Kopi TIMES

Merawat Budaya Leluhur adalah Bagian dari Nasionalisme

Senin, 03 Oktober 2022 - 17:34 | 20.40k
Merawat Budaya Leluhur adalah Bagian dari Nasionalisme
Ari Garyanida, B.Com., MIB. Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Jawa Barat.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini sangat cocok menjadi pegangan dan semangat kita dalam mewarisi budaya leluhur. Saya meyakini, di tengah gempuran pengaruh budaya  transnasional, tanggung jawab kita hari ini adalah terus mengenalkan budaya sendiri yang sudah mulai meluntur kepada generasi muda. 

Tujuannya, untuk membangun masa depan bangsa ini yang berkepribadian, memiliki karakter kuat dan berintegritas. Ini sejalan dengan cita-cita para founding father kita. 

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendukung budaya lokal agar dapat terus bertahan. Salah satunya, adalah dengan mempelajari budaya tersebut, sehingga dari mengenalinya lantas tumbuh menjadi sadar untuk ikut mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Dan akan menjadi luar biasa lagi, jika kemudian ikut berpartisipasi dalam kegiatan pelestarian kebudayaan dan mengajarkan kebudayaan itu pada generasi penerus sehingga tidak musnah dan tetap dapat bertahan. Bahkan, kita juga harus mampu mengenalkannya kepada dunia luar. 

Partisipasi mempelajari budaya sendiri, mempraktikkannya dan mengembangkannya, menurut saya juga bentuk dari dari nasioanalisme. Saya meyakini generasi milenial memiliki caranya tersendiri dalam mengekspresikan nasionalismenya. Salah satunya melalui pengembangan produk kebudayaan secara kreatif seperti kuliner dan kegiatan seni kreatif lainnya. 

Saya sangat mengapresiasi anak-anak muda khususnya milenial dan Gen Z yang mau bergandengan tangan ikut peduli atas warisan budaya Indonesia. Dan ini sejalan dengan peran Banteng Muda Indonesia (BMI) yang hadir sebagai wadah perjuangan progresif anak-anak bangsa yang kreatif, inovatif dengan semangat nasionalisme tinggi dan berdaya saing tinggi. 

Peran BMI (Banteng Muda Indonesia) adalah bagaimana agar generasi sekarang menyadari dan mengetahui ternyata kita memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Hal tersebut terbukti dari program yang dilaksanakan yaitu Ekspedisi Trisaksi dimana kita menemukan sumber pangan yang melimpah di Indonesia. 

Itulah warisan leluhur bangsa, kita sebagai generasi penerus berkewajiban mempelajari, memahami dan melestarikannya supaya tidak hilang.  Karena menurut saya, investasi budaya itu merupakan suatu competitive advantage untuk suatu negara agar berkembang lebih maju di antara hiruk-pikuk perkembangan teknologi saat ini. Jadi, negara yang memiliki budaya yang kuat, bagi saya ke depan akan menjadi negara yang maju. Negara yang memiliki sejarah tentunya akan memiliki karakter. Kita berkepribadian dalam budaya. Kalau kita mampu melestarikan budaya, kita luar biasa. 

Kita punya warisan budaya yang luar biasa, kaya akan flora dan fauna. Kita juga pewaris budaya untuk mempertahankan dan merawat budaya tersebut. Bagaimana generasi muda tahu akan warisan kekayaan Indonesia. Langkah pertama adalah mengajak kalangan muda untuk mempelajari, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga tumbuh rasa memiliki akan budaya kita. Setelah itu tumbuh kecintaan, rasa memiliki dan menjaga, melestarikan, kebangga dan untuk memberitahukan kepada negara lain, ke dunia luar bahwa inilah kedaulatan pangan kita. 

Kita mengapresiasi ketahanan pangan, kebudayaan yang memiliki nilai ekonomi. Untuk mencapai nilai ekonomi tersebut, perlu unsur kreativitas anak muda. Inovasi yang memiliki nilai ekonomi, misalnya sushi dengan inovasi dari daun papaya atau daun singkong. Mencari inovasi dari bahan baku yang mudah dicari. Kalau hal tersebut dikelola secara kreatif dan inovasi akan memiliki nilai ekonomi sebagai sumber pendapatan. 

Kita juga mengapresiasi DPD PDI Perjuangan yang sudah memberikan ruang bagi generasi muda dalam acara “Lomba dan Gebyar Inovasi Menu Berbasis Pangan Lokal” di Kiara Artha Park, Bandung, Minggu (2/10/2022). Kaum muda diberikan ruang untuk mengekspresikan kreativitas dalam bentuk pangan yang sehat dan bergizi dengan bahan kearifan lokal yang mudah didapatkan di daerah masing-masing. Kami mengapresiasi para peserta yang mengikuti lomba membuat pangan sehat bergizi yang tak sedikit di antaranya dari kalangan generasi muda untuk menjaga ketahanan pangan, dan khususnya mengatasi persoalan atau isu stunting yang angkanya masih tinggi di Indonesia. 

BMI memiliki peran sebagai generasi muda yang membentuk barisan untuk mempropagandakan kepada sesama generasi muda, akan nilai-nilai luhur bangsa. Generasi  muda memiliki cara sendiri, gaya sendiri dan pendekatan tersendiri. Semoga ini menjadi sebuah gerakan yang besar, kami generasi muda memegang estafet meneruskan perjuangan generasi sebelumnya untuk melestarikan warisan budaya bangsa. 

Kami mengapresiasi para generasi muda yang ikut berpartisipasi pada acara Gebyar Inovasi Menu Berbasis Pangan Lokal. Memberdayakan kreativitas dan inovasi para generasi muda terhadap kekuatan pangan lokal. Generasi muda yang menjadikan budaya dalam unsur kreativitas berupa  produk kuliner. Sehingga, mereka bisa mandiri, menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan dirinya dan lingkungannya, yang pada akhirnya  membentuk ekosistem ekonomi. 

Generasi muda adalah bonus demografi yang akan memimpin bangsa dan negara di masa depan. Kekuatan generasi muda secara statistik mencapai 70 persen. Karena itu, generasi muda harus disiapkan dari sekarang agar memiliki misi dan visi untuk menyelamatkan bangsa dan melibatkan kolaborasi serta integrasi dalam kesederhanaan bernama gotong royong. 

Kaum muda mulailah memahami, mulailah mencari tahu, mulailah belajar. Setelah belajar, akan muncul rasa memiliki, rasa sayang. Muncul lagi rasa untuk menjaga dan melindungi. Setelah itu, tumbuh kebanggan. Di situlah nasionalisme kita akan muncul. Ya, anak muda harus paham, tahu dan belajar. Seperti pepatah, tak kenal, maka tak sayang. 

***

*) Oleh: Ari Garyanida, B.Com., MIB, Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Jawa Barat.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Bambang H Irwanto
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES