Kopi TIMES

Tafsir Al-Baqarah Kiai Zaini

Kamis, 03 November 2022 - 18:21 | 19.45k
Tafsir Al-Baqarah Kiai Zaini
Dodik Harnadi, Dosen STAI Attaqwa Bondowoso

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Kiai Haji Zainul Mun’im adalah pendiri pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Kiai Zaini juga dikenal sebagai sedikit di antara kiai yang produktif menghasilkan banyak karya. Salah satu yang cukup popular adalah nadam Syu’abul Iman. Namun, tidak semua karya beliau berhasil dipublikasikan.

Di antaranya ada yang masih berupa manuskrip yang tersimpan di tangan keturunan maupun santri beliau. Salah satu manuskrip Kiai Zaini adalah tafsir Surat Al-Baqarah yang disusun berdasarkan rutinitas molang Kiai kepada para santri. Tafsir ini ditemukan dalam bentuknya yang paling utuh –setidaknya sampai saat ini- melalui catatan tangan Kiai Haji Muwafiq Amiruddin, Banyuwangi. Salah seorang santri yang ngaji langsung kepada Kiai Zaini.

Seperti disampaikan Kiai Muwafiq dalam pengantarnya, bahwa Tafsir Al-Baqarah ini disampaikan oleh Kiai Zaini dengan pendekatan imla (dictation). Kiai membaca dan menjelaskan tafsir Al-Baqarah sementara para santri mencatatnya. Karena mengandalkan kecepatan dan ketepatan santri, maka potensi kesalahan mungkin terjadi. Karena itu, Kiai Muwafiq mempermaklumkan potensi kesalahan tersebut, serta mendorong untuk dilakukan tashih (verifikasi).

Kiai Zaini sendiri tidak tuntas menafsirkan surat Al-Baqarah hingga akhir. Berdasarkan naskah filologis Kiai Muwafiq tersebut, tafsir Al-Baqarah Kiai Zaini baru sampai pada ayat 183 mengenai kewajiban menjalankan puasa.

Meski belum rampung, namun Tafsir Kiai Zaini ini sebenarnya memperkaya khazanah tafsir yang ditulis oleh para Ulama’ Nusantara. Tidak banyak kitab tafsir yang ditulis oleh ulama tanah air.  Beberapa yang bisa disebut adalah Al-Ibriz karya Kiai Haji Bisri Mushtafa, Al-Azhar milik Buya Hamka dan Al-Misbah karya Habib Qurays Shihab.

Uniknya, jika ketiganya ditulis dengan bahasa Jawa dan Indonesia, tafsir Kiai Zaini ini ditulis dengan menggunakan bahasa Arab.  Dalam tafsir ini, terlihat betapa kayanya referensi tafsir Kiai Zaini. Dengan menggunakan metode analitis (tahlili), Kiai Zaini banyak merujuk kepada tafsir para sahabat maupun pakar tafsir terdahulu untuk menopang penjelasannya.

Kiai Zaini juga menjelaskan ragam bacaan (qiraah) yang disandarkan kepada para ulama semacam ‘Ashim bin Abi al-Najud, Abul Hasan Al-Kisai, Hafash bin Sulaiman al-Kufi dan sebagainya. Meskipun banyak mengacu kepada pemikiran para mufassir terdahulu, tafsir Kiai Zaini tetap memiliki nuansa yang berbeda.

Sebagai Kiai nusantara, pemikiran Kiai Zaini tentu dibentuk oleh latar kesejarahan nusantara dengan pelbagai keunikannya. Termasuk ekspresi keagamaan di dalamnya. Karena itulah, pemikiran Kiai Zaini tidak bisa dilepaskan dari corak dan warnanya yang  indigenos. Termasuk dalam karya tafsir yang disusunnya ini.

Dengan demikian, tafsir Kiai Zaini tidak saja memuat kutipan pendapat para ahli tafsir terdahulu. Dalam beberapa tempat, Kiai Zaini secara elaboratif juga memberikan ulasan untuk melengkapi pemikiran para ahli tafsir yang dijadikan sandaran olehnya. Ini yang membuat tafsir Kiai Zaini tetap memiliki corak distingtif.

Salah satu bentuk kemembumian tafsir Kiai Zaini yang tidak ditemukan dalam tafsir klasik, adalah penjelasannya mengenai bentuk-bentuk permintaan tolong (al-isti’anah) kepada Allah. Khususnya saat menafsirkan potongan ayat wa iyyaka nasta’inu (hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan).

Saat menjelaskan ayat ini, Kiai Zaini menegaskan bahwa satu-satunya sumber kekuasaan itu hanya Allah. Karena itu, pada hakikatnya, yang layak dimintai pertolongan adalah Allah. Sebab, selain Allah tidak ada yang memiliki kekuasaan secara mutlak. Meski demikian, manusia bukan berarti tidak memiliki kemampuan.

Manusia memiliki kemampuan (istitho’ah) dalam batas tertentu yang memungkinkannya menjalankan beban-beban taklif kehambaan. Dengan kemampuan ini, manusia mampu menjalankan sebab-sebab yang memungkinkannya memenuhi kebutuhan. Namun dengan kemampuannya ini menusia masih tetap berada dalam ketidakpastian dalam meraih tujuan.

Oleh sebab itu, meminta pertolongan Allah menjadi keharusan. Sebab, kemampuan manusia melaksanakan sebab-sebab kebaikan  hanya mungkin menghasilkan kebaikan,  jika sejalan dengan kekuasaan Allah. Dengan cara ini, manusia keluar dari sikap ekstrem detereministik (jabariyah) yang membuatnya meninggalkan ikhtiar serta ekstrem indeterministik (qadariyah) yang membuatnya merasa jumawa dengan kemampuannya.

Menurut Kiai Zaini, manusia harus berusaha menjalankan sebab-sebab terselenggaranya kehidupan. Ini adalah sunnatullah.  Jika tidak mampu,  manusia bisa meminta bantuan orang lain (al-musa’adatu min ghairihi) dalam tata kehidupan. Hal ini bukan bentuk penyekutuan Allah, sebab hal demikian berada dalam konteks ikhtiar.

Meminta bantuan orang lain bisa dilakukan dalam dua bentuk. Yaitu material (qadiyah) dan spiritual (ruhiyah). Salah satu bentuk meminta bantuan dalam konteks spiritual adalah meminta doa dari, ataupun mendoakan, orang-orang shalih dan kekasih Allah. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal.  Sebab, Allah telah memberikan kemuliaan kepada para kekasih-Nya     

Penjelasan Kiai Zaini ini tentu bukan lahir dari ruang hampa. Ulasan Kiai Zaini ini tidak bisa dilepaskan dari latar kesejarahan yang melandasi pemikiranya. Termasuk dialektikanya dengan persoalann-persoalan faktual yang ada di tengah masyarakat di mana Kiai Zaini berada.

Dalam hal ini, Kiai Zaini seolah hendak menyampaikan, bahwa tradisi keagamaan dalam bentuk meminta dan mengirim doa kepada para kekasih Allah dan salihin, sebagaimana jamak dilakukan warga NU,  bukanlah bentuk penyekutuan terhadap Allah. Sebab, praktik tersebut berada dalam ruang ikhtiar semata. Praktik demikian, menurut Kiai Zaini, searti dengan tindakan kita yang memerlukan bantuan materi maupun badan  (mitsli musa’adatil madiyah wal badan) dalam menjalani kehidupan. (*)

 

* Oleh: Dodik Harnadi, Dosen STAI Attaqwa Bondowoso

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES