Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Makna di Balik Syawal

Senin, 01 Juni 2020 - 08:10 | 126.91k
Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur.
Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur.
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG“Allah tidak akan melihat ketampananmu, baju kebesaranmu, akan tetapi Allah akan melihat apa isi hatimu” (Al Hadits).

Tidak terasa kita sudah dalam bulan syawal, dilewati bersama setelah ramadhan sebulan penuh. Syawal mempunyai arti peningkatan. Peningkatan disini adalah meningkatnya ibadah yang sudah dilakukan selama bulan Ramadhan.  Setelah berlatih ibadah selama bulan Ramadhan. Latihan menahan rasa lapar, latihan menahan hawa nafsu, menahan rasa marah, menahan keluar rumah saat pandemic covid-19, berlatih membaca al Quran, qiyamul lail dan ibadah lainnya.

Advertisement

Di Bulan Syawwal ini, bukanlah bermalas-malas dalam beribadah, justru harus ditingkatkan atau minimal mempertahankan ibadah saat bulan Ramadhan. Karena beberapa tanda amal ibadah selama puasa diterima itu adalah ibadah setelah bulan Ramadhan meningkat. Mengingat manusia itu imannya yazid wa yankus (bertambah dan berkurang), maka salah satu cara pembiasaan ibadah kepada Allah dengan istiqomah.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Jangan kita sia-siakan kesempatan emas amal ibadah di bulan Syawwal  ini. Fastabiqul khairot (berlomba-lomba dalam kebaikan). Tidak ada ceritanya seseorang hidup dua kali, kecuali kehendak Sang Khaliq. Kita percaya bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Sekali kesempatan itu lewat, maka penyesalan yang akan kita dapatkan. Allah sudah menakdirkan manusia untuk beribadah wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun (dan tidak aku ciptakan manusia dan jin kecuali hanya untuk beribadah)

 Agar penyesalan tidak datang di kemudian hari, sebagai insan kamil (manusia sempurna) terus berikhtiyar untuk ibadah di tengah pandemi covid-19 dan berdoa agar wabah corona ini agar segera selesai. Kesempuraan ciptaan Allah yang kita miliki, jika tidak di optimalkan semaksimal mungkin, maka sia-sia di bulan peningkatan ini. Kebiasaan yang sudah dikerjakan saat Ramadhan terus ditingkatkan. Seperti mulut digunakan selalu berdzikir kepadaNya, tangan selalu di atas (memberi) daripada meminta, kaki mengajak melangkah untuk berbuat baik kepada sesama, pemberian harta dari Allah senantiasa memberi shodaqoh bagi kaum fakir miskin. Bukankah manusia adalah akhluk paling unik di alam semesta dan juga paling sempurna laqod kholaqnal insana fi ahsan itaqwim (Sungguh Allah  benar-benar menciptakan manusia dalam keadaan sempurna).” (Q. S At Tiin: 4).

Namun, manusia tergolong orang merugi jika waktu work from home dan pray from home dihabiskan untuk mengurusi kejelekan orang lain daripada mengevaluasi diri sendiri. Daripada menyesali dirinya hidup pas-pasan, lebih baik sibuk itu mendekatkan diri kepada Allah. Tuhan tidak akan membeda-bedakan kepada hambanya. Semua manusia dihadapan Sang Pencipta sama, tidak ada pengecualian sama sekali. Presiden, polisi, guru, pejabat, tukang becak, tukang bangunan, maupun tukang sapu. Yang membedakan mereka semua di hadapanNya hanyalah ketaqwaannya dan hatinya. Dalam bulan syawwal inilah manusia diuji agar meningkat atau menurun ketaqwaannya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Semangat ibadah bulan syawal di tengah pandemi covid-19 meski dipompa. Kendati demikian beribadah kepada Allah nantinya jangan sampai disertai dengan riya’ (pamer) dan sum’ah (ingin dipuji orang). Seiring tempat ibadah nantinya dibuka, menjadi latihan ikhlas beribadah saat new normal benar-benar diberlakukan.  Saat berangkat ke masjid tidak ada lagi niatan ingin dipuji orang lain.

Banyak diantara kita yang tampan, cantik, kaya, hidup serba mewah tapi disisi Allah mereka orang yang hina. Banyak juga di sekitar kita orang yang miskin, tidak punya barang mewah namun mulia dihadapan Allah. Dalam kondisi apapun selalu mensyukuri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesempurnaan yang diberikan kepada Allah harus digunakan sebaik mungkin. Bersikap toleran, adil kepada sesama, menebarkan salam dan sapa ketika bertemu orang, senyum dan selalu gembira ketika dihadapan orang. Dikarenakan tabassumuka fi wajhi akhika shodaqotun (Senyummu kepada saudaramu itu adalah shodaqoh). Ini bagi sikap peningkatkan akhlak kita kepada sesama manusia. Kita bisa mencontoh perilaku-perilaku orang-orang yang sholih, sukses dalam karir hidupnya, sopan peringainya. Seperti halnya bijak bestari mengatakan: fal yandhuronna ila man fauqohu adaban, wal yandhuronna ila man dunahu maalan (Maka lihatlah kepada orang yang lebih tinggi darimu sopan santun, dan lihatlahkepada orang yang hartanya di bawahmu).

Seringkali kita latah dalam urusan harta. Melihat tetangga beli sepeda motor baru, kita ikutan beli. Tetangga membeli mobil baru, kita ikutan beli mobil baru. Tetangga beli TV ukuran 32inch, kita ikutan beli. Di bulan Syawal bukanlah ramai-ramai meningkatkan belanja benda dunia, namun peningkatan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan perilaku sikap baik kepada sesama.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Yoyok Amirudin, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : AJP-5 Editor Team
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES