Kopi TIMES

Meneladani Rasulullah Saat Menghadapi Wabah

Rabu, 20 Mei 2020 - 10:01 | 65.06k
Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)
Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – dir="ltr">Saat menjalani kehiidupan, pasti akan dihadapkan pada beberapa persolan. Hidup sulit hanya berjalan mulus mulus saja. Saat kita bepergian, pasti ada belokan, ada jalan berlubang, ada persimpangan, dan lain sebagainya. 

Begitu juga kehidupan ini. Kadang di atas, terkadang juga ada di bawah. Suatu saat juga mesti melewati persimpangan. Saat yang lain, menemui halangan. Inilah yang disebut dengan dinamika kehidupan. Beberapa keadaan tersebut, jika dilihat secara positif akan menjadikan hidup ini warna warni. Dengan banyak warna membuat hidup terasa lebih indah.

Advertisement

Saat lepas dari beban kehidupan yang mendera, muncul kebahagiaan. Rasanya juga jadi bebas karena telah lulus dari ujian dan terbebas dari beban yang menghadang. Karena itu, datangnya ujian bukan untuk dihindari, akan tetapi harus dicari alternative solusi sebagai jalan terbaik. Jalan yang tidak banyak merugikan orang lain. Jika bisa, justru kedua belah fihak saling merasa nyaman.

Saat sekarang dimana hampir seluruh Negara di dunia mendapatkan ujian datangnya badai covid 19, yang tidak diketahui pasti kapan akan berahir. Setiap manusia dituntut mengambil jalan bijaksana agar terhindar dari mara bahaya tersebut. Jikalah ujian itu tetap datang, maka upaya untuk menyelesaikannya juga harus menjadi bagian dari mencari solusi.

Rasulullah saw., mengajarkan kepada ummatnya saat menghadapi musibah / ujian dalam beberapa pembelajaran kehidupan. Pertama, setiap masalah / ujian / musibah yang datang harus diyakini sebagai kasih sayang Allah kepada ummat manusia. Kasih sayang itu dapat berupa kenikmatan, peringatan, ujian, dan sejenisnya. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah saw : Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesakitan, maupun kedukacitaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah swt akan menghapus dosa dosanya dengan apa yang menimpanya itu (HR. Bukhori)

Kedua, ujian itu adalah salah satu cara Allah swt menjadikan kita lebih baik. Dengan ujian kita ditempa oleh berbagai persoalan dan kemudian berusaha untuk keluar dan lulus. Oleh karena itu, terhadap ujian yang diterima, manusia tidak boleh berputus asa, akan tetapi terus berusaha mencari jalan terbaik dan selanjutnya mampu bertahan. Bahkan jika mungkin, terus tumbuh dan berkembang. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori : Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah swt menjadi orang baik, maka ditimpakan musibah (ujian) kepadanya.

Ketiga, sabar dan ihlas menerima ujian sebagai sesuatu yang harus dijalani. Sabar itu diibaratkan oleh sayyidina Ali sebagai orang yang bisa membuat orang lain senang, meskipun dirinya sendiri lagi kurang senang dan nyaman. Sementara ihlas itu dapat diibaratkan orang yang lagi buang air besar, jika keluar lega dan tidak agi ingin melihat apa yang telah dikeluarkan. Bagi orang yang sabar dan ikhlas, menurut Rasulullah saw telah dijanjikan oleh Allah bahwa pahalanya tiada lain kecuali syurga (HR Ibnu Majah). 

Keempat, Tidak ada ujian yang abadi. Setiap ujian pasti sifatnya sementara dan pasti ada akhirnya. Oleh karena itu tidak perlu berputus asa atas ujian yang diterima. Pasti Allah akan memberikan jalan terbaik sesudahnya. Dibalik ujian, ada masa indah yang telah menanti

Kelima, ujian adalah saat manusia untuk berbuat kebaikan. Ujian adalah momentum ummat manusia untuk berbuat baik kepada yang lain. Rasa kesetiakawanan, empaty, dan sejenisnya biasanya tumbuh saat ada ujian yang menghadang. Dengan bersama, semua akan terasa lebih ringan dan lebih cepat diselesaikan.

Sebagai ummat Rasulullah saw, tidak ada kata lain kecuali mengikuti segala petunjuk dan ajarannya, serta menjauhi yang dilarangnya. Ini semua agar dapat menjadi ummat yang terbaik dan bersama Rasulullah saw menuju syurganya Allah swt. Bagaimana dengan anda ??

***

*) Penulis Noor Shodiq Askandar, Ketua PWLP Maarif NU Jatim dan Wakil Rektor 2 Unisma Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES