Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Pelajaran Ketiga dari Abu Nawas: Atasi Dampak Covid-19

Kamis, 07 Mei 2020 - 18:36 | 60.03k
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang, Pengurus AP-HTN/HAN dan Penulis Buku Hukum dan Agama.
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang, Pengurus AP-HTN/HAN dan Penulis Buku Hukum dan Agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada pelajaran ketiga dari Nawas. Setelah menerima hadiah dalam jumlah besari dari pengusaha, Abu Nawas tidak menjadikan apa yang diterimanya sebagai keuntungan pribadi yang dimanfaatkan sendiri, melainkan ditempatkannya sebagai sumberdaya modal untuk kepentingan bersama.

Dalam rizki yang diperoleh setiap orang (seperti yang diperoleh Abu Nawas), terdapat hak-hak orang lain (sesama), sehingga logis jika tidak dimonopoli sendiri, keluarga, atau kelompoknya.

Advertisement

Dalam ranah itu, sikap dan perilaku “karitas” (kedermawanan) social menuntut ditegakkan untuk semua orang tanpa kecuali, khususnya pada masyarakat yang sedang membutuhkan. Disinilah  ada tuntutan asasi yang berelasi dengan penegakan prinsip kemanusiaan untuk orang-orang yang hidupnya mempunyai (dianugerahi) kemapanan ekonomi  terhadap masyarakat yang sedang berposisi klas bawah (lower class).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Setidknya dalam kondisi  masyarakat atau bangsa sedang diuji oleh virus Corona (Covid-19) ini,  Pendidikan etik “memanusiakan” manusia seperti yang   diteladankan Abu Nawas bisa (harus)  kita wujudkan  dan kembangkan  supaya dapat memperingan beban psikologis dan ekonominya. Kepada siapa kita menyampaikan ekspektasi ini kalau bukan kepada  kita yang oleh Tuhan sudah dipercaya (diberi amanat) menjadi menjadi kelompok kaya atau berstrata atas (upper class).

Jika kita yakin, bahwa dalam berbagi rizki itu ada prevensi atas beragam penyakit di dunia, maka ini mengedukasikan pada kita, bahwa dengan kultur berbagi pada sesama identik dengan prevensi ampuh terhadap penyebaran penyakit, termasuk Corona.

Dari Abu Nawas menunjukkan “ngaji kemanusiaan” serius, bahwa tidak ada hal mustahil yang tidak bisa diatasi atau diselesaikan jika dilakukan dengan mengutamakan semangat dan aksi bersama atau bersatu, khususnya dalam menghadapi serangan Corona. Negara ini pernah atau berkali-kali menghadapi krisis ekonmi, tetapi faktanya tetap bisa keluar dari masalah seserius apapun. Keragaman sosial, agama, dan khususnya ekonomi mampu membawa kesatuan hidup, sehingga bisa memecahkan masalah serius bangsa,  jika setiap subyeknya menyadari makna “hidup menyatu atau mengorvengensi” dengan masyarakat.

Kalau kita atau bangsa Indonesia selama ini sering kesulitan atau lambat menjawab problem bangsa disebabkan perbedaan (keragaman), maka haruslah ada yang menunjukan mobilitas secara berkelanjutan. Faktor kebinekaan ini membuat sesuatu yang mestinya bukan kemustahilan untuk dikalahkan, akhirnya gagal dimenangkan atau dilaksanakan akibat diantara kita terkadang masih memenangkan atau “memprimadonakan” egoism sectoral atau kelompok”.  Pola atau gaya seperti inilah yang tidak boleh terjadi pada masa pandemi Covid-19.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Hal itu menunjukkan, bahwa ada tuntutan kuat untuk menyikapi keragaman sebagai kekayaan. Keragaman ekonomi seperi sejumlah orang bisa kaya atau bermodal besar, sementara yang lainnya dalam kondisi miskin, adalah realitas yang harus dikonvergensikan, bukan sebagai dalih untuk memecah belah bangsa.

Dapat terbaca secara gambalang, bahwa kita selama ini masih lebih sering menunjukkan pola sikap dan perilaku yang bercorak merekahkan konstruksi kesatuan dan keharmonisan bangsa. Disharmonisasi sosial masih sering mencuat akibat adanya sikap atau perilaku seseorang atau sekelompok orang yang menghadirkan gaya monologis dan eksklusif yang nota bene menempatkan dirinya dan kelompoklah yang paling benar dan wajib diikuti, sementara seeorang atau kelompok lainnya sebagai pihak yang layak dialinasikan atau tidak perlu dukungan kemanusiaan. Jika seperti ini yang dipertahankan di era pandemi ini, maka akan semakin banyak  rakyat  yang menadi korbannya.

Demikian itulah model seseorang dan sekelompok orang belum “ngaji” pada Abu Nawas, atau seserang atau sekumpulan orang yang sejatinya tidak paham makna kesalehan sosial di tengah menunjukkan kebinekaan, sehingga pemikiran dan perilakunya harus direkonstruksi secara terus menerus.

Mereka yang berpola seperti itu wajib diedukasikan supaya menjadikan Indonesia tetap sebagai “rumah” besar yang memayungi keragaman etnis, golongan, agama, politik, budaya, dan lainnya, terlebih saat menghadapi serangan Corona seperti sekarang ini.

Terhadap realitas itu, setiap subyek hidup bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia ini justru harus terus menerus dididik atau membentuk dirinya di ranah apapun, seperti dimulai dari keluarga. sekolah dasar hingga perguruan tinggi supaya mereka bukan hanya menjadi manusia-manusia yang rela menjadi subyek penegak hak kemanusiaan dalam kebinekaan, tetapi juga berupaya mengedukasikan atau “mengislamisasikan” dirinya dimanapun dan saat kapanpun (menghadapi Corona) untuk menjadi kekuatan yang militan dalam mewujudkan sakralitas dan fundamentalitas hak kemanusiaan secara meluas.

Sikap dan gerakan militansi kemanusiaan dalam berkebinekaan itu harusnya memang mengalami progresifitas di dada setiap subyek bangsa, seperti yang “diwariskan” Abu Nawas, karena di ranah meluasnya keberagaman, setiap subyek dituntut menalar dan mengadaptasikan diri secara cerdas seiring dahsyatnya ragam dan banyaknya tantangan  atau eksaminasi Corona.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang, Pengurus AP-HTN/HAN dan Penulis Buku Hukum dan Agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES