Kopi TIMES

Sudah Tepatkah Kenaikan Suku Bunga Acuan?

Selasa, 25 Oktober 2022 - 11:11 | 37.70k
Sudah Tepatkah Kenaikan Suku Bunga Acuan?
Dosen Prodi Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Ekonomi Islam (APSEI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph D.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Beberapa saat terakhir, dunia dihadapkan pada gejolak ekonomi yang cukup mengkhawatirkan. Beberapa negara menyatakan bangkrut dan jatuh ke jurang krisis. Kondisi ini merupakan efek spiral dari instabilitas politik dan keamanan sehingga berimbas pada perekonomian global termasuk Indonesia. 

Instabilitas politik ini mengganggu rantai pasok sehingga berdampak pada berkurangnya pasokan barang global dan mendorong kenaikan harga barang yang memiliki kaitan dengan barang yang menjadi konsumsi global. 

Merespon kondisi global yang semakin tidak menentu, Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuannya sebesar 300 basis atau setara dengan 3.25 persen sejak awal tahun 2022 atau telah terjadi kenaikan 5 kali sejak Januari – September 2022.

Mengacu pada teori Mundell - Fleming, bahwa dalam perekonomian yang terbuka dan kecil, perubahan ekonomi di Amerika Serikat akan disusul dengan perubahan suku bunga dan pergerakan modal di negara yang terbuka dan kecil seperti Indonesia. Akibatnya, Bank Indonesia dalam hanya kurun waktu 2 bulan (September dan Oktober 2022) telah melakukan penyesuian suku bunga acuan sebesar 100 basis poin atau sekitar 4.75 persen per Oktober 2022. 

Penyesuaian suku bunga di Amerika Serikat dan Indonesia adalah sebagai upaya untuk menahan pergerakan inflasi yang masing-masing 8,6 persen (per Mei 2022) dan 4,69 persen (per Agustus 2022). Secara teori, inflasi terjadi karena perubahan uang beredar bergerak melebihi perubahan barang atau sektor moneter bergerak lebih cepat dari sektor riil. 

Walaupun inflasi ini terus ada dalam perekonomian sebagaimana pernyataan Milton Friedman “Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon”, namun pergerakan inflasi yang tidak terkendali atau persisten dalam waktu yang cukup lama, berdampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat melalui pengurangan daya beli uang. 

Ditambah lagi, Menurut Kurva Philip, inflasi yang terjadi dalam waktu yang panjang akan berdampak pada kenaikan tingkat pengangguran yang berarti juga menurunkan produktivitas ekonomi dan bisa mengarah kepada resesi. Fenomena anggapan resesi ini tentunya akan sangat menarik bila memadukan rilis Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dan analisis siklus ekonomi. 

Dalam RDG disebutkan bahwa kenaikan suku bunga acuan untuk (1) menurunkan ekspektasi inflasi, (2) mengembalikan inflasi inti dan (3) mendorong nilai tukar rupiah sejalan dengan fundamentalnya. Dari perspektif siklus ekonomi, setidaknya ada 2 siklus yang perlu dimunculkan sehingga tepat, yakni siklus sektor riil dan siklus sektor keuangan. 

Pertama, dalam menyikapi ekspektasi inflasi, seolah pelaku keuangan melihat bahwa ke depan inflasi akan terus tinggi dan susah terkendali akibat ketidakpastian global. Dengan demikian, dalam konteks siklus ekonomi, siklus sektor riil dipersepsikan akan mengalami tekanan karena daya beli masyarakat yang terdorong turun, sementara siklus di sektor keuangan terus meningkat karena pasokan uang meningkat akibat lalu lintas modal lintas negara yang mencari pengembalian hasil yang terbaik. 

Sehingga, penurunan ekspektasi inflasi ini perlu dipahami sebagai upaya untuk disatu sisi terus mendorong pergerakan permintaan barang dan jasa di sektor riil dan ada upaya untuk mengalihkan kelebihan pasokan uang di sektor keuangan ke sektor riil yang produktif. Dengan demikian, kombinasi dari kedua pergerakan siklus ini akan bertemu pada rational expectation point di mana masyarakat tidak terlalu berlebihan menyikapi inflasi karena ada kebijakan untuk menyeimbangkan pergerakan di siklus sektor riil dan keuangan oleh pemerintah dalam hal ini Bank Indonesia.   

Kedua, dalam menyikapi inflasi inti adalah upaya untuk mengembalikan inflasi pada porsi yang seharusnya. Mengacu pada definisi inflasi inti adalah inflasi yang terjadi karena ketidaseimbangan antara daya beli masyarakat dan ketersediaan barang. Dengan kata lain, inflasi inti terkait dengan daya beli uang di masyarakat yakni jumlah pengeluaran masyarakat terhadap barang dan jasa. 

Kaitannya dengan siklus ekonomi, fenomena kenaikan inflasi inti adalah siklus sektor keuangan bergerak lebih cepat dari siklus di sektor riil sehingga jumlah uang beredar melebihi jumlah barang yang tersedia di pasar. Mengacu pada pernyataan Bank Indonesia bahwa kenaikan suku bunga untuk mengembalikan inflasi inti artinya ada upaya dari Bank Indonesia untuk mengerem pergerakan yang cepat di sektor keuangan sehingga dapat kembali kepada keseimbangan dengan sektor riil. 

Ketiga, terkait dengan nilai tukar rupiah terhadap fundamentalnya. Fundamental dalam hal ini bisa dipahami dengan kondisi di mana perekonomian berada dalam kondisi kesempatan kerja penuh atau posisi terbaik. Dalam konteks ini, dalam siklus perekonomian, ada indikasi pergerakan nilai tukar rupiah bergerak melebihi kondisi kesempatan kerja penuh sehingga dapat membahayakan daya serap dan ungkit perekonomian untuk bergerak menuju ke arah keberlanjutan jangka panjang. 

Benang merah dari ketiga poin di atas adalah sejatinya Bank Indonesia berupaya agar perekonomian Indonesia senantiasa berada pada kondisi optimal atau kesempatan kerja penuh melalui kenaikan suku bunga acuan. Namun demikian, perlu juga diperhatikan beberapa hal terkait dengan dinamika yang terjadi saat ini sehingga tetap dalam rentang kebijakan yang terbaik, di antaranya
Pertama, perlu dibangun sebuah interval optimal yang mencerminkan kondisi inflasi yang relevan dengan dinamika terkini. 

Interval optimal ini sebagai media komunikasi kepada publik mengenai ambang batas yang terbaik mengenai tingkat inflasi sehingga bisa menjaga ekspektasi publik dengan baik. Interval optimal inflasi ini tentunya perlu mengakomodasi dinamika domestik dan juga mengacu pada fenomena global sehingga level inflasi optimal ini bisa sebagai jangkar dalam menjaga psikologis publik. 

Kedua, menyikapi inflasi inti karena terkait interaksi permintaan dan penawaran antara uang dan barang di pasar, maka perlu membuat interval ambang optimal terkait pasokan uang dan barang secara keseluruhan sehingga intervensi yang diberikan adalah mengacu pada pencapaian dan pemeliharaan keseimbangan kedua sektor (riil dan keuangan) yang pada akhirnya dapat memastikan inflasi inti sesuai dengan target yang diharapkan. 

Ketiga, terkait pergerakan nilai tukar rupiah, maka perlu diukur pada nilai berapakah rupiah sejalan dengan fundamentalnya. Fundamental ini adalah situasi dimana daya beli rupiah terhadap barang dan jasa dalam kondisi stabilitas terbaik. Artinya, masyarakat terjaga daya belinya pada berbagai jangka waktu. 

Dengan demikian, kenaikan suku bunga Bank Indonesia adalah langkah jangka pendek yang memadai dan tepat untuk menjaga siklus ekonomi Indonesia berada pada batas toleransi ketahanan. Tentunya, dalam jangka panjang, perlu ada transformasi struktural di berbagai sektor sehingga pada akhirnya perkembangan di sektor riil semakin kuat dan tahan dari berbagai tekanan baik yang berasal dari dalam maupun luar negara, serta ditunjang dengan sektor keuangan yang stabil. (*) 

*) Penulis adalah Dosen Prodi Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Ekonomi Islam (APSEI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph D. (*)

***

*) Oleh: Dosen Prodi Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Ekonomi Islam (APSEI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph D.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

KOPI TIMES