Kopi TIMES

Arema, Sepak Bola, Agama dan Indonesia (2)

Kamis, 27 Oktober 2022 - 18:29 | 23.89k
Arema, Sepak Bola, Agama dan Indonesia (2)
Didik P Wicaksono, Aktivis di Community of Critical Social Research Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo.

TIMESINDONESIA, MALANG – "Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan Jadi 135 Orang" (Timesindonesia, 24/10/2022).

Tragedi Kanjuruhan, berdasarkan liputan banyak media, terbesar kedua setelah tragedi di Stadion Nasional (Estadio Nacional), Lima, Peru pada tahun 1964. Kala itu Kerusuhan laga Peru vs Argentina menelan korban meninggal dunia 328 orang. “Dari laporan resmi, korban meninggal dunia yang disebabkan insiden ini mencapai 328 jiwa” (suara.com, 2/10/2022).

Penyebabnya, bermula dari keputusan wasit yang menganulir gol balasan Peru dari tertinggal 1 gol melawan Argentina. Gol penyama kedudukan yang dianulir wasit itu memicu kemarahan suporter Peru. Para suporter memutuskan masuk ke lapangan.

Polisi menembakkan gas air mata bermaksud mencegah lebih banyak penonton masuk ke lapangan. Namun tindakan polisi justru membuat penonton panik, berhambur ke pintu keluar yang ternyata masih tertutup. Penonton berjubel, terinjak-injak, sesak nafas dan akhirnya meninggal dunia.

Tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan, langsung dikaitkan dengan ingatan publik dunia pada tragedi di Estadio Nacional, 58 tahun lalu. Tragedi Kanjuruhan menjadi sorotan dan perhatian dunia Internasional.

Berdasarkan pantauan di lapangan oleh media ini (2/10/2022) kronologisnya (1) Hanya Sedikit Aremania yang turun, (2) Jumlah Aremania yang Turun Bertambah, (3) Aremania merangsek ke Lorong Pemain, (4) Gas Air Mata Ditembakkan dan (5) Korban Berjatuhan (Timesindonesia, 02/10/2022).

Hampir semua media menyebutkan tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan dipicu oleh penembakan gas air mata. Para pemain yang turun ke lapangan pada awalnya disambut pemain arema dengan permintaan maaf. Tidak ada tanda-tanda meluasnya kerusuhan. Aremania hanya protes dan berharap pemain Arema bekerja keras, bermain lebih baik lagi.

Semua media, lokal, nasional dan internasional kepada korban, baik luka maupun meninggal dunia, kompak disebut atau diberitakan sebagai "korban". Media di Jawa Timur, melalui Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, Lutfil Hakim, "Minta Media Kawal Tragedi Kanjuruhan" (malang-post.com, 6/10/2022).

Korban dalam bahasa hukum adalah orang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.

Ketika Aremania turun ke lapangan, tindak pidana dapat dilihat dari viralnya video oknum tentara melakukan tendangan "kungfu" dan oknum polisi yang mengejar suporter kemudian memukul kepalanya dari belakang, meskipun suporter nyata terkapar, pingsan tidak berdaya, kembali oknum polisi itu memukulnya.

Penyemprotan gas air mata di beberapa tribun semakin membuat Aremania panik. Aremania berhamburan turun dari tribun. Pintu keluar tertutup. Lazimnya, 15 menit sebelum pertandingan selesai, pintu keluar sudah dibuka. Banyak penonton terjebak, tidak bisa keluar.

Tim pencari fakta koalisi masyarakat sipil menyatakan, “Dalam peristiwa ini dipandang keliru apabila menggunakan terminologi kerusuhan, yang terjadi justru ialah serangan atau pembunuhan secara sistematis terhadap para warga sipil" (Kompas. com, 09/10/2022)

Menko Polhukam, sekaligus Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), Mahfud MD bahkan menyebut tragedi Kanjuruhan lebih mengerikan dibanding video yang beredar di media sosial. "Proses jatuhnya korban, jauh lebih mengerikan dari yang beredar di Televisi maupun di medsos"  (Channel Youtube, KompasTV, 15/10/2022).  

Sebelumnya (3/10/2022) Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sependapat, bukan mengarah pada disiplin, tetapi pidana. Beberapa personil TNI dan Polri sudah ditetapkan sebagai tersangka dan beberapa personil lainnya dalam pemeriksaan.

Penegasan tragedi di Stadion Kanjuruhan adalah tindak pidana juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) bahwa kerusuhan yang dipicu tembakan gas air mata polisi merupakan pelanggaran pidana. "ICJR: Aparat Pelaku Tragedi Kanjuruhan Harus Diproses Pidana, Bukan Semata Langgar Etik" (Kompas.com, 4/10/2022).

Tindak pidana dapat merujuk pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), tragedi Kanjuruhan masuk dalam delik tindak pidana.

Bentuk-bentuk perbuatan yang mengarah pada tindak pidana, tentang kealpaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia dapat dipidana. "Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun" (Pasal 359 KUHP)

Namun terdapat pula pandangan pakar hukum yang menilai kejadian di Stadion Kanjuruhan "bukan tindak pidana" melainkan “peristiwa darurat atau force majeure”. Pandangan ini disampaikan oleh Pakar Hukum Prof Romli Atmasasmita.

Meskipun peraturan FIFA tegas melarang penggunaan gas air mata, pandangan Romli, hanya berlaku dalam keadaan normal saja tidak dalam keadaan darurat. "Berdasarkan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan penggunaan senjata api dalam hukum internasional, dalam keadaan darurat (State of emergency) polisi dapat menggunakan senjata api tanpa perlu dimintakan pertanggungjawaban kecuali digunakan excessive force Peristiwa kerusuhan suporter Arema di stadion Kanjuruhan bukan peristiwa pidana. Karena peristiwa tersebut termasuk keadaan darurat atau force majeure” (hukum.rmol.id, 13/10/2022)

Hukum bekerja objektif, berkeadilan dan tepat sasaran. Hukuman bagi siapapun yang terbukti terlibat melakukan tindak pidana. "Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto menyebutkan bahwa proses pendalaman dan penyidikan tragedi Stadion Kanjuruhan Malang masih terus bergulir" (Timesindonesia, 26/10/2022)

 

* Penulis Adalah Didik P Wicaksono. Aktivis di Community of Critical Social Research Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES