Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Hikmah Dibalik Nuzulul Quran

Selasa, 12 Mei 2020 - 12:40 | 413.01k
Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pengurus LP Ma’arif NU Jawa Timur.
Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pengurus LP Ma’arif NU Jawa Timur.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Tidak terasa Ramadhan sudah setengah lebih tepatnya hari ke 17 bulan Ramadhan. Dan kita sudah melewati isu hoax kiamat tangal 15 ramadhan kemarin yang sempat viral. Pada 17 Ramadhan ada momentum malam nuzulul quran. Di berbagai tempat di wilayah Indonesia di adakan event tentang nuzulul quran. Namun, tahun ini ditiadakan dan diganti dengan pengajian online dikarenakan wabah virus Covid-19 belum berakhir. Nuzulul Quran adalah proses turunnya wahyu al Quran pertama kali di bumi melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. 

Allah berfirman dalam Surah al Baqoroh ayat 185 “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Advertisement

Al Quran yang turun sekaligus dari lauhul mahfudz ke baitul izzah itu terjadi saat malam lailatul Qadar. Tidak ada yang tahu pastinya kapan di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.  Adapun dari baitul izzah di bawa malaikat jibril ke bumi pertama kali yaitu surah al ‘Alaq 1-5 pada malam 17 ramadhan. Dari sinilah umat Islam menamakan dengan malam nuzulul Qur’an.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Sejarah turunnya al Quran di Gua Hira dijelaskan dalam kitab shahih bukhori hadits kedua dan ketiga. Hadits kedua, bagaimana cara Nabi Muhammad mendapatkan wahyu Nabi terlihat payah dan keringat. Ini terjadi biasanya saat Allah langsung yang bicara menurut sebagian ulama. Dilanjutkan hadits yang ketiga di shahih bukhori, Aisyah menceritakan Nabi Muhammad mendapatkan wahyu di gua Hira. Berawal dari sebuah mimpi berupa cahaya yang sangat jelas saat fajar. Ulama mengatakan jarak antara mimpi dengan peristiwa di gua Hira itu ada yang mengatakan berjarak 3 tahun, 1 tahun atau 6 bulan.

Akibat dari mimpi tersebut, Rasulullah seperti mendapatkan perasaan untuk menyendiri. Saat itu kondisi masyarakat arab jahiliyah, melakukan hal yang tidak baik seperti mengubur anak perempuan yang masih hidup, menyembah berhala, dan minuman keras. Di tengah kondisi masyarakat yang tidak sehat ini, tidak sehat disini dalam artian bukan sakit secara fisik, tapi sakit secara perilaku masyarakat bersikap bodoh. Dan Nabi Muhammad tidak pernah menyembah berhala sejak kecil, selalu dijaga oleh Allah. Ini menunjukkan Nabi Muhammad melanjutkan tradisi ibadahnya Nabi Ibrahim As.

Nabi kemudian keluar dari lingkungan dan menyendiri beribadah di gua Hira. Tepatnya malam 17 Ramadhan malaikat Jibril dengan bentuk aslinya, yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan mengucapkan kepada Nabi “Iqra Ya Muhammad” (Bacalah wahai Muhammad). “Ma ana bi qori (Saya tidak bisa membaca)” Jawab Nabi Muhammad SAW. Terkait Nabi tidak bisa membaca, mayoritas ulama’ mengatakan Nabi itu ummi (tidak bisa membaca dan menulis) sampai wafat.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kemudian malaikat Jibril memeluk Nabi Muhammad SAW. Memeluk ini bukanlah memaksa atau menghukum Nabi, namun bentuk keakraban antara ciptaan yang berbeda malaikat dari cahaya dan Nabi dari tanah. Disinilah terjadi persentuhan antara Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril. Dalam Fathul Bari, Nabi sampai merasakan sakit goncang, terjadinya persentuhan alam malaikat dan manusia. Reaksi kimiawi berubah, Nabi tidak kuat menahan. Setelah itu terjadi transfer spiritual diantara keduanya. Kemudian di lepas lagi, malaikat berkata lagi “iqra ya Muhammad”. “Ma ana bi qori’” jawab Nabi. Kejadian seperti ini terulang sampai ketiga kali. Dan Nabi mengucapkan apa yang diucapkan malaikat Jibril, Iqra bismi rabbika ladzi kholaq” (Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan).

Ulama terpesona dengan kejadian peristiwa ini, tiga kali Nabi Muhammad melakukan jawaban. Tiga jawaban itu memiliki makna tersendiri. Jawaban yang pertama bermakna penyangkalan.  Jawaban Nabi yang kedua, bermakna melepaskan semua kekuatan dalam dirinya sudah hilang. Dan jawaban yang ketiga adalah bentuk kepasrahan total nabi Muhammad SAW. Ayat pertama yang turun itu tidak mengandalkan dengan pengetahuan nabi, tapi bacalah dengan nama Allah yang menciptakan.

Proses Nabi menerima wahyu berawal dari mimpi cahaya, kemudian menyendiri, dan mendapatkan wahyu dari malaikat jibril. Tidak hanya selesai disitu, Nabi bingung apa yang sedang terjadi pada dirinya di gua Hira. Andaikan kita yang mendapatkan wahyu, berucap yes, saya dapat. Namun Nabi tidak, kemudian di dalam hadits dijelaskan nabi kembali kerumah menemui istrinya Khadijah. Nabi menyuruh istrinya untuk menyelimutinya dan Nabi mulai menceritakan kejadian di gua Hira.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Khadijah tidak mengatakan, “ah, itu halusinasimu, ah, akalmu sedang tidak baik”. Tapi yang dilakukan Khadijah adalah menentramkan suaminya. Disini ada hikmah bahwa kecintaan antara suami istri itu harus mampu menentramkan dan menenangkan. Khadijah melanjutkan bicaranya “Demi Allah, Tuhan tidak akan mencelakanmu selamanya, karena engkau orang yang menyambung silaturahim”. Disini ada track record Nabi Muhammad jelas. Sebelum di gua Hira, Nabi adalah orang yang suka silaturahim dan menolong sesama. Nilai-nilai kebaikan sudah ada jauh sebelum mendapatkan wahyu. Bahkan mendapatkan gelar al amin (jujur). Jadi, kalau sekarang ada yang mengaku gus, kyai atau ustadz lihatlah track recordnya jelas tidak, bagaima keilmuannya, dan bagaimana sanadnya.

Tahap berikutnya Khadijah kemudian mengajak Nabi bertemu Waroqoh. Shahih Bukhari menjelaskan ia anak paman dari skhadijah, Shahih Muslim ia pamananya Khadijah. Waroqoh adalah seorang Nasrani yang cerdas, suka traveling, memiliki wawasan kitab-kitab masa lalu berbahasa Ibrani. Ia juga pernah menerjemahkan kitab suci Injil Ibrani ke Bahasa Arab.  Waroqoh menjelaskan kepada Nabi dan Khadijah menurut kitab masa lalu ada nabi terakhir bangsa arab dan itulah Nabi Muhammad SAW. Disini nampak Khadijah mencari back up (dukungan) secara intelektual. Karena ini bukanlah peristiwa yang sembarangan.

Menurut Waroqoh, kejadian yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW di gua Hira itu adalah namus yang pernah datang kepada Nabi Musa. Bukan syetan atau iblis, tapi namus disini malaikat. “Engkau adalah nabi seperti Nabi Musa” Ucap Waroqoh. “Seandainya aku masih muda, aku akan membelamu” lanjut Waroqoh. Nabi berkata ”apakah kaumku akan melawanku?”. “iya, mereka akan memusuhimu” jawab Waroqoh.

Inilah proses bagaimana awal mula Nabi Muhammad menerima wahyu surah al ‘Alaq. Nabi adalah manusia biasa yang muncul keraguan ketika mendapatkan wahyu. Nabi tidak yakin apa yang terjadi pada dirinya, keraguan inilah akan mendatangkan keyakinan, itu berada pada satu titik yaitu cinta.

Ada kisah sahabat Nabi yang datang kepada Rasul menanyakan keraguan wujud Allah. Nabi menjawab apakah kalian telah merasakan keraguan pada titik itu, itulah keraguan iman. Jika mendapatkan pengetahuan baru, kita perlu meyakininya itulah iman.  Saat keyakinan menguat, membawa manusia melintasi batasnya, maka Allah akan menguatkan keraguan itu.

Peristiwa di atas meyakinkan kita semua untuk menjadikan al Quran sebagai pedoman hidup bagi manusia. Al Quran bukanlah lembaran yang ditaruh di atas rak lemari, namun di baca dan diresapi isi kandungan ayat al Quran dan lebih-elbih diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pengurus LP Ma’arif NU Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES