Kopi TIMES

Nasihat Seorang Ibu: "Jangan Nonton Sepak Bola Nak...."

Selasa, 04 Oktober 2022 - 13:33 | 34.28k
Nasihat Seorang Ibu:
Toto TIS Suparto; Penulis Filsafat Moral, Pengkaji di Institut Askara.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Seorang ibu menerawang jauh ke depan. Matanya sembab. Air mata tak lagi menetes seolah kering. Dia tak meratapi nasib kematian anak remajanya, tetapi menyesalkan cara  kepergian anak tercinta itu.

"Tak terbayangkan dia meninggal di stadion sepak bola. Di saat dia menikmati kesenangannya sebagai pemain sepak bola yang punya cita-cita bisa bermain di stadion kebanggaannya".

Stadion kebanggaannya itu bernama Stadion Kanjuruhan. Letaknya di Jl. Trunojoyo, Krajan, Kedungpedaringan, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pembangunannya menghabiskan dana  Rp35 miliar. Stadion ini memiliki kapasitas 46.000 tempat duduk dan 1.000 penonton berdiri. Di stadion itulah bermarkas klub kebanggaan arek Malang yakni Arema FC.

Pada Sabtu ( 1/10/2022) lalu Arema kalah 2-3 dari Persebaya. Bukan soal kalah yang disesalkan dalam rivalitas derby Jatim itu, tetapi buntut dari kekalahan tersebut.

Kita semua tahu, kekalahan itu mendatangkan kekecewaan bagi suporter Arema yang dikenal sebagai Aremania. Pada mulanya seorang suporter masuk ke lapangan. Berdebat. Kelihatannya melancarkan protes. Kira-kira dia tak terima Arema main jelek hingga kalah. Oknum lain ikut masuk lapangan. Lama kelamaan meluber. 

Penjelasan resmi tercatat 3.000-an suporter masuk lapangan. Saat itu jumlah penonton  42.588 orang. Tercatat sebagai rekor jumlah penonton terbanyak selama berlangsung kompetisi sepak bola Liga 1 musim 2022-2023.

Akibatnya bisa dilihat di televisi maupun video yang beredar di media sosial. Rusuh. Aparat keamanan menghalau penonton agar kembali ke tribun. Ada pentungan. Ada gas air mata. Ada kepanikan. Ada orang-orang terinjak-injak. Ya ampun, 127 orang dilaporkan meninggal. Gubernur Jawa Timur bilang yang meninggal jadi 129 orang. Media sosial menyampaikan kabar sudah 180-an yang meninggal.  Betapa tak setara kemenangan Persebaya dengan nyawa-nyawa itu. Betapa kapitalisme sepak bola seolah menihilkan nyawa manusia.

Kapitalisme? Ya, 42.588 penonton itu merupakan bukti kapitalisme. Sepak bola adalah bisnis. Semakin banyak penonton, kian menguntungkan. Apalagi digabung dengan tayangan langsung di televisi, maka diperoleh pula hak siar. Tak apa musti main malam-malam, 20.00 WIB, bagi pengelola yang penting cuan.

Cuan pula bagi kapitalisme televisi. Manajemen menyatakan performa Indosiar ( plus Vidio  dan Moji ) menorehkan raihan luar biasa dengan pangsa pemirsa (audience share) yang melesat di industri televisi nasional sejak menjadi official broadcaster  Liga 1 BRI.

Merujuk pada berkah Indosiar tadi,  jelas bahwa sepak bola bukan sekadar permainan, tetapi juga bisnis. Secara khusus bisnis sepak bola ini pernah dibedah dalam beberapa  buku oleh praktisi maupun penulis serta jurnalis. 

Salah satu buku itu berjudul "Soccernomics" karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Di buku itu secara gamblang dijelaskan bahwa sepak bola memang merupakan lahan bisnis.  Memang beberapa dekade lalu belum begitu terbukti bahwa sepak bola merupakan bisnis besar. Sekarang lebih berkembang. Para pendebat bilang, bisnisnya itu luas. Ada bisnis ikutan yang juga lumayan besar. Secara keseluruhan, sepak bola menjelma menjadi aktivitas bisnis menggiurkan. Peluang-peluang bisnis itulah yang dinamakan soccernomics.

Bagi klub, keuntungan adalah mutlak, walau musti menihilkan etika. Sisi etika ini bisa disebut sebagai soccerethics. Sepak bola memang menampilkan etika yang dilperabkan para pemain maupun penonton. Etika penonton yang dipertanyakan, kenapa tak mau menerima kekalahan? Etika pengamanan juga diragukan, sudahkah menerapkan penanganan yang humanis? Etika panpel juga diperdebatkan, sudahkah menerapkan manajemen yang merawat keselamatan penonton yang nota bene konsumen? 

Idealnya soccernomics dan soccerethics berjalan berdampingan agar sepak bola bukanlah bisnis membahayakan ( bagi konsumen).  Harapan kita bersama, tak ada para ibu yang meratapi kepergian anak tercinta. Tak ada pula nasihat para ibu kepada anak-anaknya agar tidak menonton sepak bola. "Jangan nonton sepak bola Nak," kata para ibu penuh kekhawatiran. Tetapi Bu, tak perlu khawatir karena bila kena sanksi FIFA, tak ada lagi keramaian di stadion. Paling-paling hanya nonton tarkam. 

***

*) Oleh: Toto TIS Suparto; Penulis Filsafat Moral, Pengkaji di Institut Askara.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

 

______
**)
 Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES