Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Ngaji Matematika (13): Nilai-nilai Logika dalam Surat Al-Fatihah

Rabu, 13 Mei 2020 - 15:08 | 304.25k
Abdul Halim Fathani, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang
Abdul Halim Fathani, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANGAL-QUR’AN terdiri atas 114 surat. Salah satunya surat al-Fatihah, yang merupakan surat yang berada di urutan pertama dalam al-Qur'an sekaligus sebagai induk atau ibunya al-Qur’an (Ummul Qur’an). Surat al-Fatihah termasuk dalam kelompok surat Makkiyah (diturunkan di Makkah) dan terdiri dari 7 (tujuh) ayat. Jumlah huruf yang ada dalam surat al-Fatihah adalah 139 huruf, yang terangkai dalam 25 kata.

Surah al-Fatihah ini setara dengan dengan sepertiga dari al-Qur’an. “Barangsiapa yang membacanya setara dengan membaca sepertiga dari al-Qur’an. Bagi umat Muslim, atau bisa juga non Muslim, Surat al-Fatihah ini bukan sesuatu yang asing. Sebagai seorang Muslim yang dalam sehar-harinya, minimal menunaikan shalat maktubah 5 waktu, maka dapat dipastikan membaca surat al-Fatihah sebanyak tujuh belas kali

Advertisement

Tidak hanya di situ, kita sebagai seorang Muslim juga membaca surat al-Fatihah dalam ketika menunaikan shalat-shalat Sunnah. Di samping itu, juga membaca surat al-Fatihah dalam berbagai acara ‘hajatan’ lainnya, seperti ketika membuuka acara seminar, workshop, selamatan, tahlilan, ketika setelah berdoa, dan masih banyak kesempatan aktivitas dzikir lainnya. Surat al-Fatihah memang menyimpan rahasia dan keistimewaan yang luar biasa. Bahkan, ada juga yang menjadikan surat al-Fatihah sebagai perantara dalam pengobatan, perantara dalam keperluan tertentu atau keperluan supaya cepat mendapatkan jodoh, dan lain sebagainya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dalam tulisan ini, tidak dimaksudkan untuk membahas rahasia dan keistimewaan surat al-Fatihah. Namun, saya tertarik untuk menyajikan nilai-nilai logika matematika yang terkandung dalam surat Al-Fatihah. Ulasan ini saya sarikan dari tulisan Irawan (2005) yang telah terbit di Jurnal Saintika, berjudul “Nilai-nilai Logika Matematika dalam Al-Qur’an” Saintika, No. 4 Tahun 3 Januari-April 2005.

Sebelumya, Marilah kita mengingat kembali mengenai ‘implikasi’ dalam logika matematika.

Misalkan p dan q adalah pernyataan. Suatu implikasi (pernyataan bersyarat) adalah suatu pernyataan majemuk dengan bentuk “jika p maka q”, dilambangkan dengan  p --> q. Pernyataan p disebut hipotesis (ada juga yang menamakan anteseden) dari implikasi. Adapun pernyataan q disebut konklusi (atau kesimpulan, dan ada juga yang menamakan konsekuen). Implikasi bernilai salah hanya jika hipotesis p bernilai benar dan konklusi q bernilai salah; untuk kasus lainnya adalah benar.

Terdapat perbedaan antara implikasi dalam keseharian dan implikasi dalam logika matematika. Dalam keseharian, pernyataan hipotesis/anteseden p haruslah memiliki hubungan dengan  pernyataan konklusi/konsekuen q. Misalnya, pada contoh implikasi sebelumnya, “Jika sore nanti tidak hujan maka saya akan mengajakmu nonton”. Terdapat hubungan sebab-akibat. Dalam logika matematika, pernyataan hipotesis/anteseden p tidak harus memiliki hubungan dengan konklusi/konsekuen q.

Sekarang, perhatikan surat al-Fatihah ayat yang keenam dan ketujuh, yaitu ayat yang berarti “... tunjukkan kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya ...”.

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

Tunjukkan kami jalan yang lurus

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ayat tersebut dapat kita tuliskan dalam suatu pernyataan implikasi seperti berikut.

 “Jika berada pada jalan yang lurus maka Allah swt memberi nikmat”

Pernyataan di atas bernilai benar (B). Kebenaran ini dikarenakan bahwa semua ayat-ayat dalam al-Qur’an adalah bernilai benar. Al-Qur’an adalah wahyu dan kebenarannya adalah Ilahi atau kebenaran mutlak. Selanjutnya marilah kita kaji nilai-nilai kebenaran menurut ketentuan nilai kebenaran implikasi sebagaimana di atas.

Pertama: “Jika berada pada jalan yang lurus maka Allah swt memberi nikmat”

Ini adalah pernyataan pangkal yang nilainya sudah benar (B). Pernyataan ini terjadi dalam realitas. Selama ini telah mengakui, meyakini, dan merasakan kenikmatan Allah swt. Banyak kejadian-kejadian yang telah menunjukkan pernyataan tersebut. Seperti pengakuan seorang penjual bakso yang meyakini bahwa karena ia selalu rutin sholat tepat waktu (dan tidak pernah meninggalkan sholat), ia merasakan dagangannya selalu laris manis setiap hari. Semua itu karena Allah swt memberi kenikmatan yang melimpah.

Kedua: “Jika berada pada jalan yang lurus maka Allah swt tidak memberi nikmat”

Pernyataan ini bernilai salah (S), karena Allah swt selalu memenuhi janji-Nya yaitu bila kita melaksanakan semua ajaran-Nya maka kita akan mendapat balasan berupa kenikmatan. Ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an pada surat al-Hajj ayat 63–66 tentang nikmat Allah swt kepada manusia; surat al-Hajj ayat 14 tentang balasan terhadap orang-orang yang beriman dan beramal sholeh; surat al-Mulk ayat 12 tentang janji Allah swt kepada orang mukmin; surat al-Baqarah ayat 62 tentang pahala pahala bagi orang yang beriman; surat Luqman ayat 1-11 tentang jaminan bagi orang-orang yang beriman (jaminan kenikmatan). Masih banyak ayat-ayat dalam surat-surat yang lain yang juga menunjukkan balasan atas ketaqwaan kepada Allah swt.

Ketiga: “Jika tidak berada pada jalan yang lurus maka Allah swt memberi nikmat”

Pernyataan ini dapat bernilai benar (B), dan ini terjadi dalam realitas. Saat ini kita masih dapat melihat dengan nyata bahwa banyak orang-orang non-muslim yang memiliki segudang kekayaan harta. Mereka masih diberi kenikmatan duniawi oleh Allah swt. Kita tidak perlu merasa iri terhadap realitas ini. Justru hal ini menjadi tantangan bagi kita untuk selalu meningkatkan pelaksanaan ajaran-Nya dengan ikhlas.

Keempat: “Jika tidak berada pada jalan yang lurus maka Allah swt tidak memberi  nikmat“

Pernyataan ini bernilai benar (B). Pernyataan ini merupakan peringataan bagi kita seperti yang ditunjukkan dalam surat al-Nahl ayat 104-113 tentang orang-orang yang jauh dari hidayah Allah swt, surat al-kahfi ayat 54-59 tentang akibat tidak mengindahkan peringatan Allah swt, surat Thaha ayat 128-135 tentang beberapa peringatan dan ajaran tentang tentang moral; surat al-Mulk ayat 16-30 tentang ancaman Allah swt kepada orang-orang kafir; serta ayat-ayat dalam surat-surat yang lain yang menerangkan adzab dan siksaan Allah swt terhadap orang-orang yang tidak bertaqwa kepada-Nya.

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil hikmah, bahwa logika matematika yang telah kita pelajari selama di bangku sekolah maupun kuliah, yang nota bene merupakan sifat penalaran manusia itu termaktub dalam al-Qur’an. Ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa al-Qur’an merupakan sumber inspirasi dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika. Kita dapat belajar logika matematika dengan menggunakan al-Qur’an sebagai sumber. Alhasil, belajar matematika juga harus bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan kitab suci al-Qur’an. [ahf]

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Oleh: Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES