Kopi TIMES

Mengembalikan Rasa Bangga sebagai Warga Bangsa

Jumat, 15 Mei 2020 - 06:29 | 45.10k

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Jika dirasakan secara saksama bangsa ini telah kehilangan sesuatu yang amat berharga, yaitu karakter atau dalam Islam disebut akhlak. Akibatnya sudah tidak ada lagi yag bisa dibanggakan. Bukan bangga di hadapan orang asing, tetapi juga di hadapan  generasi mendatang secara sambung menyambung.

Sebuah kecelakaan yang amat parah, ketika sebuah  generasi tercatat dalam sejarah gagal  mewariskan nilai-nilai yang dipandang mulia dan membanggakan.

Advertisement

Generasi 1945 berbangga karena telah meninggalkan sejarah perjuangan yang heroik, berhasil memerdekan bangsanya dari penjajah. Seharusnya generasi berikutnya juga berhasil meninggalkan prestasi  yang tidak kalah berharganya. Anak cucu akan bercerita bahwa kakek dan leluhurnya mati di medan perang, membela rakyat yang lemah dan miskin, mengusir penjajah.

Mereka akan merasa bangga  menjadi keturunan pahlawan yang telah memperjuangkan dan membela bangsanya. Leluhurnya lahir bukan sia-sia, tetapi mati justru  karena membela kebenaran dan generasi setelahnya.

Sangat berbeda umpama terjadi, generasi yang tidak bisa diceritakan tentang kehebatannya. Bahkan sebaliknya, misalnya  justru disebut-sebut menyandang karakter dan akhlak yang rendah. Kekayaan alam yang melimpah  tidak mendatangkan kemakmuran, tetapi justru sebaliknya,  menanggung hutang menumpuk.

Rasanya sedih jika generasi sekarang ini tercatat dalam sejarah,  bahwa penjaranya penuh sesak dan bahkan tidak muat,  diakibatkan oleh  banyaknya orang tertangkap dan diadili karena  korupsi. Generasi ke depan akan berbicara bahwa bangsanya telah mewariskan kesalahan fatal. 

Dimulai dari kecintaannya terhadap harta yang berlebihan, generasi ini telah melakukan apa saja tanpa kalkulasi  secara cermat. Kekayaan alam  terkuras habis, hutang menumpuk, rakyat miskin, tidak terdidik secara benar, dan berkarakter atau berakhlak rendah.

Oleh karena  terlalu mencintai harta, justru apa yang didapat tidak seimbang dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Bekerja sama dengan asing tanpa menghitung  resiko jangka panjang, ternyata membebani generasi ke generasi berikutnya.

Kearifan para tokoh berbagai bidang menjadi kering. Agama kehilangan ruhnya. Semua diukur dengan uang dan hanya untuk keperluan jangka pendek, atau hanya untuk hari ini. Wawasan jangka panjang dikorbankan  oleh kepentingan hari ini.

Berpikir pendek dan dekat  mendominasi dibanding berpikir mendasar dan berjangka Panjang. Para elite seharusnya tidak sekedar berpikir untuk hari ini,  tetapi berjangka panjang, sehingga hasilnya dapat  dibanggakan oleh generasi mendatang secara turun temurun. 

Birokrasi diwarnai oleh uang di semua sektor. Mereka berpandangan bahwa apa saja bisa diraih asalkan ada uang. Bahkan hingga lembaga Pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi  sudah mengedepankan uang dibanding prestasi keilmuan.

Orang pintar yang bergelar Doktor dan professor tidak dihargai jika tidak mendatangkan uang. Sebaliknya petinju dan artis lebih dihormati karena bisa dijual. Sedangkan professor dan Doktor belum tentu laku dijual. 

Kyai dan ulama juga sudah tidak sedikit yang dekat dengan kekuasaan. Lagi-lagi motifnya adalah uang. Kita lihat waktu kampanye apa saja. Kyai dan ulama dimanfaatkan untuk menghimpun suara. Akibatnya wibawa elite agama pun runtuh.

Tokoh agama tidak dihargai.  Agama ikut dijadikan bahan tertawaan. Begitulah yang terjadi. Mengerikan sekali. Yang belum banyak terjadi adalah salingh bunuh membunuh untuk berebut uang. Tapi tanda-tanda kearah itu sebenarnya sudah mulai tampak. 

Rasanya saat ini, kita sedang berada di zaman gelap. Yang kelihatan sekedar uang, harta,  dan kuasa. Sesuatu bisa  bertahan asalkan masih mendatangkan hal-hal yang bersifat duniawi tersebut. Suasana seperti ini, rakyat menjadi tidak berdaya. Mereka miskin dan menderita,  tetapi tidak memiliki kekuatan untuk keluar dari belenggu keadaan yang menyengsarakan dimaksud. 

Pertanyaan besar dan mendasar adalah, masih adakah  peluang untuk berubah keadaan tersebut menjadi lebih baik. Jawabnya adalah satu, yaitu harus bisa dan harus diubah.  Kita harus malu kepada generasi berikut  jika hanya mewariskan sejarah buruk. Yaitu menjadi generasi yang menguras habis kekayaan alam, meninggalkan beban hutang, catatan sejarah bahwa penjara penuh karena banyak pemimpin terlibat korupsi, dan berakhlak buruk.

Asal mau saja, cara memperbaiki keadaan tidak sulit, yaitu secara bersama-sama  mau bertekad memperbaiki dan mengubah dirinya sendiri. Jangan mengajak orang lain, tatkala dirinya belum berubah. Mengubah kepribadian, mental, dan akhlak tidak bisa dilakukan oleh orang lain, melainkan harus oleh dirinya sendiri.

Jika kita tidak mau dipersalahkan oleh generasi mendatang, maka cara yang tepat adalah berusaha memperbaiki bangsa ini, dari dirinya sendiri. Jika generasi 45 dibanggakan oleh generasi setelahnya, kita seharusnya  tidak mau dianggap generasi salah, dan apalagi harus dicaci maki. Wallahu a’lam. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES