Kopi TIMES

Arema, Sepak Bola, Agama dan Indonesia (6)

Sabtu, 05 November 2022 - 14:37 | 16.61k
Arema, Sepak Bola, Agama dan Indonesia (6)
Didik P Wicaksono. Aktivis di Community of Critical Social Research Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo.

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Indonesia terkenal negara religius. Seluruh aktivitas rakyat biasa dikaitkan dengan agama. Saking religiusnya, media sosial (medsos) kalau down muncul meme, "down karena dipenuhi ucapan berkaitan dengan peristiwa agama. "Selamat Hari Kerohanian, 3 November 2022". Hari perayaan yang ditujukan untuk menghormati seluruh umat beragama di Indonesia. Hari libur nasional di Indonesia pun didominasi hari keagamaan.

Channel youtube (di Indonesia) marak dengan kajian-kajian keagamaan. Konten lintas agama, dialog dan debat antar agama mewarnai jagat per-peryoutube-an. Negara yang rakyatnya paling sibuk memperdebatkan soal agama.

Demikian pula aktivitas olahraga. Tidak lepas dari sikap dan ritual keagamaan. Kalah menang dalam pertandingan sudah biasa. Kalah dengan santai beralasan "sudah takdir".

Kata-kata "sudah takdir" menjadi alasan pembenar. Tidak mau disalahkan sebagaimana manusia sudah ditakdirkan sejak lahir berjenis kelamin laki-laki, warna kulit sawo matang, mata sipit dan rambut pirang.

Sudah suratan takdir, jangan diprotes. Semua yang terjadi adalah takdir. Pemilik takdir adalah tuhan. Pandangan ini bisa membuat manusia lepas dari tanggung jawab. "Kalau sudah ditakdirkan, mengapa dimintai pertanggung jawaban?"

Pasrah pada takdir atau kehendak tuhan memang benar. Namun apabila berlebihan bisa termasuk fanatisme dalam bentuk lainnya. Bahkan cenderung berakibat pada sikap ekstrim fatalisme.

Tragedi Kanjuruhan kehendak tuhan disampaikan pula oleh pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). "PSSI: Tragedi Kanjuruhan adalah Kehendak Tuhan" (Kompas.com, 13/10/2022). Sontak pandangan ini disanggah banyak kalangan. Sebab tragedi Kanjuruhan adalah peristiwa yang dapat diprediksi dan seharusnya dapat diantisipasi.

Soal takdir (dalam Islam) terdapat dua aliran utama, yaitu aliran jabariyah dan qadariyah. Aliran jabariyah memandang tuhan pemilik kekuasaan mutlak yang menakdirkan garis hidup manusia. Manusia tidak berdaya, segala tindakan manusia merupakan ketentuan takdir tuhan. Ikhtiar manusia ditiadakan.

Sedangkan qadariyah memandang manusia berdaya (berkehendak) atas kemauannya sendiri. Bahkan, meyakini tuhan tidak ikut campur atas perbuatan manusia. Ikhtiar manusia yang menentukan. Sikap ekstrim bisa terjadi bahwa "nasib manusia" bertumpu pada rasionalisme dan lepas dari campur tangan tuhan.

Aliran jabariyah dan qadariyah saling bertolak belakang. Keduanya memiliki pengikut fanatik dan saling menciptakan fanatisme berlebihan. Tidak jarang memicu tindakan radikalisme dan intoleransi karena tidak sepaham.

Diantara dua aliran jabariyah dan qadariyah, muncul sintesisnya, yaitu pandangan yang berkeyakinan antara kehendak manusia dan tuhan. Ada porsinya masing-masing. Aliran ini disebut al-Asy’ariyah (berasal dari pencetusnya, Abu Hasan al-Asy’ari). Pepatah populer mewakili pandangan ini “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.”

Aliran al-Asy’ariyah ini berusaha menempuh jalan tengah dari dua aliran yang saling berlawanan. Meskipun manusia berkehendak bebas, tetap tuhan yang menentukan.

***

Sikap dan perilaku religius yang mewarnai sepak bola Indonesia, diantaranya selebrasi gol yang paling khas adalah "sujud syukur".

Mayoritas pemain dan pelatih sering mengatakan faktor kemenangan adalah doa. Doa senjata pamungkas dan harapan "kemenangan" di setiap pertandingan.

Salah satu Tim Pelatih Persebaya pada Liga 1 2022-2023, Uston Nawawi menerapkan berlatih dan bertanding dengan metode yang diakronimkan SOMOD. Yaitu Skill, Otak, Mental, Otot dan Doa (Uston Nawawi, November 2020)

"Skill" adalah kemampuan mengolah bola, dribbling, mengoper, menempatkan posisi menyerang, bertahan, transisi dan lainnya. Pemain harus menggunakan "otak" dalam mengambil keputusan. Kapan dribbling, mengoper dan menendang langsung ke gawang lawan. "Mental", harus kuat dan pantang menyerah. Selama peluit belum berakhir, meski tertinggal gol, terus berjuang meraih kemenangan.

"Otot" pemain harus terus dilatih agar kuat. Percuma skill hebat, tapi mudah cedera. Senjata pamungkas selanjutnya percaya pada kekuatan "doa". Keajaiban seringkali terjadi ketika tim yang ditanganinya tertinggal. Pada saat injury time bisa membalikan keadaan dan akhirnya menang. Itulah kekuatan doa.

Banyak kisah unik tentang pemain luar negeri (pemain asing) yang merumput di Indonesia berkaitan dengan sikap religius, diantaranya ketika asik dan semangat berlatih mengejar bola, tiba-tiba secara mendadak semua pemain berhenti. Pemain diam di tempatnya masing-masing. Bola yang sudah direbut, dikuasainya tidak dikejar dan diperebutkan lagi.

Pemain asing pun kebingungan. Ada apa? Ternyata para pemain Indonesia sedang mendengar suara adzan.

Seringkali dalam pertandingan resmi liga di Indonesia, wasit menghentikan pertandingan ketika adzan berkumandang terdengar masuk ke stadion. Konon dari Indonesialah kemudian menjalar ke liga Inggris dan pertandingan resmi dunia lainnya. Pertandingan dihentikan ketika adzan berkumandang.

Pemain-pemain asing yang membela klub di Indonesia, setelah lama tinggal bersama, banyak diantara mereka yang pindah agama. Pindah agama merupakan fenomena sosial yang lumrah terjadi ketika pemain asing merumput di Indonesia.

Kekerasan dan korban hilangnya nyawa karena pertandingan sepak bola seharusnya tidak pernah terjadi. Agama mengajarkan cinta kasih dan mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan. "Menghilangkan satu nyawa manusia, sama dengan menghilangkan seluruh nyawa manusia".

*)Penulis adalah Didik P Wicaksono. Aktivis di Community of Critical Social Research Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES