Aktivisme dan Kotak Pandora Kekerasan Seksual
Perdebatan di dunia maya, tidak akan menemukan titik temu. Bahkan menggelinding seperti bola salju yang semakin membesar jika terus digulingkan. ... ...

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Perdebatan di dunia maya, tidak akan menemukan titik temu. Bahkan menggelinding seperti bola salju yang semakin membesar jika terus digulingkan.
Barangkali keriuhan di jagat dunia twitter saat ini dipicu dari perdebatan tentang volunterisme dalam rencana Ekspedisi Indonesia Baru yang akan dilakukan oleh jurnalis senior Farid Gaban dan Dandhy Laksono. Keduanya memiliki pengalaman berpetualang ke seluruh penjuru Indonesia dengan sepeda motor. Tujuan dari ekspedisi ingin menarasikan Indonesia dengan perspektif berbeda terutama membuka persoalan yang luput dari pemberitaan media.
Singkatnya, setelah forum di space twitter, salah satu co-host dengan nama akun @_haye_ yang juga merupakan kawan dari saudara Dandhy Laksono, melakukan cuitan di twitter yang melecehkan secara seksual kepada salah satu peserta diskusi tersebut. Tentu saja, cuitan pelecehan seksual tersebut memicu kemarahan warganet. Mereka mempertanyakan komitmen Dandhy dan Farid terhadap memberikan ruang aman yang nantinya ada peserta perempuan yang bergabung dalam ekspedisi tersebut. Bahkan beberapa pihak menilai Dandhy tidak memiliki komitmen terhadap isu pelecehan ataupun kekerasan seksual dikarenakan tidak tegas menegur kawan mereka sendiri.
Beberapa pendapat tersebut kemudian memicu perdebatan dan membuka satu persatu kasus perempuan yang mengalami pelecehan atau bahkan mengalami kekerasan seksual di lingkungan mereka, beberapa diantaranya dalam ekosistem dunia aktivisme.
Terbukanya Kotak Pandora
Satu pembelajaran penting dari kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh @_haye_ di twitter seolah membuka tabir gelap dalam dunia aktivisme. Sampai hari ini, terdapat dua korban yang akhirnya berani speak up terhadap trauma yang sampai saat ini mereka berusaha pendam.
Salah satu perempuan mengungkapkan bahwa ia mengalami kekerasan seksual dari aktivis Jogja yang saat ini kerap menyeuarakan isu-isu keadilan dan kemanusiaan. Dan bahka, ada satu perempuan lagi yang secara langsung membagikan pengalamannya melalui twitter bahwa ia tidak mendapatkan perlindungan sebagai korban kekerasan seksual saat ia bekerja salah satu reporter di salah satu media di Jakarta. Cuitan ini ditunjukan kepada Farid Gaban yang merupakan senior langsung waktu itu.
Saya masih meyakini bahwa kedua pengalaman perempuan ini bukanlah akhir cerita dari pengalaman perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual dari ekosistem aktivisme. Mungkin ada banyak kasus serupa yang dialami oleh perempuan tersebut namun mereka belum berani menceritakan pengalaman pahitnya sebagai korban. Sebelumnya, satu kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan juga pernah dilakukan oleh salah satu aktivis di Surabaya terhadap para koleganya di dalam ekosistemnya. Satu-persatu korban mulai angkat bicara atas apa yang mereka alami.
Kasus ini perlahan membuka sebuah kotak Pandora yang mana dunia aktivisme belum bisa menjadi ruang aman bagi para perempuan. Banyak perempuan yang terlibat dalam dunia ini mengalami kasus pelecehan hingga kekerasan. Dan saya meyakini bahwa sebagai korban mereka tidak mendapatkan keadilan, yang ada kasus mereka tidak direspon atau bahkan sengaja dibiarkan oleh para kawan atau kolegannya. Dan seringkali ketika mereka berusaha mencurahkan apa yang mereka alami dianggap oleh kolegannya sesuatu yang berlebihan dan tidak pernah diselesaikan.
Problem Maskulinitas
Dari beberapa kasus ini, saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa salah satu persoalan pelecehan ataupun kekerasan seksual yang ada di dalam ekosistem aktivisme karena persoalan maskulinitas. Persoalan ini tentu juga dipengaruhi oleh sistem patriarki di Indonesia yang begitu kuat. Dan itu terbawa dalam urusan organisasi ataupun dunia aktivisme.
Seringkali posisi laki-laki dalam dunia aktivisme ataupun organisasi komunitas menempati posisi struktural strategis seperti ketua. Sedangkan perempuan secara umum diempatkan pada aspek domestik seperti sekretaris atau bendahara. Konstruksi ini terus diulang-ulang dan menjadi sebuah kenormalan. Sehingga berdampak terhadap kesadaran dan pola pikir yang membentuk individu. Situasi ini secara tidak sadar mendorong laki-laki memberikan penjelasan kepada perempuan dengan meremehkannya atau kita mengenalnya dengan mansplaining.
Selain itu, laki-laki yang terlibat dalam kerja-kerja aktivis atau bahkan mendaku sebagai aktivis progresif selalu dielu-elukan atau diagung-agungkan. Tentu saja karena posisinya sebagai dianggap sebagai pemberani, rebel, atau seseorang yang berada di garda depan dalam perjuangan. Kondisi ini secara tidak langsung cenderung berpengaruh dalam psikologis mereka sebagai laki-laki yang terkadang merasa overconfident.
Belajar dari kasus ini memberikan gambaran kepada kita bahwa perempuan belum sepenuhnya memiliki tempat yang aman. Sekalipun pada ekosistem aktivisme yang mendaku memperjuangkan isu-isu keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, menjadi penting bagi organisasi sosial atau yang bergerak pada isu-isu yang berkaitan dengan aktivisme memulai mengarusutamakan isu gender dalam lingkungannya.
Selain itu, perlu secara sadar untuk menyerahkan ruang-ruang aktivisme kepada perempuan, karena hanya perempuan yang bisa memberantas kekerasan seksual. Pemberian ruang itu, mendorong perempuan untuk memberikan tafsir baru terhadap aktivisme itu sendiri dengan cara mendekonstruksinya.
***
*) Oleh: Abdul Kodir, Sekjen PPI UK 2021/2022 Mahasiswa Doktoral di University of York.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


