Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Tembang Sufi Mantiqut Thoir- 8 Keindahan yang Tersembunyi

Kamis, 21 Mei 2020 - 16:38 | 82.38k
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Keindahan yang diciptakan Allah di alam semesta dapat membuat setiap yang melihatnya terpukau. Keindahan itu sebagai representasi dari yang Maha Indah. Tuhan ingin membuktikan kepada kita bahwa di setiap keindahan yang kita rasakan dengan panca indra ini belum seberapa jika dibandingkan dengan keindahan sifat-Nya apalagi Dzatnya. Sayangnya kita hanya diberi toleransi untuk memikirkan sifat-sifat-Nya, sementara kita tidak diberi toleransi sekecil apapun untuk memikirkan Dzat-Nya. Itu rahasia Ilahi dan hanya ditampakkan kepada orang-orang yang Dia Kehendaki. 

Dibalik keindahan semesta yang sangat luas ini, terdapat keindahan-keindahan tersembunyi yang tak dapat dirasakan langsung oleh indra melainkan oleh hati. Keindahan tersebut kelau dianalogikan dengan teori Sigmund Freud bahwa dalam kesadaran yang tanpak oleh kita, hanya seperempat dari ketidaksaran yang kita miliki. Hal ini hampir sama dengan keindahan alam raya yang kita lihat sekarang, bisa jadi keindahan tersebut belum seberapa dari keindahan yang sebenarnya dibalik alam raya ini. 

Advertisement

Dalam menemukan keindahan sejati itu, tidak mungkin dapat menggunakan indra karena indra memiliki batasan apalagi menggunakan alat bantu yang lain. Semuanya memiliki batasan. Bagaimana kita hendak mengetahui sesuatu yang tidak terbatas dengan alat yang terbatas. Hal ini menjadi asumsi banyak orang bahwa rasio yang kita miliki hanya sebatas estetika matematis, sedangkan untuk melihat keindahan yang absolut dan hakiki, hanya sedikit yang percaya karena dipandang tidak bisa dilogika.

Contoh kecil yang dapat kita deskripsikan di sini ialah tubuh kita sendiri. Sebagian besar tubuh kita dapat dirasakan oleh indra kita masing-masing, tentang keindahannya bentuk, warna, ukuran, bahkan perpaduan dari semua bagian tubuh. Semua perbadua itu akan menjadi unsur yang akan menjadi kesimpulan bahwa tubuh tersebut indah ataukah sebaliknya. Namun, di sisi lain sifat dan karakter seseorang tetap disembunyikan oleh pemiliknya masing-masing. Tak ada yang tahu keaslian sifat dan karakter yang dimiliki oleh setiap orang. Hal itu karena orang yang akan melihat tidak memiliki kedekatan secara emosional dengan yang bersangkutan.

Kedekatan emosional pun bukanlah jaminan seseorang memahami karakter seseorang yang lain. Hal itu karena untuk mengetahui sifat dan karakter seseorang yang asli memerlukan sebuah strategi. Kesalahan strategi akan berdampak pada kesimpulan yang salah. Sehingga apabila ada empat orang yang sangat dekat dengan seseorang, belum tentu masing-masing memiliki kesimpulan yang sama terhadap penilain karakter seseorang tersebut. Dalam hal ini, pendekatan yang berbeda akan melahirkan hasil yang berbeda pula.

Desrkipsi tersebut, apabila kita implementasikan dalam lautan ibadah. Maka, kita akan menemukan sesuatu yang tak pernah kita sadari dan kita jumpai dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan ini, terdapat keindahan yang tak terlihat saat kita melakukan ibadah dan itu hanya bisa dirasakan oleh batin kita sendiri. Kita akan merasakan kesadaran seperti bangun tidur bahwa semua peristiwa yang kita jumpai di dalam mimpi hanya sebuah kenyataan dan keindahannya bersifat nisbi. 

Demikian juga saat kita terjaga dan membangkitkan kesadaran batin kita. Kesadaran batin yang kita bangun saat melakukan ibadah adalah lentera untuk menerangi alam-alam malakut yang tersembunyi. Kesatuan rasa, pikiran dan jiwa pada saat kita menyebut nama-Nya sebagai kunci pembuka rahasia-rahasia dibalik alam materi. Hanya saja logika sering menjadi perintang alam rahasia tersebut, sehingga batin seseorang tidak dapat menyaksikan secara leluasa.

Bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan menuju cinta-Nya, dia akan meraskan peristiwa peristiwa yang manakjubkan dalam perjalanan ibadahnya. Dia akan melihat bagaimana hembusan tasbih angin dan dadaunan melebihi tasbih yang dia lantukan. Dia akan melihat bagaimana takdzimnya alam semesta melibihi takdzim yang dia lakukan kepada Tuhan. Kemudian dia akan melihat alam yang Maha Luas, yang bentangannya tidak dapat dijangkau atau diukur dengan indra. 

Demikian juga dengan malam Lailatul Qodar. Secara harfiah semua orang akan mendapatkan malam itu karena hanya tejadi pada pulan Ramadan dan nabi menganjurkan untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir. Apabila seseorang teleh melakukan sholat tahajjud si setiap malamnya, pasti salah satu malam tersebut adalah adalah malam lailatul qodar. Apakah pernyataan ini benar, ‘wallahu a’lam bisshowab’. Namun, bagi seseorang yang berjalan dengan penuh kecintaan terhadap-Nya. Dia akan menjumpai pada di salah satu malam Ramadan, di mana semua tumbuhan akan berukuk dan bersujud kepada Allah. Dia akan melihat berbagai ruang besar dan kecil dipenuhi cahaya karena rahmah yang diturunkannya. Dia akan melihat keheningan dalam setiap kebisingan yang dia dengar dari telinganya.

Tentu masing-masing peristiwa yang terjadi pada seseorang sangatlah berbeda. Namun, saat peristiwa tersebut merupakan peristiwa immateri yang tanpak. Dia akan menyadari bagaimana kedahsyatan dari keindahan yang tersembunyi.

***

*)Oleh: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES