Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Makna Singgasana Dari Yeltsin

Sabtu, 09 Mei 2020 - 12:00 | 47.88k
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang, Pengurus AP-HTN/HAN, dan penulis buku Hukum dan Agama.
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang, Pengurus AP-HTN/HAN, dan penulis buku Hukum dan Agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – ”Anda mampu membuat singgasana dari bayonet, tapi Anda tidak akan mampu mendudukinya terlalu lama,” demikian ujar Boris Yeltsin, Presiden Rusia (1991-1999)”, yang sebenarnya mengingatkan setiap pemburu kekuasaan atau jabatan, bahwa kekuasaan itu ada batas akhirnya.

Para pemburu atau pemegang kekuasaan, diantaranya melalui suksesi tingkat lokal seperti Pemilihan Kepala Daerah secara langsung (Pilkada) sehingga melahirkan kepala daerah seperti walikota dan bupati, atau diberi jabatan istimewa seperti ditunjuk oleh Presiden untuk menjadi menteri atau jabatan-jabatan tertentu,  seharusnya memahami hal itu sebelum terlibat dalam perburuan atau menduduki jabatan, karena obyek yang diburu atau didudukinya merupakan wilayah sakral dan menggiurkan yang menentukan perjalanan hidup dirinya, masyarakat, bangsa,  dan negara.

Advertisement

Singgasana (kekuasaan) menjadi idaman atau impian banyak orang, apalagi kalangan politisi. Sayangnya, seringkali sejumlah orang tidak paham atau pura-pura tidak peduli tentang makna singgasana itu. Ia bukan sekedar tempat, kedudukan, atau ”kursi” yang menentukan status sosial dan ekonominya, tetapi jauh lebih penting dari itu, yakni bermaknakan memberikan tempat teristimewa pada rakyat, terutama ketika rakyat (bangsa) sedang menghadapi masalah serius seperti pandemi Corona saat ini.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Corona memang menguji seluruh elemen bangsa.  Rakyat secara keseluruhan dieksaminasi ketahanan dirinya di hampir semua aspek kehdupannya. Meski demikian, sejatinya yang paling diuji oleh Corona ini adalah para  pemangku singgasana, karena mereka sudah ”mewakili” daulat rakyat untuk menerjemahan dan menanggulangi kepentingan masyarakat, apapun kepentingannya, termasuk dalam melawan Corona.

Kehadiran Corona identik dengan mengingatkan setiap pemangku kekuasaan, bahwa singgasana ynag didudukinya adalah wilayah sakral, bukan tempat menaikkan indek prestise. Rakyat menjadi baik atau sebaliknya, dihadapkan dengan ragam keprihatianan akibat Corona, adalah di tangannya (peran yang dimainkannya).

Singgasan aitu disebut wilayah sakral, karena yang diburu atau didudukinya berhubungan dengan amanat keumatan atau tanggungjawab publik yang bersifat istimewa, yang menuntut pengerahan kompetensi dan kapasitas moral kepemimpinanya, sedangkan menggiurkannya, apa yang bisa diperoleh dari kekuasaan yang diburu atau didudukinya itu menjanjikan atau memberikan beragam kenikmatan, keningratan, kebanggaan, dan kesenangan. Dari sejumlah ”efek” menarik dan menyenangkan dari singgasana inilah, yang membuat seseorang terpikat mendudukinya sangat lama, meski terkadang harus menerima realitas harus tersungkur karenanya.

Ketika seseorang berhasil merebut kekuasaan atau diberi amanat, berarti terjadi pergulatan antara yang memperjuangkan kepentingan publik, ataukah terseret dalam pesona kekuasaan yang menggiurkan dengan ”menjarah” apa saja yang menguntungannya, seperti dengan cara melakukan pengkhiatan atau pengabaian, karena seperti pikiran Yeltsin, dengan kekuasaan yang dijalaninya tidak akan bersifat “keabadian”, selain menjadikannya tidak menjadi serius dalam mengelola pemerintahan, juga memanfaatkannya dengan cara memproduksi banyak ”jalan tikus” yang berdampak terhadap konstruksi pemerintahan.

Konstruksi pemerintahan ditentuan oleh para pengelolanya yang bernama subyek kekuasaan, baik yang menjabat dalam lingkaran kabinet maupun pemerintahan di daerah. Kedua subyek kekusaan ini yang menjadi penentu disain riil pemerintahan. Keduanya memang tidak dihasilkan dengan mekanisme yang sama secara politik, namun peran yang dimainkan keduanya sama-sama dapat berpegaruh besar terhadap wajah negara ini.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Ibarat kata mutiara bersubstansi sebab akibat yang menyebutkan ”evil  causis-evil vallacy”, yang bermakna, bahwa sesuatu yang buruk yang terjadi adalah disebabkan oleh kondisi buruk yang mempengaruhinya. Suatu stigma bopeng atau ”mengerikan” tidak akan diberikan pada suatu daerah tertentu, jika di daerah tersebut tidak terjadi peristiwa yang menggemparkan (memprihatinkan). Dalam ranah seperti ini, biasanya akibat kecerobohan atau keterjerumusan elitis di daerah dalam menjalankan malapraktik kekuasaanya.

Begitu pula suatu daerah tidak akan disebut mengalami krisis kualitas sumberdaya manusia jika tidak karena ada sesuatu yang menyebabkannya. Krisis demikian jelas tidak bersifat serta merta, melainkan tentulah disebabkan adanya kondisi buruk tertentu yang menjadi akar penyebabnya, karena di daerah ini ada sosok yang dipercaya negara tau rakyat untuk menjadi sang leader yang sudah bersumpah akan mengelola singgasanya  dengan penuh tanggungjawab.

Begitu pula jika di suatu daerah, ternyata Corona tidak sampai tertangani dengan baik dan maksimal, maka ini dapat dijadikan bahan evaluasi, bahwa singgasana yang diduduki seseorang (pemimpin) tidak dijalankan kualitas ksakralannya. Sosok ini dapat disebut sebagai oportunis, yang hanya mau yang menguntungkan dan menggiurkan dari singgasana, sementara kewajiban atau tugas-tugas berat yang seharusnya dilaksanakan dan dikembangkan, diabaikan dan bahkan didegradasikannya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Malang, Pengurus AP-HTN/HAN, dan penulis buku Hukum dan Agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES