Kopi TIMES

Feizal Rachman, Berakhir dalam Gemilang Karir

Selasa, 13 Juli 2021 - 08:17 | 182.35k
Feizal Rachman.
Feizal Rachman.
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, PRIANGAN TIMUR – Selalu ada hal yang mengejutkan dari berita kematian. Padahal maut pasti datang dan bahkan kerap kali diperkirakan. Berita yang mengagetkan itu pada akhirnya datang. Kepala Pusat Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu Feizal Rachman berpulang pada Jumat malam, 9 Juli 2021 di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta Timur. 

Feizal wafat setelah melawan virus Covid-19. Pada Januari 2021 lalu, Corona sempat hinggap di tubuhnya. Pasca beberapa hari mengikuti program isolasi di Lido Sukabumi, virus itu dinyatakan sudah pergi. Menjelang ulang tahunnya yang ke-43, Corona kembali menerpanya. Batuk serta sesak napas yang dirasa mengharuskannya menjalani perawatan intensif sejak 4 Juli 2021. Ulang tahun ke-43 yang jatuh pada 5 Juli terpaksa dijalani di rumah sakit. 

Advertisement

Infus, alat bantu pernapasan dan oksigen menjadi teman pada hari-hari terakhir pria kelahiran Sumedang Jawa Barat itu. Selama empat hari bertahan, doa serta harapan terus digemakan. Namun Allah sang penguasa kehidupan menghendaki cerita yang berbeda. Liku jalan Feizal Rachman telah sampai pada akhir tujuan. 

Berakhir dalam gemilang karir

Jabatan sebagai Kapus Litbang dan Diklat Bawaslu diemban Feizal Rachman sejak 8 April 2021 lalu. Almarhum dilantik bersama sebelas Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama lainnya oleh Sekretaris Jenderal Bawaslu Gunawan Suswantoro. Menurut Gunawan, pelantikan tersebut merupakan kado bagi Bawaslu yang berulang tahun ke-13.  

Jabatan yang diemban Feizal Rachman merupakan buah pencapaian dari semangat kerja, aktivisme, kemampuan berjejaring, serta konsistensi memilih bidang pekerjaan. Mendekati usianya yang ke-43 tahun, pangkat eselon II berhasil diraihnya. Usia yang terbilang muda bila dibandingkan dengan para koleganya di lingkaran Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Bawaslu. Sayangnya, jabatan prestisius selaku Kapus Litbang dan Diklat Bawaslu itu hanya disandang selama tiga bulan. Masa tugas alumni Administrasi Negara FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta itu berakhir saat berada di gemilang karir. 

Di lingkaran alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Feizal Rachman menjadi sosok yang dibanggakan. Komisioner Bawaslu Rahmat Bagja menyebut, Feizal merupakan satu-satunya kader HMI yang berpangkat eselon II di Bawaslu. Di antara alumni Program Studi Administrasi Negara UNS, karirnya juga terbilang cepat untuk ukuran pejabat karir di kementerian dan lembaga negara. Akselerasi karir dan kepangkatan yang dirasakan Feizal tidak lepas dari peran seorang Gunawan Suswantoro yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Bawaslu Republik Indonesia. 

Angin perubahan 2009

Sebelum berkarir di Bawaslu, Feizal merupakan staf PNS di Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendagri. Saat masih berkantor di sana, saya pernah mengunjunginya. Ada pesan kecewa yang tertangkap dari obrolan yang disampaikan. Feizal merasa terbuang ditempatkan di Balitbang Kemendagri. Angin perubahan terbuka ketika teman dekat sekaligus ‘bapak’ Feizal dilantik sebagai Kepala Sekretariat Bawaslu. Sang bapak yakni Gunawan Suswantoro mengajak serta Feizal Rachman. Begitu pindah kantor ke Thamrin 14 – sebutan lain kantor Bawaslu – Feizal langsung dilantik sebagai pejabat eselon IV dengan posisi Kepala Sub Bagian Kajian Pengawasan Pemilu. 

Bergabungnya Feizal ke Bawaslu berimbas juga kepada saya. Pada Mei 2009, saya diajak serta berkantor di Thamrin 14 sebagai Tim Asistensi Bidang Humas dan Dokumentasi. Berkat rekomendasi Feizal kepada Kasek Bawaslu, saya akhirnya mencicipi bekerja di lembaga pemerintah yang tugas dan fungsinya berfokus pada pengawasan Pemilu. 

Dari Kasubag, Feizal meniti karir menjadi Kabag. Enam tahun berselang atau pada 2015, jabatannya naik menjadi Kepala Bagian Analisis Teknis Pengawasan dan Potensi Pelanggaran. Saat menjabat sebagai Kabag itulah, Feizal bersama unsur Sekretariat Bawaslu dan Komisioner Bawaslu terlibat aktif dalam penyusunan Indeks Kerawanan Pemilu atau IKP. IKP merupakan upaya dari Bawaslu RI untuk melakukan pemetaan dan deteksi dini terhadap berbagai potensi pelanggaran dan kerawanan agar siap menghadapi pelaksanaan Pemilu yang rutin digelar. Kerawanan didefinisikan sebagai segala hal yang menimbulkan gangguan atau menghambat proses pemilihan umum yang demokratis.

Politik dan Pemilu menjadi dua keping topik yang dekat jejak akademik Feizal. Skripsi dan tesis yang ditulisnya menyoal soal politik dan Pemilu. Begitu juga dengan jejak aktivismenya. Pada saat masih berstatus sebagai mahasiswa di FISIP UNS, Feizal bersama sejumlah alumni SMA 1 Tasikmalaya menggelar dialog calon Bupati Tasikmalaya dengan DPRD, Muspida dan Lingkar Mahasiswa Tasikmalaya di awal 2001. Feizal bertindak sebagai ketua panitia dan rekannya Hani Adhani bertugas sebagai sekretaris. 

“Kami mengumpulkan seluruh mahasiswa asal Tasikmalaya untuk membuat event besar tersebut dengan tujuan agar Tasikmalaya memiliki figur ideal, seorang pemimpin untuk kemajuan masyarakat Tasikmalaya,” kenang Hani Adhani dalam postingannya di Facebook pada 11 Juli 2021. 

Lompatan Feizal mulai terlihat saat dia memutuskan hijrah dari Tasikmalaya ke Jakarta. Karir pertamanya di ibukota negara adalah menjadi pegawai honorer yang membantu tugas-tugas Kabag Perencanaan Otonomi Daerah Kemendagri Dodi Riatmaji. Di tengah keterbatasan finansial yang ada, Feizal memberanikan diri untuk kuliah S2 di Ilmu Politik Universitas Indonesia. 

“Di UI itu kita tidak hanya kuliah, tapi juga membeli jaringan,” ujar Feizal pada sebuah obrolan ringan dengan saya. Pernyataan Feizal ini memang ada benarnya. Dalam hal urusan berjejaring, Feizal memang ahlinya. Dengan status sebagai pegawai Kemendagri, Feizal terlihat memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Terlebih kala mengenakan seragam warna hijaunya. 

Rutinitas kerja Feizal yang banyak bersinggungan dengan otonomi daerah ikut mengantarkannya bekerja di sebuah lembaga asing dari Jerman bernama GTZ. Menjelang selesainya kontrak, manajemen GTZ menawarkan kepada Feizal untuk melanjutkan studi ke Jerman. Putra dari almarhum Muhammad Santosa ini sempat gamang dan berkonsultasi kepada sang ayah. “Sudah, bertahan saja di Kemendagri,” tegas sang ayah.

Alhasil, Feizal terus berkarir di Kemendagri hingga berstatus sebagai PNS dengan NIP berawalan angka 010. Sebuah NIP yang sudah lama diidamkannya. 

Secara personal Feizal punya pembeda. Salah satu kelebihan Feizal terlihat dari ingatannya yang tajam tentang apa dan siapa. Apa ini menyangkut pengetahuan. Adapun siapa menyangkut nama orang. Ingatan yang baik ini terbangun dari kemampuannya bergaul dan berbicara secara nyaman dengan berbagai kalangan. Lingkaran pergaulan tidak hanya terbatas pada teman-teman satu program studi. Pergaulan Feizal lintas program studi dan juga lintas angkatan. 

Kata ‘apa’ menjadi kata kunci yang kemudian diubah menjadi mantra saat Feizal dipercaya menjadi pengelola Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) sejak 2017 lalu. Dalam sebuah unggahan di Facebook pada 18 Oktober 2020, Feizal menulis; bukan untuk menjadi apa, tapi bisa berbuat apa untuk menjaga demokrasi di Indonesia kita. Pesan tersebut dituliskan sebagai bentuk apresiasinya kepada para pemuda hebat dari seluruh pelosok tanah air yang dengan semangat besar mengikuti program SKPP. 

Kini, sang kepala sekolah itu telah tiada. Bukan hanya SKPP dan Pusat Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan Bawaslu yang dia tinggalkan. Feizal ikut merintis lahirnya TIMES Indonesia Priangan Timur. Meski berlatar pendidikan Administrasi Negara, Feizal pernah mencicipi asyiknya bekerja sebagai jurnalis saat kuliah di Solo. 

Di kota kecil itu, Feizal pernah menjadi reporter untuk Radio PAS FM. Saat hijrah ke Jakarta, Feizal dan saya pernah ikut seleksi ke Liputan 6 SCTV. Feizal lolos tes dan berkesempatan diuji oleh Karni Ilyas, sementara saya tidak lolos sejauh itu. Dunia media massa sepertinya menggelitik alam pikiran Feizal. Sebuah kewajaran saat dia ikut merintis TIMES Indonesia wilayah Priangan Timur. Selamat mengarungi keabadian sahabat. 

***

*) Oleh: Wildan Hakim, Sahabat, Dosen di Prodi Ilmu Komunikasi UAI, Peneliti di Institut Riset Indonesia. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES