Kopi TIMES

Barisan Penjaga Peradaban di Padepokan Karangtumaritis

Rabu, 21 September 2022 - 12:22 | 85.62k
Dr. Hadi Suyono, S.Psi. M.Si, adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
Dr. Hadi Suyono, S.Psi. M.Si, adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Padepokan Karangtumaritis merupakan bagian penting dari kehidupan punakawan. Mereka berlatih menjaga adab, sopan-santun, etika, berperilaku lurus, peka, dan peduli saat berada dalam kehidupan masyarakat di tempat ini. Semar sebagai guru bangsa di Amarta memang berusaha mendidik anak-anaknya. Punakawan. Gareng, Petruk, dan Bagong berperilaku luhur. Selalu menapaki jalan lurus.

Tak menyimpan dari norma, adat, dan nilai-nilai spiritualitas. Karena bagi Semar yang lebih diutamakan dalam proses pendidikan. Baik di dalam keluarga maupun pendidikan formal. Idealnya mengasah budi pekerti. Sehingga anak memiliki ketajaman nurani melihat realitas. Mereka mampu memilah. Mana yang baik. Mana yang buruk. Mana yang boleh dilakukan. Mana yang tidak boleh dilakukan. Berpijak pada kebenaran. Menegakkan keadilan.  Dan berani melawan kebathilan.

Semar merasa bersyukur. Di Karangtumaritis. Selain sebagai tempat hunian yang nyaman buat dirinya dan anak-anak. Juga berfungsi sebagai tempat mendidik anak-anak di sekitarnya. Bahkan dari wilayah lain memiliki jarak yang jauh menyerahkan proses pendidikan anak-anak mereka pada Semar.

Para orang tua percaya menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada Semar. Karena rekam jejak Semar yang totalitas mengembangkan Karangtumaritis sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan softskills. Dari konsep  Semar berpondasi pada softskills menjadikan anak didiknya, ketika sudah paripurna belajar di Karangtumaritis, mampu memberikan kesejukan bagi lingkungan, memberi kontribusi bagi kemakmuran, dan berperan menumbuhkan kesejahteraan. Mereka adalah barisan penjaga peradaban.

Semar. Selain merasa bersyukur. Dirinya merasa nyaman. Sejauh ini upaya yang dilakukannya sesuai dengan skenario yang telah dirancang sebelumnya. Anak didik. Tumbuh dan berkembang dengan baik. Selalu saja ada hal kebaikan yang ditampilkan anak didik.

Atas keberhasilan  mengawal prestasi anak didik secara berkelanjutan. Tak boleh surut untuk membangun lembaga pendidikan di Karangtumaritis. Perlu menemukan ide-ide segar agar bisa dilakukan inovasi, formula baru, dan  kurikulum perlu terus diperbaharui dalam menerapkan proses pendidikan di Karangtumaritis agar memenuhi tantangan jaman.

Bertujuan untuk menjaga kualitas pendidikan di padepokan Karangtumaritis. Semar mengumpulkan Gareng, Petruk, dan Bagong yang setia ikut mengelola lembaga pendidikan yang telah dirintis oleh Semar. Agenda ini mempunyai makna strategis. Semar perlu memompa energi, memangkitkan motivasi, dan menginginkan mereka yang hadir dalam pertemuan itu berusaha lebih ekstra keras untuk meningkatkan kemampuan mendidik cantrik di Padepokan Karangturmaritis.

Maksud hati untuk memperbaharui seluruh aspek yang memberi sumbangan pada kemajuan pendidikan di Karangtumaritis. Hal ini karena berangkat dari kegelisahan Semar mendengar kabar perkembangan terkini keberadaan lembaga-lembaga pendidikan di kerajaan Kurawa. Semar memperoleh informasi. Kasus bertubi-tubi menimpa lembaga pendidikan di Kurawa.

Yang membuat hati Semar miris. Lembaga pendidikan yang berbasis spiritualitas. Seharusnya mampu membuat pendidik dan anak didik memiliki moralitas yang unggul. Tetapi kasus yang menyeruak ke permukaan menggerus moralitas. Di berbagai lembaga pendidikan terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan pembimbing pada anak-anak didik. Mereka telah menistakan dirinya sendiri, karena telah menodai harkat dan martabat proses pendidikan di padepokan yang masih berada dalam area kekuasaan Kurawa.

Seharusnya sebagai pembimbing menebarkan nilai-nilai kebaikan. Sehingga tumbuh pribadi anak dididk yang bermoral. Namun apa yang dilakoni pembimbing berbuat menyimpang dari rasa moralitas. Dampaknya membuat kondisi psikologis anak didik tergoncang yang bisa menghambat dirinya untuk mempersiapkan masa depan.

 Ada kabar lain yang diterima oleh Semar. Lembaga pendidikan di Kurawa telah menjadi ajang untuk melakukan kekerasan. Belum usai penanganan kasus meninggalnya cantrik karena mendapat perilaku bullying dari senior, ternyata kasus terjadi di padepokan lain. Tentu tempat kejadian perkara. Masih dalam wilayah kerajaan Kurawa.

Infonya gara-gara beradu mulut mengenai barang hilang di asrama padepokan. Tidak hanya beradu mulut. Mereka berkelahi. Salah satu dari mereka jatuh dari lantai tiga asrama. Naas. Jiwanya tidak tertolong. Meninggal di tempat yang seharusnya memberikan perlindungan bagi keselamatannya.

Jangan sampai peristiwa tragis di berbagai padepokan Kurawa menimpa  Karang Tumaritis dan padepokan lain di Amarta. Maka Semar menemui keluarga Pandawa untuk melakukan refleksi mengenai arah pendidikan untuk menyelamatkan cantrik. Dan mencari cara demi merajut masa depan lebih baik bagi mereka. Karena menyiapkan  masa depan anak didik. Juga menyiapkan masa depan Amarta agar terus bisa berdiri tegak. (9-Bersambung).

*****

*) Oleh : Dr. Hadi Suyono, S.Psi. M.Si, adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES