Advertisement
Kopi TIMES

Habis Gibran Terbitlah Giring

Pembahasan seputar politik memang tidak pernah mengenal kata surut, sekalipun negara tengah dilanda bencana non alam berupa Covid-19.

TIMES Indonesia,
Habis Gibran Terbitlah Giring
Sukmasih, pemerhati isu komunikasi, sosial dan politik. Bertempat tinggal di Tangerang, Banten.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

BANTEN Pembahasan seputar politik memang tidak pernah mengenal kata surut, sekalipun negara tengah dilanda bencana non alam berupa Covid-19.

Usai kontestasi pilpres 2019 dimenangkan oleh Joko Widodo, dunia politik sempat digemparkan dengan kehadiran putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka yang masuk dalam bursa pilkada 2020.

Advertisement

Putra Sulung Presiden Joko Widodo tersebut digandeng PDI-Perjuangan untuk maju dalam kontestasi pilkada 2020 sebagai calon Wali Kota Solo.

Etika politik pun menjadi pertanyaan yang paling menghujam untuk Gibran.

Dalam kontestasi politik yang demokratis, tentu tidak ada larangan untuk siapapun maju dalam ajang pilkada, pilpres atau pemilu. Namun, kehadiran Gibran di dunia politik terbilang tiba-tiba.

Belum lagi, Gibran sempat mengatakan tidak tertarik untuk masuk ke ranah politik. Seperti menjilat ludah sendiri, kini Gibran yang tidak memiliki pengalaman di dunia politik tanpa ragu maju sebagai calon Wali Kota Solo.

Usai polemik majunya putra sulung Presiden Joko Widodo sebagai calon Wali Kota Solo, kini dunia politik digemparkan dengan deklarasi Giring Ganesha untuk maju dalam pilpres 2024.

Advertisement

Kapasitas Giring Sebagai Anak Muda

Deklarasi Giring Ganesha untuk menjadi capres 2024 cukup menjadi hal yang kontroversial. Deklarasi yang dilakukan saat Presiden Joko Widodo belum genap setahun memimpin di periode kedua cukup membuat vokalis band Nidji ini terbilang terlalu awal untuk mendeklarasikan diri. Bersama Partai Solidaritas Indonesia, Giring Ganesha tengah menggiring anak muda untuk tidak ragu terjun ke dunia politik. Namun, menggiring anak muda agar masuk ke dunia politik dan memimpin negara sebagai presiden adalah dua hal yang berbeda.

Meskipun pada 2024 nanti Indonesia mengalami bonus demografi, yang membuat para pemilih akan berasal dari kalangan anak muda, bukan berarti Giring dapat dengan mudah mendapat dukungan pada 2024.

Seseorang yang akan mencalonkan diri dalam kontestasi pilpres 2024 tentunya perlu memiliki kapasitas yang cukup. Negara dan politik adalah dua hal yang harus dikelola dengan serius, karena berhubungan langsung dengan hajat hidup rakyat.

Mengutip Media Indonesia, hingga 15 Juni 2020 bursa capres 2024 terbilang sengit. Sejumlah tokoh daerah memiliki peluang untuk maju merebut kursi nomor satu di Indonesia.

Indonesia Elections and Strategic Research mengatakan, Giring Ganesha berhasil masuk sepuluh besar bursa capres 2024, meskipun elektabilitasnya masih di bawah 1 persen, yakni 0,9 persen.

Namun, sebagai catatan penulis, popularitas tak cukup untuk mengukur elektabilitas seorang calon presiden. Menurut KBBI, elektabilitas memiliki makna: kemampuan atau kecakapan untuk dipilih menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan.

Kemampuan dan kecakapan Giring Ganesha terbilang belum cukup untuk menyaingi sejumlah nama di bursa capres 2024. Kemampuan dan kecakapan seorang capres minimal dibuktikan dengan pengalaman memimpin yang memadai.

Bandingkan dengan Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan yang baru-baru ini menempati posisi pertama dalam bursa capres 2024. Prabowo memiliki pengalaman menjadi Ketua Umum di Partai Gerindra dan cukup mendongkrak partainya untuk mendapat perhatian masyarakat.

Atau mari kita sandingkan dengan pengalaman memimpin yang di miliki Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil, dua tokoh daerah yang sama-sama berusaha menarik perhatian publik dengan gaya kepemimpinan di daerahnya yang terbilang positif.

Untuk menuju pilpres 2024, masih ada waktu sekitar 3-4 tahun. Ini dapat menjadi momentum bagi Giring Ganesha menunjukkan kemampuan dan kecakapannya dalam memimpin. Posisinya sebagai plt Ketua Umum PSI juga dapat menjadi momentum tambahan bagi Giring untuk menaikkan elektabilitas partainya di kalangan anak muda. Dengan memanfaatkan waktu yang ada, maka deklarasi Giring bisa jadi tidak di anggap gimik semata.

Representasi Yang Muda Yang Berpolitik

Kehadiran PSI usai Pilgub Jakarta cukup menambah warna dalam dunia politik. Kehadiran PSI hampir selalu disertai sensasi, mulai dari tolak poligami, menantang partai lawas, hingga deklarasi capres. Dalam kacamata komunikasi politik, faktor krusial yang membuat komunikasi menjadi 'politis' bukanlah sumber pesan, tetapi konten dan tujuannya.

Dalam hal ini konten yang di angkat PSI hampir seluruhnya bertema, 'yang muda yang berpolitik'. Tujuannya untuk menarik massa dari kalanan anak muda agar secara sukarela terjun ke dunia politik dan mendukung partai berlogo bunga mawar tersebut.

PSI memunculkan tokoh-tokoh muda untuk maju dalam berbagai kontestasi politik, salah satunya pada pemilu 2019. Sejumlah nama-nama dari kalangan anak muda muncul sebagai calon di tingkat DPR-RI hingga DPRD. Baru-baru ini, PSI mengusung Giring Ganesha untuk menjadi calon presiden 2024. Sebuah konten yang penuh sensasi dan mengundang sensi sejumlah partai lawas.

Keberadaan Giring sebagai bagian dari PSI sejak 2017 cukup merepresentasikan 'yang muda yang berpolitik', namun popularitas aktor politik usungan PSI harus sejalan dengan kompetensi yang di miliki.

Aktor politik layaknya Giring Ganesha harus mampu mencerminkan politisi ideologis bukan politisi oportunis. Kemampuan untuk berpikir dan bersikap kritis diperlukan. Kritis yang dimaksud adalah kritis dengan memberikan jalan penyelesaian, bukan sekedar melempar komentar. Dengan demikian maksud baik Giring dan PSI untuk memberi pembaharuan terhadap wajah politik Indonesia dapat terwujud bukan sekedar gimik.

***

*)Oleh: Sukmasih, pemerhati isu komunikasi, sosial dan politik. Bertempat tinggal di Tangerang, Banten.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia