Kopi TIMES

Ketika Manusia Menjadi ‘Proyek’ Industri 

Apakah kalian pernah berpikir, apa jadinya jika manusia menjadi bagian dari ‘proyek’ industri? Apakah kehidupan mereka bisa menjadi lebih baik? Atau justru, malah terjerat dalam warisan sistem kapitalisme?

TIMES Indonesia,
Ketika Manusia Menjadi ‘Proyek’ Industri 
Agus Salim Irsyadullah, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SEMARANG Apakah kalian pernah berpikir, apa jadinya jika manusia menjadi bagian dari ‘proyek’ industri? Apakah kehidupan mereka bisa menjadi lebih baik? Atau justru, malah terjerat dalam warisan sistem kapitalisme?

Sebagian besar buruh mungkin tidak menyadari predikat ini. Apalagi bagi mereka yang awam pengetahuan. Yang mereka tahu hanya berangkat pagi, bekerja di bawah tekanan mesin, pulang, istirahat, dan di awal atau di akhir bulan nanti, ada transfer yang masuk ke rekening mereka. Penulis yakin hanya sebatas itu. 

Advertisement

Sistem perburuhan memang telah berlangsung lama. Bahkan, sejak Homo Sapiens bertransformasi menjadi Homo Deus, sistem semacam ini sudah ada. Revolusi industri yang terjadi sekitar abad ke-18 silam, menuntun Sapiens mengubah gaya hidup. Dan, sampai hari ini pun, industri telah mengeksploitasi jutaan tenaga kerja umat manusia hanya untuk memenuhi tuntutan produksi. 

Dalam lingkup kenegaraan, sah-sah saja menggunakan manusia sebagai ‘proyek’ besar industri. Apalagi sebagai negara berkembang seperti Indonesia, industrialisasi menjadi salah satu alternatif pembangunan ekonomi suatu negara. 

Maka, tidak heran jika kemudian pemerintah berani membuka lebar-lebar pintu ekonomi bagi perusahaan luar negeri ‘menjajah’ tanah air. Namun, proyek Industrialisasi kini mulai kehilangan ruang di perkotaan. Kota-kota menjadi sempit. Kepadatan ruang dan ancaman degradasi ekologi semakin nyata. Fenomena ini terjadi akibat kuatnya determinasi industrialisasi yang telah menjadi lokomotif pembangunan kota. Belum lagi, urbanisasi besar-besaran yang dilakukan masyarakat menambah parah keadaan kota. 

Mau tak mau, pemerintah terpaksa membangun lahan industri di pedesaan. Hutan-hutan digunduli. Lahan petani dirampas atas nama industri. Dan, ruang pedesaan yang dulunya asri, perlahan tapi pasti, terkepung corong industri. Di Kabupaten Brebes dan Batang misalnya, sejumlah perusahaan besar asing menanam saham di kawasan tersebut. Tentu dengan jaminan dan iming-iming selangit. 

Bukan hanya ekologi, dua kabupaten di Jawa Tengah yang belum banyak terjamah industri besar itu pun berada dalam ancaman ‘proyek’ industri lain. Dengan melihat masih banyaknya lahan kosong yang tersedia, bukan tidak mungkin ini akan menjadi pintu masuk industrialisasi menjajah di pedesaan.   

Advertisement

Yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa negara serakus dan seambisius itu untuk mengejar dominasi ekonomi atas negara lain;demi mendapat pengakuan dan peningkatan status? Bukankah ada cara lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian?

Atau, pemerintah ingin menjadikan warganya sebagai ‘proyek’ industri?

Hilangnya identitas manusia rasional 

Manusia memang membutuhkan uang dan makanan untuk bertahan hidup. Namun semua itu haruslah dikendalikan agar tidak menjadikan martabat manusia mengalami kemunduran. Sekali lagi, ketika manusia benar-benar menjadi ‘proyek’ industri, maka identitas manusia justru direndahkan oleh keinginan para penguasa, pada pemilik industri. Seolah-olah, manusia (baca: kaum buruh) menjadi objek industrialisasi yang patuh terhadap mesin raksasa. 

Industrialisasi (yang katanya) dipandang sebagai kunci dalam menghadapi tantangan revolusi industri, kini telah menindas dan merampas ideologi manusia secara perlahan. Mereka juga akan diubah menjadi sebuah alat sebagaimana di dalam pabrik.  

Dalam dialektika Kantian, ini menjadi kritik atas kebangkitan manusia dari ketidaknyamanan dirinya. Ketidakmampuan untuk menggunakan pemahaman dirinya tanpa petunjuk orang lain. Dan, ketidakmampuan yang membuat dirinya lupa esensi kehidupan yang sebenarnya. 

Hari ini, seperti apa yang dikatakan oleh pengikut Immanuel Kant, manusia justru kehilangan dirinya sendiri. Kebebasan manusia terkondisi dan diperalat oleh kekuatan di luar diri manusia yang, dimanfaatkan untuk kepentingan apa saja. Kapitalisme modern telah menghasilkan sistem “perbudakan sukarela”: hasrat mendahului rasionalitas. 

Apabila kehidupan pada abad sembilan belas ditandai oleh optimisme besar terhadap ilmu, sehingga pada zaman itu keyakinan akan keselamatan dan kesejahteraan manusia dinantikan dari ilmu, maka abad dua puluh situasi sudah berubah secara radikal. Abad ini lebih ditandai oleh keprihatinan dan pesimisme manusia terhadap masalah yang menghadang hidup, baik masalah yang menyangkut dunia, manusia maupun masyarakat (Bertens, 1987: 90).

Herbert Marcuse dalam bukunya ”One Dimensional Man”, menyatakan bahwa krisis yang melanda kehidupan masyarakat itu sebagai akibat dari kehidupan yang berdimensi satu, yaitu kehidupan yang diarahkan pada tujuan kelestarian dan peningkatan sistem kapitalisme modern. Dalam kehidupan yang berdimensi satu ini, manusia telah kehilangan kebebasan, kreativitas dan semangat kritis. 

Dalam situasi demikian, manusia menjadi enggan untuk berpikir. Tidak lagi bersifat kritis karena penalarannya telah digantikan oleh kekuasaan serta dorongan nafsu yang lebih mendominasi tindakan manusia. Sikap seperti ini, masih menurut Marcuse, sebagai akibat dari keadaan masyarakat yang berkelimpahan karena naiknya produktivitas.

Dari sini, bisa kita lihat bahwa masyarakat industri modern adalah masyarakat yang memang dibentuk untuk senantiasa berada dalam sebuah kebutuhan palsu yang bekerja sebagai bentuk dari kontrol sosial. 

Menarik untuk dinantikan, bagaimana kemudian manusia bertarung atas dirinya sendiri. Akankah ia berakhir menjadi boneka seperti yang dilakukan oleh Doflamingo di Dressrosa dalam serial One Piece?

***

*)Oleh: Agus Salim Irsyadullah, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia