah kepada kita sehingga terkadang kita tidak menyadari cinta Allah yang sangat besar tersebut. Allah meciptakan bulan Ramadhan karena Allah ingin melihat ketundukan kita kepada-Nya, Allah ingin melihat kita menjadi hamba-hambanya yang senantiasa dapat menjaga rohani dan jasmani dalam beraktivitas sehari-hari. “Sesungguhnya, ketika Allah menciptakan jin dan manusia, tujuan utamanya ialah agar mereka beribadah kepada-Nya” (Q.S, 51:5). Demikian juga Rasulullah menganjurkan kita untuk berpuasa agar kita menjadi manusia yang memiliki keimanan paripurna dan kesehatan. Rasulullah bersabda bahwa “Shumu tashihu” berpuasalah niscaya kamu akan sehat.

Oleh karena itu, syariat yang telah diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah dan disampaikan kepada kita, hendaknya tidak disia-siakan. Apabila ada waktu disela-sela kita berpuasa, hendaknya kita memperbanyak sholawat kepada Rasulullah. Orang yang memperbanyak sholawat kepada Rasululllah disamping dicintai oleh Rasulullah juga akan dicintai oleh Allah Swt. 

Suatu Ketika Allah bertanya kepada Rasulullah “Ya Muhammad langit dan bumi ini miliknya siapa?” Dengan Mudah Rasulullah menjawab “Milik engkau Ya Allah”. Kemudian Allah bertanya lagi kepada Rasulullah “Engkau ini milik siapa, ya Muhammad?” Rasullah menjawab dengan segera “Milikmu Ya Allah”. Lantas Allah bertanya untuk yang ketiga kalinya “Ya Muhammad, Aku ini milik siapa?”kemudian Nabi terdiam beberapa saat dan hampir tidak bisa menjawab. Melihat kondisi tersebut kemudian Allah menjawab sendiri pertanyaannya. “Ya Muhammad, Aku ini adalah milik orang yang mencintaimu!” mendengar hal tersebut Rasullah tertunduk. 

Maka kita sebagai seorang muslim setidak-tidaknya memiliki rasa cinta yang sejati kepada Rasullah melebihi cinta kita terhadap dunia. Saat dalam diri kita sudah timbul perasaan bermahabbah kepada Rasullah dan kita selalu menyebutkan dengan membaca sholawat, maka dengan sendirinya kasih sayang dan rahmat Allah akan diberikan kepada kita. 

Bagaimana rasa cinta sejati kepada Rasullah dan kepada Allah. Dalam hal ini, Ibnu Shina berkata: Hendaknya engkau menjadi gandum, saat gandung dipanin, maka tangkainya harus rela berpisah dengan batangnya, dan hal itu tidak menyurutkan cintanya kepada tujuannya yakni ingin bermanfaat bagi manusia. Apakah cukup cintanya gandum dengan pengorbatan tersebut? Tentu tidak. Gandung harus dijemur terlebih dahulu di tengah terik matahari sampai kering. Saat gandung dijemur di terik matahari, sungguh tidak menciutkan cintanya untuk bertemu dan bermanfaat bagi kekasihnya bernama manusia.

Apakah sudah selesai cintanya gandum saat dijemur. Ibnu Shina menjawab tentu tidak semudah itu. Gandung rela ditumbuk sampai terpisah antara kulitnya dengan bijinya. Alangkah sakitnya dirinya saat memisahkan kulitnya terpisah dengan biji. Justru cinta gandum tidaklah pupus semudah itu. Begitu cintanya ia pada manusia, dia rela direndam dalam air dan dimurnikan untuk ujian cinta terakhirnya, yakni dibakar di atas tungku api. Maka, saat gandung direbus bersama air di atas api, inilah ujian cintanya terakhir. Apakah dia akan menjadi hangus, menjadi bubur, ataukah akan menjadi nasi yang sejati untuk selanjutnya dihidangkan kepada kita.

Maka cinta gandung setelah menjadi nasi masih teruji di dalam mulut kita sendiri. Begitu lama, gandung mengimpikan dihidangkan dan menjadi santapan manusia sejati. Namun saat di dalam mulut, gandum masih merasakan penghianatan karena saat dimakan, manusia tidaklah memakan nasi saja, melainkan masih memakan sayur dan ikan. Begitu tabahnya gandum menjadi cinta sejati manusia sehingga gandum tetap menjadi dominasi makanan. Demikianlah analogi segitiga cinta kita dengan Allah dan Rasulullah. Semoga para Ramadhan kali ini, kita senantiasa khusuk beribadah dan senantiada mendapatkan cinta Allah dan Rasulullah, amin.

***

*)Oleh: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Kota Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES