Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Islam dan Hedonisme

Kamis, 29 September 2022 - 09:14 | 33.86k
Islam dan Hedonisme
Kukuh Santoso, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Siapa yang tidak kenal dengan HEDON? ‘Waktunya hedon..!’ seperti itulah kata-kata yang biasa ditemukan pada postingan media sosial anak muda saat ini dengan memposting sebuah foto berbelanja atau jalan-jalan, dapat ditebak biasanya dilakukan setelah melalui hari yang panjang atau pekerjaan yang bertubi-tubi sehingga merasa lelah.

HEDON : Membeli barang-barang mewah? Ya, itu salah satu contonya, tapi apa sih definisi dari hedonisme itu sendiri? Dikutip dari kbbi.web.id “Hedonisme” adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Jadi hedonisme adalah sebuah pemikiran bahwa hidup di dunia ini hanya untuk melakukan kesenangan, dan kesenangan tersebut biasanya dengan memenuhi berupa materi/benda mewah atau hiburan yang diinginkan dan dianggap bisa membahagiakan dirinya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Orang yang bisa menanamkan perasaan senang, perasaan bahagia dalam menjalani hidup itu ialah orang yang mampu penuh syukur atas rezeki baik berupa materi maupun non materi yang telah diberikan Tuhan kepada dirinya atau orang yang merasa cukup dengan yang dimilikinya dan lebih suka menggunakan nilai guna dari sesuatu yang dimilikinya secara maksimal.

Lain hal dengan bersenang-senang atau mencari kesenangan dalam menjalani hidupnya itu adalah kesenangan/kebahagiaan yang tidak murni dari dalam dirinya dan biasanya disebabkan karena factor eksternal atau lingkungan, sehingga orang-orang itu akan memiliki standar bahagia berdasarkan apa yang dilihat bukan yang dirasakan.

Misalnya, Aku akan bahagia apabila memiliki Mobil, aku akan bahagia dan percaya diri apabila aku melakukan manicure pedicure, aku akan bahagia dan tampil menawan dengan baju branded yang ori dan mahal. Mengapa penyebabnya factor eksternal, ya karena pemikiran-pemikiran tersebut datang dari barang-barang yang ia lihat  sehari-sehari atau... karena ia berada di lingkungan orang-orang yang ekonomi menengah ke atas sehingga merasa taraf hidupnya juga harus sama dengan tetangga-tetangganya yang elit. Maka timbullah perasaan yang tidak pernah puas dengan semua yang sudah dimilikinya.

Gaya hidup hedonisme bisa terjadai pada semua kalangan, lalu bagaimana orang-orang Islam yang sudah berada digaris hidup hedonism? Padahal agama Islam sangat menegaskan aturan ‘Konsumsi’ dalam al-quran dan hadistnya.

Seharusnya sebagai muslim bisa membentengi diri dari sifat-sifat konsumtif dengan tidak lupa bersyukur atas kenikmatan yang ada, karena baik dari pandangan Islam maupun pandangan umum sifat konsumtif akan berdampak buruk untuk diri sendiri, selain itu juga berdampat negative untuk perekonomian Negara, karena permintaan yang terus meningkat dengan sumber daya yang terbatas.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dampak dari gaya hidup hedonime sehingga orang menjadi konsumtif seperti dalam hal makanan, apabila terlalu banyak makan, makanan yang dikonsumsi tidak dijaga, selalu ingin mencoba makanan satu dan yang lainnya akan berdampak pada kesehatan.

Terlalu konsumtif dalam hal lain seperti membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, membeli barang mewah dan lain sebagainya juga akan berdampak buruk pada kesehatan financialnya. Selain itu dampak dari gaya hidup hedonisme tidak lain muncul sifat sombong, tentu sifat sombong adalah sifat yang dilarang untuk diterapkan baik menurut Islam maupun umum dan sangat dibenci oleh Allah SWT.

Berarti dengan adanya sikap hedonisme juga akan menyebabkan pelanggaran pada nilai-nilai kehidupan baik yang ada pada masyarakat maupun yang ada pada ajaran agama masing-masing. Oleh karena itu manusia harus bisa memanajemen hidupnya dari segi apapun itu merupakan salah satu cara agar terhindar dari gaya hidup hedonisme.

Sebagai orang muslim, Islam memiliki tiga prinsip dalam hal konsumsi yang sangat jelas dijelaskan pada al-quran dan hadit yaitu dalam mengkonsumsi baik produk atau jasa yang pertama harus yang halal, kedua harus berdampak baik untuk dirinya atau menyehatkan, dan ketiga harus sesederhana mungkin atau secukupnya. Oleh karena itu Islam sangat melarang umatnya memiliki gaya hidup hedonisme yang menimbulkan sifat konsumtif, kalau dalam bidang religi itu adalah perbuatan yang disukai syetan, tetapi apabila dilihat dari segi realita itu juga akan menyulitkan hidup diri sendiri. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Kukuh Santoso, M.Pd.I, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES