Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Tembang Sufi Mantiqut Thoir-13 Ilmu dan Kelopak Kesombongan

Rabu, 27 Mei 2020 - 07:45 | 36.22k
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Baju karismatik seseorang adalah ilmu yang dimilikinya. Semakin banyak ilmu yang dia miliki dan diamalkannya, semakin tinggilah kharisma yang dimilikinya. Demikianlah, ilmu dapat menjadi ‘Baju Antrakusuma’ sekaligus obat dahaga, sehingga Islam sangat menganjurkan pentingnya mencari ilmu. Islam menganjurkan untuk mencari ilmu mulai lepas dari gendongan seorang ibu sampai masuk ke liang lahat. Anjuran ini mengindikasikan bahwa secara simbolis hanya orang-orang yang berilmulah yang mendapatkan kekedudukan tinggi di hadapan Tuhan.

Secara implisit anjuran mencari ilmu dalam Islam tidak ada batasan usia. Selain itu, sebanyak apa pun ilmu yang telah diperoleh oleh seseorang asal diamalkannya tidak akan pernah mubadzir. Keluasan ilmu seseorang akan mengantarkannya pada derajat yang tinggi di hadapan Allah. Namun, dalam al-Qur’an, Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu beberapa derajat apabila dala hatinya beriringan keimanan kepada-Nya.

Advertisement

Dalam konteks ini, apakah ilmu kita senantiasa beroreintasi pada dunia, akhirat, ataukah kedua-duanya. Hal inilah yang harus dipahami terlebih dahulu. Ilmu yang paling baik adalah ilmu yang senantasa beroreintasi pada kehidupan akhirat. Walaupun ilmu tersebut adalah ilmu tentang keduniaan tetapi dioreintasikan pada akhirat, maka ilmu tersebut akan mengantarkannya menjadi kekasih Allah yang mendapatkan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Namun sebaliknya, banyak fenomena-fenomena di antara kita yang menggambarkan tentang pengadaian ilmu akhirat untuk kepentingan duniawi semata. Meskipun hal tersebut terlihat samar dalam berbagai aktivitas, sikap dan pebuatan, akan tetapi hal tersebut harus disadari oleh kita sendiri. Sejatinya ilmu yang kita peroleh untuk menambah keyakinan kepada Allah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk kepentingan komersial belaka atau untuk mendapatkan gelimangan harta dan kedudukan.

Begitu tipis Syaitan memperdaya kita untuk tidak menyadari bahwa yang telah kita lakukan tersebut adalah sebuah kesalahan. Oleh karena itu, semakin kita dapat merefleksi diri bahwa tujuan mencari ilmu dan mengamalkannya adalah untuk bermahabbah kepada Allah. Maka,  kita semakin mengukir ilmu itu untuk mejadi akar kepentingan akhirat. Dalam fenomena yang lain, terkadang kita lupa bahwa pujian orang lain terhadap ilmu yang kita dapatkan atau ilmu yang kita amalkan adalah cara Syaitan untuk menjerumuskan kita ke lembah kehinaan di depan Tuhan.

Sedemikian pentinya mencari ilmu, sehingga bagi Syaitan pun lebih takut kepada orang yang berilmu daripada orang yang beribadah yang sekedar ibadah. Maka, yang paling baik ialah bagaimana kita mengamalkan ilmu yang kita miliki untuk beroreintasi pada ibadah. Sebuah gambaran yang paling mudah ialah, apabila profesi kita sebagai insinyur teknik mesin yang setiap saat menggeluti besi dan percikan oli, akan tetapi dengan aktivitas tersebut kita menemukan sumber kebenaran yang hakikit tentang Tuhan, sejatinya kita boreintasi pada pengamalan ilmu yang benar dan untuk akhirat. Demikian juga sebaliknya, walaupun kita seakan-akan berada dalam sebuah dunia pendidikan yang beroreintasi pada akhirat, akan tetapi niat kita hanya untuk kepentingan duniawi, maka oreintasi kita jauh dari ibadah kepada Allah.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Fenomena yang sering kita jumpai juga dalam konteks kehidupan sehari-hari ialah kita sering merasa bahwa dengan ilmu yang kita miliki, kita merasa memiliki kelebihan dari orang lain dalam hal tertentu dan aktivitas terentu. Apabila hal ini terjadi, kita merasa memiliki kelebihan daripada orang lain dalam hal apa saja, kemudian yang terjadi ialah menganggap orang lain lebih rendah ilmunya daripada kita. Hal ini akan menjadi percikan kesombongan kita atas orang lain.

Saiyidina Ali r.a adalah sahabat yang sering disebut oleh Rasulullah sebagai pintunya ilmu. Tingkat keilmuan Saaiyidina Ali memang melebihi yang lain. Namun, ketika Saiyidina Ali merasa bahwa ilmunya tersebut telah melebihi sahabat lainnya, maka Rasulullah memanggilnya dan menyuruhnya pergi ke pinggir laut. Saiyidina Ali di suruh melihat ke tengah hamparan laut yang sangat luas mulai pagi sampai sore. Ketika sore hari, Saiyidina Ali menghadap Rasulullah dan melaporkan perihal yang dilihatnya selama sehari. Maka, jawaban Syaiyidina Ali, tidak ada yang dilihatnya kecuali capung yang terbang di atas laut.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Mendengar jawaban Syaiyidina Ali tersebut Rasulullah bersabda ya itulah ilmumu Ali dibanding dengan ilmu Allah yang sangat luas. Maka dari kontes narasi ini, kesombongan ilmu itu dapat mendatangkan murka kekasih Allah bahkan Allah sendiripun sangat enggan terhadap orang-orang yang berperilaku sombong, lebih-lebih karena ilmunya.

Selain cerita tersebut, kalau kita tarik mundur ke dalam kisah para Nabi. Nabi Musa adalah Nabi yang diberi kelebihan langsung untuk berkomuniasi dengan Allah dalam berbagai konteks. Suatu ketika dalam hatinya terbersit bahwa tidak ada hamba Allah yang melebihi kepandaiannya dalam beribadah. Mendengar suara hati Nabi Musa, Allah pun murka terhadapnya, sehingga Allah menegurnya dan mengatakan bahwa masih ada hamba-Nya yang lebih pandai dan lebih alim daripadanya.

Mendengar hal tersebut Nabi Musa kaget dan bertanya siapa hamba yang dimaksud. Kemudian Allah memberinya tanda-tanda agar dia menemui-Nya itu. Ketika hamba yang dimaksud adalah Nabi Khidir a.s. Semula Nabi Musa ingin mengikutinya dan ingin melihat seberapa pandai dirinya. Namun, dengan tiga ujian yang dibuat Nabi Khidir terhadapnya, Nabi Musa pun tidak lulus dengan ujiannya. Hal ini menandakan bahwa dengan kesombongan ilmu yang kita miliki, hanyalah menjadi tabir penghalang ilmu sampai kepada Allah dan menjadi penghalang tujuan hakiki dari mencari ilmu tersebut. Wallahu a’lam.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

*)Oleh: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES