Menakar Arah Gerakan mahasiswa Pasca New Normal
Sudah tiga bulan lebih berlalu masa perkuliahan dilakukan lewat daring/Online, pelaksanaan tersebut disebabkan karena adanya pandemi Virus Corona yang mewabah hingga keseluruhan dunia.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JAMBI – Sudah tiga bulan lebih berlalu masa perkuliahan dilakukan lewat daring/Online, pelaksanaan tersebut disebabkan karena adanya pandemi Virus Corona yang mewabah hingga keseluruhan dunia.
Perkuliahan yang dilakukan di rumah tersebut memberikan efek besar bagi mahasiswa, sebab banyak mahasiswa yang merasakan tidak efektif pelaksanaan perkuliahan yang dijalankan. Mulailah dari permasalahan kuota, jaringan di wilayahnya hingga keadaan tidak kondusifnya perkuliahan di rumah. Selain permasalahan yang dihadapi di perkuliahan, mahasiswa juga harus menghadapi berbagai problem politik yang dijalankan aparatur negara. Mulai dari permasalahan kartu prakerja, permasalahan bantuan sosial, hingga kebijakan DPR dalam mengesankan Peraturan perundang-undangan yang begitu cukup kontroversial.
Permasalahan yang dihadapi saat ini seharusnya bisa membuat seluruh lapisan mahasiswa harus bisa mengerti untuk sama-sama berjuang dan kerja keras untuk bisa berjuang dan belajar menciptakan segala jenis bidang yang unggul di masing-masing jurusan. Sejak merdeka Indonesia dari bangsa penjajah kita harus menahan pil pahit kalah maju dengan negara kecil seperti Malaysia, dan Singapura. Seharusnya kita yang memiliki wilayah alam dan sumber daya manusia yang begitu melimpah kenapa harus kalah dengan negara-negara kecil?
Pertanyaannya adalah masihkah mahasiswa Indonesia memiliki jiwa perjuangan dan semangat nasionalis yang tinggi? Saya rasa hanya beberapa saja yang memiliki. Mengapa penulis memiliki jawaban yang cukup pahit? Sebab banyak kita lihat nama mahasiswa sekarang hanya jadi bahan kemewahan saja bagi generasi sekarang. Lihat saja di sekeliling kampus yang kalian, bandingkan ada berapa banyak mahasiswa yang setelah melaksanakan perkuliahan duduk dan diskusi di kampus membahas mengenai permasalahan bangsa?
Bandingkan ada berapa banyak mahasiswa Membaca buku di perpustakaan kampus, dengan yang pulang ke rumah dan kongkow di cafe mewah serta tempat perbelanjaan. Yang lebih parah lagi menurut Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2015 yang diolah oleh lembaga Demografis Universitas Indonesia kesesuaian kualifikasi pekerjaan dengan latar pendidikan, memiliki ketidakcocokan sekitar 60,52 persen. Hasil tersebut berdasarkan survei dari 12.396.429 sampel yang bekerja usia 18-64 tahun dengan pendidikan Diploma I ke atas.
Tidak mengherankan banyak setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah tidak maksimal dalam proses implementasi kebijakannya, karena banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya masing-masing. Problem ini adalah konsekuensi dari seluruh mahasiswa yang melaksanakan pendidikan di perguruan tinggi tidak dilakukan dengan perjuangan yang baik. Melaksanakan perkuliahan hanya sekedar untuk memenuhi gelar saja, sehingga perjuangannya dalam melakukan pendidikan hanya sekadarnya saja. Tidak mengherankan banyak lulusan yang kalah dalam persaingan kerja karena kurangnya kompetensi.
Selain itu banyak problem mahasiswa aktivis yang berkecimpung dalam gerakan aksi dan konsolidasi hanya sebatas untuk mencari aksi panggung serta materiil semata dengan para politisi. Tak mengherankan jika hingga hari ini banyak mahasiswa yang melaksanakan aksi banyak yang menjadi tunggangan untuk kepentingan sekelompok orang atas nama kepentingan rakyat. Dengan adanya gerakan yang begitu tak mengherankan banyak pandangan aksi mahasiswa saat ini hanya untuk kepentingan tertentu, sehingga suara aspirasi masyarakat hanya bualan semata.
Baru-baru ini kita lihat saja banyak ketua BEM di perguruan tinggi negeri di Indonesia melaksanakan aksi untuk melambungkan nama mereka saja. Tampil di acara TV diwawancarai ke mana-mana, melaksanakan seminar di segala lini sektor, tapi lupa dengan aspirasi awal mereka dengan menyuarakan hak rakyat dimana ujung ujungnya peraturan perundang-undangan juga berhasil di sahkan.
Dari banyak problem yang ada bagi mahasiswa saat ini penulis mengharapkan gerakan mahasiswa ke depan setelah pasca New Normal untuk bisa sekuat tenaga berjuang dan belajar untuk masa depan bangsa. Membangun lini sektor teknologi, industri, pengusaha dan sebagainya dengan membawa jiwa nasionalisme demi kepentingan negara dan masyarakat. Selain itu problem gerakan mahasiswa saat ini haruslah diubah dengan membawa kepentingan dan hak-hak masyarakat, mengawali kebijakan negara hingga tuntas. Menjalankan kepentingan politik untuk kepentingan hal layak umum demi terciptanya cita-cita bangsa.
***
*)Oleh: Fathul Yasin, Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Jambi.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


