Kopi TIMES

Arema, Sepak Bola, Agama dan Indonesia (4)

Rabu, 02 November 2022 - 09:00 | 15.53k
Arema, Sepak Bola, Agama dan Indonesia (4)
Didik P Wicaksono. Aktivis di Community of Critical Social Research Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo.

TIMESINDONESIA, MALANG – Bagi sebagian suporter bola, sepak bola identik dengan agama. Bola disembah dan dibela seolah Tuhan. Fenomena itu terjadi di luar negeri.

Konflik antar fans klub seringkali dipicu oleh kecintaan fans terhadap tim sepak bola pujaannya. Fans club kolektivitas (jamaahnya), pemain "nabi" dan perilakunya mesti diikuti. Jika ada yang mengganggu, fans sedia mati membela "nabi" pemain pujaannya dan "agama" bernama klubnya.

Di luar negeri sudah lazim “Aku Menyembah Bola dan Memperlakukannya Seperti Tuhan”. Pandangan ini disampaikan Guru Besar Bidang Sosiologi Agama, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag.

Mungkin tahu, saya Aremania, melalui jaringan pribadi (japri) whatsapp menyampaikan, “Dengan kepedihan mendalam, kami, keluarga besar UINSA Surabaya berbela sungkawa terhadap seluruh keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Tak ada satupun olahraga yang bisa dibenarkan atas jatuhnya sebuah korban jiwa. Biarlah Tuhan saja yang menjadi Tuhan, karena sepak bola bukanlah agama” (Ahmad Zainul Hamdi, 2/10/2022).

Sepak bola bukanlah agama. Tegas Cak Inung, sapaan akrab Ahmad Zainul Hamdi yang menilai fenomena sepak bola dengan mengutip pandangan Diego Armando Maradona, Edson Arantes do Nascimento (Pelé) dan Eric Cantona.

Pendapat Maradona yang populer, “Football isn’t a game, not a sport; It’s a religion” (Sepak bola bukanlah permainan, atau olahraga; Itu adalah agama).

Tidak jauh beda, pandangan Pele “Football is like a religion to me. I worship the ball and treat it like a god” (Sepak bola seperti agama bagi saya. Saya memuja bola dan memperlakukannya seperti tuhan).

Bahkan Eric Cantona (legenda Manchester United) mengatakan, “You can change your wife, your politics, your religion, but never can you change your favourite football team” (Anda dapat mengganti istri Anda, politik Anda, agama Anda, tetapi Anda tidak akan pernah dapat mengubah tim sepak bola favorit Anda).

Bola sebagai agama -yang menurut- Karl Marx, agama "religion is the opium" (agama adalah candu)  Para fans "kecanduan" dan mabuk pada fanatik buta. Para fans tersihir pada kesetiaan buta membela klub sampai darah penghabisan. Kecintaannya sangat kuat, hidup dan mati dipertaruhkan demi bola.

Kerusuhan bola dapat terjadi karena fanatisme fans bola. Beberapa pemerhati sepak bola, memandang konflik antar suporter bola disepadankan dengan konflik membela agama. Padahal konflik antar manusia, menurut banyak ahli, agama bukanlah faktor utama. Konflik sering terjadi lebih karena komodifikasi (komersialisasi) aspek perekonomian.

Di balik sepakbola ada industri dengan omset miliaran rupiah. Perekonomian dan industri bergerak. Penjualan seragam (jersey) dari pemain terkenal yang dimiliki klub menjadi sumber pundi-pundi keuangan. Jersey terlaris (2021) diperoleh Bayern Muenchen/Jerman (3,2 juta) dan Real Madrid/Spanyol (3 juta).  

Pundi-pundi keuangan klub juga diperoleh dari penjualan tiket. Kadang tiket yang terjual lebih banyak dari kapasitas stadion. Jadwal siar televisi dan live pertandingan bola sudah ditentukan dan susah untuk digeser. Klub, mendapat penghasilan melalui rating jumlah penonton pada siaran Televisi. Sponsor dan hadiah juga menjadi sumber penghasilan.

Perekonomian dengan meningkatnya penghasilan dirasakan pula oleh masyarakat melalui usaha makanan dan minuman, transportasi, hotel dan lain sebagainya. Termasuk pula penjualan minuman keras (miras) beralkohol dengan kadar kandungan alkoholnya yang berbeda-beda.

Miras salah satu faktor pemicu kerusuhan. Bahkan di Inggris minuman beralkohol dilarang masuk stadion. “Pemicu Kerusuhan, Minuman Beralkohol Dilarang Masuk Stadion di Inggris” (sportstars.id, 19/10/2021).

Dikaitkan pula temuan botol miras di sekitar stadion Kanjuruhan. Padahal Aremania tidak mampu untuk membeli jenis miras yang diklaim ditemukan di Kanjuruhan. Ditegaskan oleh Komisioner Komnas HAM Choirul Anam, “Botol-botol miras itu bukan milik Aremania” (sport.detik.com, 12/10/2022)

Tidak menutup mata pula, ada omset milyaran bahkan trilyunan dari aktivitas perjudian. Bahkan muncul pandangan “Hasil sepak bola bisa diatur oleh Bandar Judi. Mantan perantara bandar judi bola di Indonesia, Bambang Suryo, mengatakan rata-rata pertandingan bola di Indonesia sudah diatur hasilnya” (Tempo. co, 29/07/2015). Tidak luput pula Tragedi Kanjuruhan ada yang mengaitkan dengan perjudian dan "Konsorsium 303".

Bibit perselisihan dan permusuhan manusia, seringkali mula bermula dari meneguk miras dan perjudian. Mabuk dan kalah judi adalah kombinasi pemicu "gelap mata" yang diikuti tindak pidana.

Jelas, di Indonesia, stimulan kerusuhan bukan persoalan fanatisme klub. Apalagi fanatisme yang menyamakan sepak bola dengan agama. Banyak faktor penyebab terjadinya kerusuhan dalam sepak bola. Pada tragedi di Stadion Kanjuruhan, tidak ada satupun temuan yang mengaitkan bola "disembah dan dibela" sebagaimana agama dan tuhan.

Pasca Insiden Stadion Kanjuruhan, justru suporter bonek dan aremania bersatu.

Suporter Persebaya (bonek) menunjukan rasa simpati. Urung melakukan selebrasi. Rencana konvoi selebrasi kemenangan 3-2 atas Arema gagal begitu mendengar terjadi tragedi. Esok harinya diganti dengan empati dengan menyalakan lilin dan doa. Bonek dan Aremania bersatu. Seluruh suporter klub sepak bola memberikan ucapan belasungkawa dan rasa empati atas tragedi yang terjadi di stadion Kanjuruhan.

Doa bersama dilakukan. Bahkan Kepolisian (Polres) Malang, meminta maaf dengan sujud massal dan yasinan. “Di Polres juga kami lakukan yasinan sampai hari ke-40," (timesindonesia, 12/10/2022).

Di luar negeri, agama memang menjadi urusan pribadi. Atheis atau menyebut bola sebagai agama adalah hak mereka. Dalam konteks bernegara, beragama apapun atau tidak beragama sekalipun, memiliki hak perlindungan yang sama. Mengaku "agamanya bola", tidaklah masalah. Semua warga negara mendapat perlindungan yang sama.

Suporter dengan pilihan klub favorit dan riak fanatisme, kini (di luar negeri) relatif dapat diantisipasi dari kemungkinan terjadinya korban nyawa. Meskipun, harus diakui, dalam sejarah sepak bola mereka, berulang kali terjadi tragedi dan korban yang meninggal dunia. Namun mereka kini mampu memberi perlindungan kepada semua klub dan fansnya secara maksimal, mencegah tragedi "hilangnya nyawa manusia".

Standar keamanan, berupa sistem operasional prosedur (SOP) ketat ditaati, diantaranya larangan FIFA menggunakan gas air mata. Bahkan Panitia Pelaksana (Panpel) dan keamanannya sangat humanis. Banyak pula stadion bola (di Inggris) yang tidak ada pagar pembatas antara tribun dan lapangan. (*)

 

*) Penulis Adalah Didik P Wicaksono. Aktivis di Community of Critical Social Research Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES