Kopi TIMES

Metamorfosa Asimetris

Selasa, 27 September 2022 - 17:58 | 51.41k
Metamorfosa Asimetris
Afthon I.H., Alumnus Sosiologi Universitas Mataram.

TIMESINDONESIA, MATARAM – Bagi seorang yang pesimis, barangkali tidak ada penilaian untuk gambaran dunia kini selain dari kehancuran, atau kemunduran. Tentu, tanpa terlepas dari variabel kehidupan yang melatari, entah sebait faktor sosial, ekonomi, politik, atau budaya. Sebagian dari kita mungkin pernah dengan pelan menyadari, setidaknya hanya sekali dalam hidup, bahwa kelahiran ke dunia yang kita pijaki ini, tak sama sekali kita kehendaki terjadi.

Semacam ketakberdayaan, yaitu kondisi yang lebih tepat diungkapkan oleh Ken Plummer, Sosiolog Inggris, “bahwa kita terlempar ke dunia sosial yang tidak pernah kita pilih”. Fatalis, paradoks, atau mungkin absurd. Kemudian kita duduk dalam sebuah ruang tawar-menawar, bertiraikan realitas, dengan meja yang menghidangkan menu antara kudapan yang manis dan pahit.

Dalam tinjauan psikologis, Erich Fromm terang menjelaskan ihwal sikap sejurus seperti ini—pesimisme—bahwa tipikal manusia yang destruktif merupakan seorang nekrofil. Nekrofil, menurut Fromm, sosok yang dingin, berkulit tampak mati, dan berorientasi ke masa lalu, bukan masa depan yang dibenci dan ditakutinya. 

Apa yang tak bermula dari kehancuran? Bahkan Gie, pesohor “Catatan Seorang Demonstran” eksponen aktivis mahasiswa Indonesia tahun 1966 yang wafat di Gunung Semeru itu, hanyut dalam definisi dan pertanyaan sangat melankolis dan sinis. “Sejarah dunia”, tulisnya, “adalah sejarah pemerasan.

Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak lahir?” Sulit, bahkan dalam banyak literatur historis dunia, secara eksplisit dituliskan bahwa keteradaan akan kondisi hari ini, tiada lain dan bukan tak ada dapat bertahan tanpa peperangan, darah, juga kejatuhan. Indonesia hanya segelintir nation (nasional) di antara multination (banyak nasional) yang pati kisahnya kita peringatkan dan kenang setiap tanggal tujuh belas di bulan Agustus. Bahwa kemerdekaan, adalah serangkaian kehancuran yang harus dibayar mahal—sangat mahal, sehingga haram untuk diulang. 

Syahdan, pembebasan yang disambut dengan heroik-afirmatif itu mesti mengantarkan kita kepada kekalutan, ironi, dan kegamangan. Diktum buah reformasi 24 tahun lalu memang membebaskan penuh terhadap hasrat dan kontraksi pendapat setiap elemen warga negara—tanpa sekat, pada sebuah ‘mimbar’. Tetapi demokrasi, menyitir tajuk tulisan Y.B. Mangunwijaya, “tak pernah jatuh dari langit”.

Payung-payung hitam perkabungan masih terus terbentang setiap hari Kamis di depan Istana Negara, menuntut utang konstitusi atas tumbal kelahiran reformasi. Namun atas nama alibi menjaga stabilitas, mata-mata penguasa lebih menghendaki pengabaian dengan berbagai metode legitimasi delusif, yaitu sebuah watak penguasa sebagaimana dipaparkan oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2019) bahwa “diktator gaya lama sering memenjarakan, mengasingkan, atau bahkan membunuh lawannya, sementara autokrat zaman sekarang cenderung menyembunyikan tindakan represif di balik kedok legalitas”. UU ITE, masih menghantui mekarnya bunga-bunga gagasan masyarakat terhadap pemerintah.

Hidup di era digital yang anorganik dan mengalienasi, tak selamanya menyenangkan. Pun di perdesaan yang notabene masyarakat tradisional, tipologi kehidupan sosial yang ada saat ini bahkan mulai menampilkan wajah sama: bias dan tergregadasi.

Hal tersebut tiada lain akibat implikasi keran difusi modernitas yang deras dan basis lokalitas kultural yang rapuh dan gagap. Konsekuensi nyata yang dapat kita lihat adalah menjamurnya life style eksklusif yang patologis, nir-etis, pun amoral. Tak perlu heran dari mana anak-anak di bawah umur zaman sekarang bisa memiliki perbendaharaan kata-kata kasar dan tak senonoh di lingkar pergaulan mereka, sekali pun sang anak adalah seorang dari keluarga yang agamis nan taat. Atau bagaimana praktik asusila lahir di tengah-tengah lingkungan masyarakat kita, dari manusia dengan usia yang sangat belia; 10 atau 13 tahun.

Ironi, memang. Betapa momen pandemi Covid-19 lalu telah mengafirmasi eksklusifitas dan kedigdayaan peran teknologi atas ketakberdayaan ruang dalam membantu pelbagai aktivitas-interaksi sosial kita secara virtual. Peran pendidikan seolah meragukan, kian dangkal oleh endapan teknologi yang super vulgar dan binal, yang kian kemari kian menebal ke permukaan mengungkung kehidupan di sekitar kita. 

Persinggungan pendidikan dengan kapital (pasar) dewasa ini kerap kali menyebabkan disorientasi pada manifestasi tujuan pendidikan yang sejatinya; karakter dan moral. Kurikulum merdeka belajar, yang didaulat menjawab kebutuhan zaman, terlalu pragmatis jika berpatok pada orientasi komoditas industri dengan menghasilkan lulusan yang material-prospektif. Di titik ini, tolak ukur keahlian dan kompetensi para siswa tetap memungkinkan terjadinya proses tebang pilih untuk kebutuhan korporasi.  

Di tengah situasi kelesuan ekonomi pasca pandemi dan pemangkasan jumlah serapan tenaga kerja domestik, pendidikan sebagai produsen tenaga kerja hanya akan menelurkan angka pengangguran. Alih-alih produk kurikulum tersebut menjadi standar nasional yang solutif, bertolak dari hal-hal demikian itu, ia hanya akan menjadi problem yang compang-camping seyogianya pemerintah tidak memiliki fokus prioritas pada akar permasalahan kultural yang lebih mendesak: inklinasi fasilitas penunjang, intoleransi dan perundungan dini yang tumbuh masif menjangkiti. 

Perubahan-perubahan yang ada; revolusi, demokrasi reformasi, digitalisasi, pendidikan transformatif, barangkali distorsi atas keadaan yang menyelimuti memang tak perlu dicemaskan. Sekali ia dalam definisi perubahan, ia merupakan transformasi atas konsekuensi waktu yang berjalan. Namun, adakah ia datang dalam wujud antagonisme sang nekrofil: biofilia, sebagaimana konsep Formm, yang optimistik? Entah.(*)

***

*) Oleh: Afthon I.H., Alumnus Sosiologi Universitas Mataram.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES