Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Rasa Bosan dan Televisi (2)

Kamis, 07 Mei 2020 - 14:08 | 32.17k
Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pascasarjana Unisma Malang dan Penulis Buku Tangis Dunia Kedokteran.
Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pascasarjana Unisma Malang dan Penulis Buku Tangis Dunia Kedokteran.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Menonton televisi (Novi) ditengah perintah stay at home merupakan salah satu pilihan yang ditempuh untuk mengatasi rasa bosan yang mendera. Rasa bosan yang hadir karena ruang gerak yang dibatasi oleh kebijakan pemerintah bernama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Berbagai program yang ditampilkan televisi seakan menjadi obat untuk mengusir segala kebosanan dalam menjalani waktu yang terasa lambat bergerak. Salah satu program yang dirasa sangat menghibur dalam mengatasi kebosanan ialah program sinetron, FTV dan lain sejenisnya. Menonton berbagai program ini seakan mengajak para penontonnya untuk berimajinasi tentang alur cerita yang sedang ditayangkan. Ada FTV yang menceritakan tentang berbagai kisah cinta dengan latar konflik yang berbeda satu sama lain namun pada akhirnya berujung bahagia (happy ending). FTV yang happy ending ini tentu memberikan pesan kepada para penontonnya bahwa dalam hal perjuangan memperoleh cinta sejati pada akhirnya pasti berujung pada kemenangan. Artinya, seseorang pasti akan mendapatkan cinta sejatinya walaupun untuk mendapatkannya jalan yang harus ditempuh tidak selalu datar atau harus melalui cobaan, hambatan bahkan intrik, harus menumpahkan air mata bahkan sakit fisik sekalipun. Inilah cinta, no pain no gain.

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

FTV yang menampilkan kisah berakhir manis tentu merupakan energi optimis atau energi positif bagi para penonton. Penonton diajarkan untuk tidak pesimis menghadapi kondisi dan situasi. Penonton seakan mendapatkan pesan bahwa segala sesuatu akan berakhir indah. Kalau hari ini penonton sedang berada dalam posisi galau, gelisah atau bahkan patah hati maka hal tersebut dapat dimaknai sebagai ujian untuk mendapatkan apa yang dicintai. Termasuk cobaan berupa virus corona yang telah membuat banyak penonton sakit hati karena kandasnya rencana untuk menggelar pernikahan yang meriah. Segala niat dan planning tiba-tiba “buyar” karena pemberlakuan PSBB akibat virus corona.

Rasa kecewa karena gagal menggelar pesta pernikahan akan dimaknai positif berkat menonton FTV. Gagalnya pernikahan dianggap sebagai bagian dari rencanan Tuhan terhadap dua mempelai. Bisa saja, gagalnya pesta pernikahan tersebut tidak terjadi karena kalau terjadi akan ada mafsadah didalamnya. Atau resepsi pernikahan tersebut tertunda karena Tuhan telah menjawadlkan waktu resepsi yang lebih tepat dan wah.

Namun, ada pula FTV atau sinetron yang justru membangun kesalahpahaman tentang sejarah bagi penonton. FTV atau sinetron yang seperti ini merupakan jenis sinetron yang mengambil alur cerita yang berkaitan dengan sejarah tokoh-tokoh atau sejarah nama tempat atau sejarah situs-situs. Diakui atau tidak, banyak cerita dalam sinetron dan FTV yang tidak sesuai dengan sejarah aslinya. FTV atau sinetron yang menceritakan sesuatu yang tidak sesuai dengan “sejarah aslinya” tentu tidak dapat disalahkan. Sebab, dalam sebuah sinetron yang ditampilkan di televisi selalu disertai dengan disclamair berupa “cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf apabila terdapat kesamaan atau kesalahan nama, tokoh, latar dan daerah”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Disclamair tersebut tentu merupakan “jaminan” untuk melepaskan suatu cerita sinetron dari segala tuntutan. Artinya, suatu sinetron atau FTV hanya bersifat hiburan sehingga tidak serta merta selalu ditanggapi serius.

Namun, hal tersebut dapat saja berbahaya bagi penonton yang tidak memahami sejarah dari sumber yang sah. Artinya, penonton yang tidak pernah membaca atau mendengar sejarah tentang “sesuatu” dari sumber yang sah maka akan menjadikan apa yang mereka tonton dari media televisi sebagai cerita sejarah yang benar. Disinilah kemudian dilema sebuah sinetron atau FTV yang perlu dikaji oleh semua pihak terutama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. H. Ahmad Siboy., S.H., M.H, Dosen Pascasarjana Unisma Malang dan Penulis Buku Tangis Dunia Kedokteran.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES