Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Manusia Berderajat 'Ningrat'

Jumat, 29 Mei 2020 - 17:30 | 34.41k
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis buku Hukum dan Agama.
Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis buku Hukum dan Agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Manusia terkadang tidak menyadari kalau dirinya adalah makhluk utama (muliaa) yang diciptakan oleh Allah SWT. Kondisi ini dapat terbaca dalam sikap, perilaku, atau peran yang tidak ditunjukkan kalau dirnya adalah makhluk pilihan. Akibatnya, ada banyak peristiwa atau kondisi buruk yang semestinya bisa dicegah, tetap saja terjadi, yang tentu saja membawa kerugian yang tidak sedikit bagi manusia  itu sendiri dan makhluk Tuhan  lainnya.

Di dalam Kitab suci Al-qur’an, jika manusia mau belajar mengambil hikmah di dalamnya, tentu tak akan pernah kehabisan. Ilmu di yang terkandung di dalam Al-Qur’an berlaksa jumlahnya, tak ada bandingnya di dunia, meski seisi bumi dan langit dikumpulkan jadi satu sekalipun untuk menandinginya, karena di dalamnya mencerminkan sebagian Ilmunya sang Pencipta, yang idealisasinya bisa atau harus digunakan sebagai “garis besar haluan hidupnya”.

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Para pengaji Kitab Suci tentu paham, bahwa Lukman al-Hakim, ahli hikmah yang namanya diabadikan sebagai salah satu sosok teladan dalam Alquran, suatu ketika ditanya oleh putranya, ''Apa yang paling baik dimiliki oleh setiap orang?''

Beliau menjawab, ''Agama!''
Sang anak kembali bertanya, ''Jika dua?''
''Agama dan harta.''
''Jika tiga?''
''Agama, harta, dan sifat malu.''
''Jika empat?''
''Agama, harta, sifat malu, dan akhlak yang baik.''
''Jika lima?''

''Agama, harta, sifat malu, akhlak yang baik, dan sifat dermawan.''
''Jika enam?''

Lukman berkata, ''Wahai anakku! Seandainya yang lima itu terkumpul pada seseorang, maka ia akan jadi orang yang bersih dan terpelihara ketakwaannya serta selamat dari godaan setan.''

Memang betul kata Lukman, bahwa kelima unsur itu akan menentukan potret kehidupan manusia, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, makhluk hidup selain manusia, maupun dalam hubungannya dengan Tuhan. Kelima unsure itu sekaligus sebagai kekuatan yang mewarnai perjalanan hidup manusia di dunia dan akhirat. Kekuatan maupun kelemahan hidup manusia sebagai diri, pemimpin keluarga, pemimpin pemerintahan, dan abdi Tuhan, adalah ditentukan oleh kelima unsur itu.

Ketika manusia dihadapkan dengan suatu kegagalan dalam hidupnya, maka yang harus dilacak adalah keberadaan berfungsinya kelima unsur itu. Ketika suatu negeri banyak menghadapi ujian dari Tuhan, maka yang harus dipertanyakan, adalah apakah segenap elemen bangsanya tergolong manusia yang benar-benar bertakwa atau bukan? Ketika di tengah masyarakat banyak bertebaran saudara-saudara yang hidup dalam kemiskinan dan kefakiran, maka yang harus dipertanyakan adalah, apakah segenap elemen bangsanya masih punya kesalehan sosial, kaya sifat kedermawanan, atau tidak miskin komitmen kemanusiaannya?

Ketika suatu masyarakat sedang dibanjiri oleh berbagai problem kezaliman atau kemungkaran, tentulah kita perlu merefleksi, apakah benar tuduhan sebagian masyarakat yang menyebut, bahwa kita sedang mengidap krisis rasa malu yang serius, sehingga berbagai bentuk pelanggaran moral semacam pornografi dan pornoaksi kita tempatkan atau perlakukan sebagai pembenaran kreasi dan inovasi?

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau pertanyaan itu terjawab “ya”, alias kita belum menjadi masyarakat dan bangsa yang layak menyandang derajat nan ningrat seperti yang didambakan Lukman, tentulah perjalanan kita masih panjang untuk mendapatkan kehidupan berbingkai kesejahteraan, kedamaian, dan kemuliaan.

Kita masih sulit bercerai, atau  jadi kawan yang lekat dengan berbagai bentuk krisis dan cobaan, termasuk menghadapi pandemi Covid-19 sebagai sampeelnya, karena kita masih tergiur menjatuhkan pilihan untuk memilih derajat yang digariskan atau dalam bimbingan setan.

Derajat ningrat hanya layak dimiliki oleh manusia beragama yang benar-benar konsisten menjaga kesucian agama yang dipeluknya, manusia berharta yang cara memperoleh hartanya  tidak dengan jalan melanggar norma hukum dan agama, manusia berakhlak, yang kokoh dan teguh menjaga citra dirinya dari serbuan berbagai bentuk pengaruh budaya dan gaya hidup yang bermaksud menjerumuskannya,  punya rasa malu ketika digoda untuk berbuat maksiat, manusia berjiwa dermawanan, yang kedermawanannya dilabuhkan untuk membebaskan dan memerdekakan derita kaum miskin dan orang-orang yang lemah (mustadh’afin), yang jumlahnya sangat banyak.

Manusia berderajat ningrat itulah yang sekarang sedang dibutuhkan oleh bangsa ini dalam “peperangan” atau “berdamai” dengan pandemi Covid-19. Tatkala bangsa sedang menderita penyakit yang berdampak luka komplikatif seperti ini, salah satu opsi yang bisa dikedepankan adalah tampilnya manusia-manusia berjiwa mulia, pengabdi nan setia, dan pejuang di garis depan kemasalahatan umat di berbagai lini kehidupan, khususnya lini kesehatan, perekonomian, dan pangan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis buku Hukum dan Agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES