Kopi TIMES

Teologi Humanis-Inklusif Pesantren dan Hermeneutika Sosial

Senin, 14 November 2022 - 11:44 | 17.39k
Teologi Humanis-Inklusif Pesantren dan Hermeneutika Sosial
Moh Nur Fauzi, S.H.I., M.H.; Dosen mata kuliah Pengantar Studi Islam Prodi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi.

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara. Kontribusi dan peran pesantren dalam membangun dan menjaga Indonesia tak perlu diragukan lagi. Tak hanya dari sisi fisik semata, kontribusi dan peran pesantren tercermin dari kuatnya pembangunan pendidikan karakter atau etika yang diajarkan di lembaga pendidikan ini.   

Di tengah derasnya gempuran arus globalisasi mau tak mau pesantren terus berbenah dan berupaya mengimbanginya. Pesatnya perkembangan sains memaksa pesantren untuk merengkuhnya dan memanfaatkannya demi kesejahteraan dan kemajuan martabat bangsa dan negara. Akan tetapi, dalam perkembangannya, sains tidak hanya membawa pengaruh positif dalam kehidupan umat manusia. Tak dapat ditampik, sains juga memberi pengaruh negatif jika tidak digunakan secara tepat dan proporsional. 

Sisi positif dan negatif sains yang jarang disadari adalah pada nilai-nilai dan paradigma yang melahirkan sains itu sendiri. Tak bisa dipungkiri, sains hanya mengakui dan mengesahkan hal-hal dan fenomena-fenomena aktual yang hanya dapat diukur (measured), dapat diamati (observable), dan diverifikasi (verified) secara empiris-faktual. Di balik itu semua, sains menolak secara tegas dan menegasikannya. Dengan kata lain, sains hanya berbicara fakta objektif semata, dan tidak terlalu peduli terhadap nilai-nilai subyektif yang mendasari sebuah fenomena dan gejala sosial kemanusiaan. Lalu bagaimana kita bisa menafsir realitas sosial seperti ini? Hermeneutika sosial sepertinya merupakan salah satu jawabannya. 

Fokus utama problem hermeneutika sosial adalah untuk menerobos otoritas paradigma positivisme dalam ilmu-ilmu sosial dan humanities. Ini merupakan cara pandang untuk memahami realitas, terutama realitas sosial, seperti teks sejarah dan tradisi. Seorang sejarahwan, sosiolog dan filsuf Jerman, Wilhelm Dilthey (1833-1911) mencoba menggugat hegemoni modernitas yang mengejawantah dalam sains dan derivasi nilai-nilai yang dibawanya. Dilthey mengajukan sebuah dikotomi antara metode erklaren untuk ilmu-ilmu alam dan metode verstehen untuk ilmu-ilmu sosial.

Metode erklaren (menjelaskan) adalah metode khas positivistik yang dituntut menjelaskan objeknya yang berupa perilaku alam menurut hukum sebab-akibat, sedangkan metode verstehen (memahami) adalah pemahaman subjektif atas makna tindakan-tindakan sosial, dengan cara menafsirkan objek berupa dunia-kehidupan sosial. Dunia kehidupan sosial bukan hanya dunia yang hanya dihayati individu-individu dalam masyarakat, melainkan juga objek penafsiran yang muncul karena penghayatan itu.

Pada awalnya dikotomi keilmuan tersebut terkesan kaku dan rigid dalam menafsir fenomena yang terjadi di dunia ini. Tetapi jika dicermati secara mendalam, justru merupakan sebuah jalan keluar dari hegemoni modernitas yang bercorak erklaren-nomotetis. Dunia kini dalam genggaman dan cengkeraman kekuatan fakta-fakta ilmiah objektif dan terukur. Pola berpikir manusia hanya dibaca dari apa yang tersurat semata. Fenomena inilah yang kini menguasai mindset berpikir manusia di era sains ini. 

Sementara itu dalam ranah realitas sosial kemanusiaan perkembangan dunia global pun terus berjalan. Perkembangan dunia tidak hanya dapat diukur dari sisi statistik dan angka saja, tetapi juga dapat ditelaah dari perubahan fenomena sosial kemanusiaan yang begitu pesat. Salah satu fakta sosial yang dapat diajukan di sini adalah perkembangan pesantren sebagai fenomena sosiologis yang terus berjalan seiring dengan majunya zaman.

Era society 5.0 membuat pesantren menjelma menjadi salah satu fenomena sosial global yang menarik magnit dunia untuk coba menafsirkannya. Di satu sisi, pesantren teguh dan erat memeluk tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun (al-muhafazah ala al-qadim          al-salih), sementara pada sisi lain, pesantren juga tak menampik modernitas dengan segala ide, gagasan dan aliran di balik kemunculannya (wa al-akhzu bi al-jadid al-aslah). Pesantren adaptif dengan temuan-temuan baru yang dihasilkan oleh budaya modern kontemporer saat ini sejauh tidak melanggar nilai-nilai tradisi dan kearifan local (local wisdom).

 Kondisi faktual tersebut membuktikan bahwa secara teologis pesantren sangat care dan welcome terhadap situasi dan realitas sosial kemanusiaan kekinian. Hassan Hanafi (2000), seorang teolog Mesir kontemporer menafsir realitas kekinian dalam dua corak teologis, teosentris dan antroposentris. Teologi teosentris berpusat pada pembicaraan tentang ketuhanan dan segala tafsir derivasinya. Sementara teologi antroposentris berpijak pada tafsir atas realitas sosial kemanusiaan yang dinamis dan selalu berkembang. 

Dikotomi teologis tersebut dapat kita jadikan piranti untuk menganalisis tentang corak teologi pesantren di era kekinian. Corak teologi teosentris pesantren terlihat pada peran dan kontribusinya dalam menanamkan nilai-nilai religius di tengah hegemoni sains yang dituhankan. Produk sains yang mewujud pada teknologi tingkat tinggi (high technology) saat ini tidak mampu menjawab keseluruhan kompleksitas problematika kemanusiaan yang datang silih berganti. Umat manusia kini bertanya-tanya dimana gerangan nilai kemanusiaan ketika terjadi perang antara Rusia dan Ukraina yang menimbulkan korban ribuan jiwa melayang.

Dikutip dari laman The New York Times, Rabu (24/8), angka kematian yang terkonfirmasi atas penduduk sipil telah mencapai 5,587 korban jiwa, di mana terdapat 149 anak perempuan, 175 anak laki-laki, dan 38 anak-anak belum teridentifikasi telah tewas. Namun, angka korban jiwa diyakini telah menembus belasan ribu. Angka pengungsi Ukraina pun telah melebihi 6,6 juta. Kedua pihak turut mengalami kerugian militer dengan sekitar 9,000 prajurit Ukraina dan sebanyak 25,000 tentara Rusia tewas.

Menjamurnya media sosial pun ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, memberi kemudahan dan percepatan akses informasi bagi kita untuk membangun paradigma baru kehidupan global yang sehat. Tetapi di sisi lain, ternyata maraknya media sosial juga membuat realitas kekinian umat menjadi kabur dan tertutup dengan berlapis-lapis simulacra yang sulit ditembus. 

Realitas sosial keberagamaan umat sulit dikenali dan ditangkap secara obyektif karena tebalnya tafsir kebenaran yang monolitik dan tunggal. Monopoli kebenaran menjadi realitas keseharian yang menghiasi kehidupan beragama kita. Akibatnya, ruang publik keberagamaan kita menjadi tidak sehat dan sarat dengan penghakiman terhadap yang lain (liyan). Yang tidak sepaham dan sealiran dianggap sesat dan karenanya bisa dikafirkan dan sebagainya. Realitas teologis seperti inilah yang kini terbentang di ruang publik bangsa ini dan dihadapi pula oleh dunia pesantren kita. 

Ragam kearifan lokal (local wisdom) kita yang kaya menjadi tidak bermakna dihadapan teologi destruktif yang menafikan keberagaman atau kebinekaan. Teologi destruktif menganggap yang lain (the other) sebagai lawan, bukan kawan, dan karenanya menjadi sah untuk dilenyapkan dan dihilangkan dari dunia ini. Teologi destruktif, bisa dikatakan alergi terhadap eksistensi tradisi dan budaya yang merupakan bagian dan manifestasi dari metode verstehen tersebut yang tidak dapat dimaknai secara hitam putih semata.              

Realitas keberagamaan ini pulalah yang menjadikan pesantren menawarkan paradigma teologi humanis-inklusif. Secara epistemologis, di pesantren diajarkan ragam nilai dari berbagai multidisiplin keilmuan. Tidak hanya ilmu-ilmu agama (religious sciences), ilmu-ilmu alat       (al-ulum al-adawat),  metodologi dan kaidah-kaidah berpikir (islamic legal theory-legal maxims) juga ditekankan sebagai pelengkap dan piranti dalam menganalisis realitas sosial kemanusiaan yang berubah demikian cepatnya. Belum lagi—di perguruan tinggi di pesantren—ditambah dengan berbagai pendekatan dalam memahami agama seperti sosiologi, sejarah, antropologi, fenomenologi, hermeneutika dan sebagainya. 

Dari sini dapat dipahami corak teologi pesantren kita yang bersifat teo-antroposentris. Berlandaskan ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Keduanya saling berdialektika dan berdialog dalam upaya ikut urun rembug memecahkan problematika sosial kemanusiaan yang terjadi di Indonesia, bahkan di dunia. 

Penerimaan terhadap ideologi Pancasila merupakan contoh terang dari corak teologis pesantren. Demikian pula, pilihan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa keraguan sedikitpun adalah bukti bahwa teologi pesantren itu humanis dan inklusif. Mengapa demikian? 

Mudah saja, di pesantren yang dihuni oleh beribu-ribu santri diajarkan nilai-nilai kemanusiaan (humanity values) yang memanusiakan manusia meski berbeda latar belakang dan budaya. Di pesantren diajarkan sikap dan nilai-niai keterbukaan (inclusive values), saling menghargai dan menghormati antar sesama. Di pesantren pula, diajarkan nilai-nilai perubahan (transformative values) menuju keadaan yang lebih baik, dinamis, dan tidak stagnan. (*)

***

*)Oleh: Moh Nur Fauzi, S.H.I., M.H.; Dosen mata kuliah Pengantar Studi Islam Prodi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAI Darussalam Blokagung Banyuwangi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES