Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Tragedy Kanjuruhan Malang

Selasa, 04 Oktober 2022 - 11:14 | 27.28k
Tragedy Kanjuruhan Malang
Dr. Kukuh Santoso,  M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – 01 Oktober 2022 dengan bangga ribuan manusia datang menyaksikan tim favoritnya bertanding pada event Liga1 berharap pulang dengan kemenangan. Semangat dan antusias mereka memenuhi stadion Kanjuruhan Malang malam itu, lalu mengapa event ini berakhir dengan sebutan tragedy? Keputusan menang dan kalah pasti ada di setiap akhir pertandingan, dinyatakan menang memang sebuah kepercaan diri namun dinyatakan kalah bukan akhir dari kepercayaan diri. Supporter tanpa tim tidak bisa dinamakan supporter, dan tim tanpa supporterpun akan down.

Supporter adalah orang-orang yang membantu sebuah tim untuk berdilri tegak, saat tim menerima kekalahan dan tidak lagi tegak supporterlah yang membantu dan membuat sebuah tim tegak kembali. Malam 01 Oktober 2022 apa hakikat supporter pada saat itu? Mereka merasa dikecewakan dengan perkataan wasit yang menyatakan AREMA FC kalah dipertandingan Liga 1 Lantas bagaimana perasaan tim sebagai pemain yang telah berusaha memberikan persembahan sebaik mungkin? Tentu akan merasa kecewa berlipat. Seharusnya disaat-saat seperti ini adalah peran supporter untuk merangkul tim favoritnya. Namun kenyataan membuktikan bahwa supporter bukan sepenuhnya supporter, mereka yang masih memiliki ego tinggi dengan kata “Kalah” hingga dipenghujung acara Liga 1 2022 disebut sebagai tragedy.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Karena malam itu menonton sepak bola langsung dari stadion, para supporter sebanyak 100 lebih pulang tidak bernyawa, puluhan orang pulang dengan badan cedera. Seratus lebih manusia kembali ke rumah hanya raga. Memang hidup dan mati ada ditangan Tuhan, tapi kronologi yang mendasari sebab kematian yang seharusnya dijadikan sebagai pelajaran. Karena kronologi yang membuat orang tidak terima dengan kematian seratus lebih penonton Liga 1 malam itu. Tentu ada sebab akibat hingga terjadi penyemprotan gas air mata, jikalau memang kericuhan terjadi karena pelampiasan supporter yang turun ke lapangan, sudah sewajarnya tim keamanan untuk mengamankan, tetapi apakah dengan menyemprotkan gas air mata adalah cara terbaik? Apakah dengan cara seperti itu stadion akan kembali kondusif? Kata keamanan merujuk pada pemberian rasa aman kepada manusia, keamanan atau mengamankan berarti didalam prosesnya harus terhindar dari rasa sakit, rasa cemas, dan rasa takut.

Lantas apakah yang diberikan pada malam itu adalah keamanan atau mengamankan? Sedangkan objek yang diberikan keamanan sangat merasa ketakutan, kesakitan, dan kecemasan dengan cara pengamanan yang dilakukan. Mereka yang turun untuk melampiaskan kekecewaannya dicegah dengan semprotan gas air mata berkali-kali, pintu keluar yang tidak begitu besar bagaimana mereka bisa keluar sedangkan yang ingin melarikan diri dari tempat itu adalah ribuan orang. Orang-orang saling Tarik menarik untuk keluar lebih dulu, berjatuhan hingga terinjak-injak dan ±170 orang tewas dan disebut sebagai korban sepak bola.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Banyak orang speak up diberbagai media bersedia menjadi saksi kronologinya, berarti pada dasarnya apakah permainan sepak bolanya yang salah? Tidak sama sekali, tetapi hanya karena perbuatan oknum-oknum tidak didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang kebetulan dilakukan pada saat event sepak bola maka nama sepak bola yang menjadi sasaran kebencian masyarakat. Masyarakat menganggap “Karena nonton sepak bola anakku meninggal” “karena setelah menonton sepak bola suamiku, temanku, kerabataku meninggal” sejak malam itu 01 Oktober 2022 sepak bola Indonesia telah menjadi wadah kebencian masyarakat Indonesia khususnya warga Malang Raya dan sekitarnya. Ini bukan bencana melainkan tragedy yang disebabkan dari perbuatan yang tidak didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, manusia hidup di dunia yang seharusnya saling menjaga kehidupan satu sama lain.

Apabila dipikir ulang mungkinkah tim keamanan yang didelegasikan menjaga keamanan pada pertandingan tidak dibekali pemahaman mengenai undang-undang keamanan dalam pertandingan? Sungguh tidak mungkin. Tertulis jelas bahwa penyemprotan gas air mata tidak boleh dilakukan sembarangan. Lalu apa dasarnya sehingga para pelaku berani menyemprotkan gas air mata kepada supporter bahkan kepada supporter yang tidak melakukan keributanpun ikut menjadi korban. Bukan lagi evaluasi yang harus dilakukan tetapi pengusutan hingga tuntas kronologi dan dasar-dasar yang membuat mereka berani melakukan cara yang tidak berperikemanusiaan. Tidak hanya ujaran kebencian, melainkan sepak bola Indonesia akan menerima sanksi atas tragedy yang sudah terjadi. Tidak ada sepak bola yang semahal harga nyawa.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. Kukuh Santoso,  M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

KOPI TIMES