Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Tembang Sufi Mantiqut Thoir-14, Belajar Menerima dengan Cinta

Sabtu, 30 Mei 2020 - 06:50 | 42.95k
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Sekawanan burung yang pimpin oleh Hudhud telah sampai di pinggir sungai yang sangat panjang dan luas. Hudhud mulai berkata pada sekawanan burung tersebut bahwa perjalan mereka melebihi panjangnya sungai ini. Dalam dan luasnya pun melebihi sungai tersebut. Tidak ada pertanyaan dari sekawanan burung yang selalu takdzim pada Hudhud. Saat hinggap di dekat pohon cemara yang sangat rimbun mereka mendengar suara nenek yang menengadahkan wajahnya sambil berkata “Ya Tuhan bagaimana caranya aku dapat puas dalam beribadah dan memuja-Mu?” Wajah keriputnyapun muncul di cela-sila sinar matahari. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba dari celah ceramara yang rimbun terdengar suara, “Belajarlah menerima dengan cinta.”

Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Hasrat yang kita yang sangat tinggi dalam segala hal terkadang membawa kita ke situasi yang tidak menentu. Terkadang kita kurang menerima dengan segala hal yang kita peroleh selama ini. Padahal orang lain di sekitar kita banyak yang lebih menderita daripada kita. Mereka memiliki wajah yang sangat sejuk, penuh dengan senyum dalam menjalani kehidupan ini. Bagi mereka anugerah Tuhan adalah segalanya yang mereka syukuri dengan penuh lapang dada. Namun di sisi lain, kita terkadang tidak bisa seperti mereka. Mensyukuri nikmat Tuhan dengan penuh ketakdziman.

Advertisement

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Sikap menerima apa adanya sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam al-Qur’an dengan tegas Allah memberikan ulasan “Sesunggunya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, jika kamu mengingkari nikmatku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim, [14]:7). Menerima adalah perihal psikologis tentang berkesudahannya harapan yang terkadang melampaui batas. Namun, godaan dari kita sendirilah pada saat mendengar, melihat, dan merasakan cenderung memiliki hasrat yang lain melebihi sebelumnya bahkan terkadang tidak rasional. 

Munculnya hasrat untuk memiliki hal lebih tersebut terkadang muncul dari unsur luar, dari tetangga, teman yang memiliki sesuatu yang lebih dari yang kita miliki. Maka dengan demikian, keinginan tersebut harus dituruti untuk meredakan gelolak psikologis. Namun, saat keinginan tersebut sudah tercapai, apakah tidak akan muncul gejolah lain untuk memiliki yang lebih. Selagi kita belum dapat menekan hawa nafsu, keinginan tersebut akan tetap ada. Maka, anekdonya ialah seandainya teman atau tetangga kita dapat membeli bulan, maka hasrat yang ada dalam keinginan kita ada bagaimana dapat membeli matahari. Semuanya pasti mustahil karena dalam keinginan kita yang tak terhingga terkadang ada yang tidak dapat dilogika.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Jalan satu-satunya ialah kita harus dapat melihat orang lain yang status dan pendapatannya jauh di bawah kita. Kita harus melihat orang lain yang memiliki kekurangan di bawah kita. Hadirkan kesadaran kita pada saat melihat orang tersebut dan katakanlah pada diri sendiri. Bahwa kita jauh lebih beruntung daripada mereka dan memang sepatutnya kita dapat membantu mereka. Dengan cara seperti inilah hati dan psikologis kita akan bersahabat dengan berbagai keadaan sehingga dengan cara seperti itu batin kita bisa tenang dan kita dapat menerima pemberian Tuhan dengan penuh rasa syukur dan cinta.

Sejatinya kita memang tidak sempurna, akan tetapi dengan perubahan sikap kita dalam menyukuri yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Maka, kita akan menjadi orang-orang yang terbaik dan sempurna di hadapan Tuhan. Dalam mengisi kefitrahan kita di bulan Syawal ini sudah seharusnya kita menjadi orang-orang yang mengedepankan hati kita daripada nafsu yang setiap saat ingin menjerumuskan kita.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Menerima dengan penuh rasa cinta berarti dapat berkompromi dengan berbagai situasi dan kondisi bahwa sesuatu yang kita miliki atau yang baru dimiliki adalah yang terbaik dari Tuhan. Bisa jadi semua harapan kita ditumpahkan pada saat kita bermunajat kepada Allah. Namun di antara sekian banyak yang kita minta, Allah hanya memberikan beberapa saja. Sejatinya, Allah menerima semuanya, akan tetapi Allah Maha Tahu kapan yang kita minta itu diberikan. Kita seharusnya yakin dan selalu berkhusnudzan kepada Allah tentang segala yang telah diberikan kepada kita. Logika kita baik, akan tetapi logika Tuhanlah yang lebih baik.

Kita mengetahui bahwa jamu sangatlah pahit, akan tetapi dibalik kepahitan itu terdapat ‘rasa yang sangat manis’ dan berguna untuk seluruh tubuh. Kita tahu bahwa gula terasa manis, namun dibalik manisnya terkadang dapat melukai tubuh. Demikian juga dengan madu selalu kita idam-idamkan rasa manisnya setiap saat. Di dalamnya meyimpan spora bakteri botulisme yang dapat menyebabkan berbagai hal untuk Kesehatan tubuh. Maka kembalilah pada keadaan menerima setiap pemberian Tuhan dengan rasa bersyukur dan penuh dengan cinta atas segala pemberiannya. Maka, nikmat Tuhan ditambah untuk kita. Wallahu a’lam.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

*)Oleh: Moh. Badrih, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA / Aktivis Remaja Masjid Kota Malang / Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES