Kopi TIMES

Dear HIPMI-PMII, Bergurulah ke Muhammadiyah

Rabu, 23 November 2022 - 07:08 | 66.70k
Dear HIPMI-PMII, Bergurulah ke Muhammadiyah
Moh Ramli Mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – ANDA mungkin sudah tahu dan menontonnya. Ada dua video yang agak memalukan sekaligus memilukan tersebar di grup WhatsApp Selasa (22/11/2022) kemarin. 

Pertama, video kericuhan di Musyawarah Pimpinan Nasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sayid Ali Rahmatullah Tulungagung. Media menyebut, akibat kerusuhan itu ada sejumlah fasilitas kampus yang rusak.

Kedua, video kericuhan Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) XVII di Solo, Jawa Tengah. Yang ini lebih memilukan lagi, ko bisa orang-orang "tua" itu bergulat sedemikian serunya. Bagaimana kalau anak-anak mereka menontonnya? Apa sih yang mereka rebutkan?

Judul: Dear HIPMI, PMII, Bergurulah ke Muhammadiyah di atas tak berlebihan. Memang haruslah demikian. Anda juga sudah tahu atau menontonnya. Begitu ademnya, membahagiakannya dan dewasanya Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta kemarin itu.

Sidang Tanwir hingga musyawarah penentuan Ketua Umum (Ketum) organisasi yang didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan itu pun seperti tak ada apa-apa. Pengumuman siapa Ketumnya sebenarnya dalam jadwalnya akan dilakukan Minggu (20/11/2022) sore harinya.

Namun karena tak ada kendala, prosesnya cepat, pengumuman itu disampaikan siangnya di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang megah itu. Saya ikut melihat, saat 13 tokoh pimpinan pusat itu ke luar dari forum agenda musyawarah. Semuanya tenang, seperti tak ada apa-apa. Senyum-senyum mereka begitu merekah.

Para wartawan di lapangan yang meliput pun agak "mengeluh". Ko begitu susah ya mencari celah dan membuat laporan berita bombastis soal Muktamar ke-48 Muhammadiyah. 

Kericuhan di Sidang Tanwir tak ada, hawa panas pada saat e-Voting (maaf, Muktamar ke-48 Muhammadiyah tidak pakek kardus) pemilihan 13 anggota PP Muhammadiyah apa lagi. Mau menulis soal sampah berserakan pun tak bisa karena setiap waktu dibersihkan. Padahal puluhan ribu orang yang datang dari berbagai daerah.

Tak berlebihan, Dahlan Iskan dalam kolom Disway-nya berjudul: Kumpulan Pengabdi, mengatakan, bahwa dengan fakta itu, sistem Pemilu di Muhammadiyah semakin teruji –baiknya. Tidak ada kubu-kubuan. Tidak ada tim sukses. Tidak ada kampanye terselubung. Dan yang jelas: tidak ada serangan fajar. Politik uang sama sekali tak tercium. Dahlan Iskan mungkin mau menyinggung, sedemikian buruknya proses Pemilu di Indonesia paling tidak dalam dekade ini. Demikian buruknya organisasi yang setiap Muktamar-nya hanya menimbulkan dan menyusahkan kerusakan fisik dan moral.

"Muhammadiyah kan organisasi yang sudah lebih satu abad. Jangan disamakan. Mereka matang karena usia tua," demikian protes teman saya. Menurut saya, kematangan bukan soal usia. Tapi niat dan orientasi. Misalnya, sejak dari pintu rumah, para petinggi, peserta dan penggembira Muktamar ke-48 Muhammadiyah kemarin niat yang ditata adalah untuk mengabdi. Itu saja.

Tidak bisa dibayangkan, jika orientasi dan niat pada para petinggi, peserta dan penggembira Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang jumlahnya ribuan itu adalah materi, jabatan, kampus UMS mungkin juga berpotensi roboh. Jadi, niat mampu akan menentukan bagaimana keadaan dan persoalan. Jika salah, keributan, egoistis, fanatisme akan terus dikedepankan. 

Terakhir, ada satu ungkapan dahsyat dari Haedar Nashir, ketua umum PP Muhammadiyah terpilih, pada waktu sambutan di Sidang Tanwir Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang dilakukan di Gedung Muhammad Djazman, UMS kemarin, yang begitu terekam dalam benak saya. 

"Tidak ada yang abadi, termasuk dalam posisi dan jabatan. Dan kita diajari oleh Muhammadiyah, jangan mencari jabatan, sekali diberi amanah tunaikan dengan baik. Dan ketika tidak diberikan amanah, tetap berkhidmat". Demikian. (*)

*) Penulis, Moh Ramli, Mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

KOPI TIMES