Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Ramadhan sebagai Momentum Mendidik Karakter (6)

Sabtu, 09 Mei 2020 - 11:20 | 45.16k
Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo.
Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Pada bahasan sebelumnya saya menyinggung masalah manakah yang lebih baik antara berpuasa dan tidak berpuasa, kira-kira ada tiga versi jawaban; memilih tidak berpuasa, tidak punya pilihan, dan berpuasa. Ternyata Allah memberikan jawaban bahwa berpuasa lebih baik jika kita semua mengetahuinya.

Seperti kita ketahui bahwa tingkatan beragama kita mengalami tiga tingkatan proses; berimana, bertaqwa, dan berserah diri. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kami mati melainkan dalam keadaan berserah diri/taslim (QS Ali Imran (3): 102).” Proses berpuasa selama 30 hari di Bulan Ramadhan ternyata adalah proses akselerasi untuk mencapai tangga kedua dari proses beragama kita.

Advertisement

Taqwa merupakan perwujudan dari keimanan kita. Taqwa adalah implementasi kebajikan yang diajarkan oleh agama. Khatib jumat seringkali menyampaikan bahwa taqwa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Bagi orang bertaqwa tingkatan paling rendah adalah berdiam diri. Karena berdiam diri pasti tidak melakukan larangan Allah. Semua larangan Allah harus kita tinggalkan, apapun bentuknya. Sementara yang diperintahkan kita lakukan yang terbaik menurut kita.

Ada penjelasan menarik yang disampaikan oleh KH. Agus Mustofa dalam bukunya berjudul untuk apa berpuasa. Menurut bertaqwa adalah kemampuan mengontrol diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan. Sebaliknya, mampu mengendalikan diri untuk selalu berbuat kebajikan yang membawa manfaat bagi semuanya. Ada 4 hal yang harus dikontrol dalam hidup ini; kontrol fisik, kontrol psikis, kontrol sosial, dan kontrol spiritual.

Kontrol fisik terkait langsung dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar dimana orang tersebut tinggal. Puasa yang sudah banyak dijelaskan dapat memberikan dampak terhadap dirinya memiliki kesehatan yang prima. Kesehatan yang sesungguhnya karena seperti diketahui penyakit yang ada dalam tubuh ini salah satunya dan paling besar ditentukan oleh makanan yang dimakan. Banyak makan berarti banyak penyakit. Ketika kita sudah bisa melakukan kontrol fisik berupa kemampuan untuk mengendalikan pola makan sehingga badan terus fit dan dapat melakukan ibadah dengan baik. Control fisik juga berdampak terhadap lingkungan sekitar. Tentu diri yang bersih tidak menginginkan hidup dilingkungan yang tidak sehat. Lingkungan yang jelek akan berlawanan dengan kondisi kebathinan jika orang tersebut dalam keadaan sehat, tentu sehat jasmani dan rohaninya.

Kedua kontrol psikis, puasa bukan sekedar tidak makan dan minum tetapi juga menghindari dari berbagai penyakit hati. Ada setidaknya 9 penyakit hati yang harus dihindari, jika kita bersih dari 9 penyakit hati ini insyaAllah kita akan selamat dan husnul khatimah, karena sejatinya hidup yang kita jalani ini dalam rangka belajar menjauhi 9 penyakit hati ini. Penyakit hati tersebut adalah pemarah, pendendam (sulit memaafkan), iri dan dengki, serakah, pelit, egois, ujub/riya’/sombong, ghibah/fitnah, dan berbohong. Muara dari penyakit hati adalah egois/keakuan. Keinginan untuk tampil terbaik dan nomor 1. Jika hati kita tidak bisa selamat dari berbagai jenis penyakit hati ini maka celakalah hidup kita, sebaliknya jika kita mampu menghilangkan itu semua dengan cara mengubur dalam-dalam egois yang ada dalam hati ini insyaAllah selamat di dunia dan akhirat.

Kontrol social berarti kehidupan kita haruslah mempunyai dampak social yang tinggi. Secara fitrah manusia bukanlah makhluk individu melainkan makhluk social. Mereka yang hanya bahagia dengan kesendiriannya sesungguhnya dia tidak sedang bahagia. Kebahagiaan hakiki ketika kita mampu melakukan yang terbaik untuk orang lain. Kontrol Spiritual adalah control paripurna control yang dijelaskan sebelumnya. Control fisik, psikis, dan social haruslah ditopang dengan kontrol spiritual yang tinggi.

Maka puasa Ramadhan sebagai jalan menuju tangga ketaqwaan haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga nantinya akan mampu membentuk karakter yang luar biasa yang akan menjadi bahasan berikutnya. (Bersambung).        

***

*)Oleh: Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES