Kopi TIMES

Gus Dur, Perjumpaan dan Keberlangsungan Sebuah Gagasan

Selasa, 13 Desember 2022 - 11:33 | 28.66k
Ahmad Dahri
Ahmad Dahri

TIMESINDONESIA, MALANG – Perubahan itu harus dimulai dari satu titik pijak, lalu disusun dengan berbagai langkah ke depan. Intoleransi, diskriminasi, rasisme dan kejumudan pola pikir masih kerap dijumpai di kehidupan yang serba berkemajuan ini. Untuk merubah semua itu perlu ada kesadaran dari dalam diri, lalu menyebar dan meluas, bahkan menyelinap di gang-gang sempit kehidupan. 

Gus Dur adalah pribadi yang memulai hal itu. Gus Dur bisa masuk ke dalam relung-relung minoritas dan merangkulnya. Memberi ruang serta duduk bersama. 

Advertisement

Gus Dur bukan hanya dikenal sebagai cendekiawan muslim, guru bangsa, tokoh pluralisme - Humanism. Tetapi juga sebagai pemimpin yang paham dan menghayati rakyatnya. Wajar, jika ia mendapatkan hati setiap masyarakat di Nusantara ini. 

Perjumpaan saya dengan semangat Gus Dur terjadi pada tahun 2011 akhir, saat saya ikut kongkow di warung Kelir bersama Pendeta Kristanto dan Mbak Charlotte. Saya berjumpa dengan ragama pemikiran, tidak hanya berbeda agam dan warna kulit, tetapi juga pemikiran yang sangat majemuk dalam memandang pluralisme dan humanisme. 

Pun, saat Pak Kris (panggilan akrab Kristanto Tatok Budi Prabowo) mengatakan bahwa "Pluralisme adalah ruang etis dalam merangkul dan duduk bersama dengan keberagaman, semangat inilah yang selalu diajar ajerkan oleh Gus Dur, sehingga tidak pandang bendera, warna atau agamanya apa, asal masih manusia maka ia sapa."

Tidak muluk-muluk dan bergelanyut dalam keagungan teori multikultur atau teori pluralisme, bahkan teori sosiologi. Gus Dur memberikan sikap empiris yang jelas, praksis dan terarah. Akhlakul Karimah adalah poin penting perjuangan Gus Dur. 

Maka aneh, jika dewasa ini banyak yang menyangka bahwa Gus Dur bukan bagian dari Begawan Pluralisme. Bahkan ngetrek-ngetrek dengan ragam dalil yang mengatakan bahwa Gus Dur liberal dan lain sebagainya. 

Di tengah kekacauan dan saling sengkarutnya politik identitas hari ini sangat tampak bahwa kepentingan yang dibangun bukanlah kepentingan kemanusiaan, tetapi kepentingan perut dan kekuasaan, yang rela mengorbankan manusia bertengkar dengan manusia yang lain, tanpa menegaskan bagaimana Pancasila itu sebagai dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 

Adil dan Beradabnya ini yang sulit ditemukan. Siapa yang tidak korupsi hari ini? Yang tidak makan daging saudaranya sendiri, hanya untuk melanggengkan kekuasaan. Bukan lagi memandang kemanusiaannya, padahal dia juga masih manusia. 

Gus Dur mengatakan bahwa Agamawan berganti kelamin, itu juga bukan tanpa alasan. Atau DPR seperti taman kanak-kanak. Hal ini karena dasar hilangnya kepedulian dan saling menghargai satu dengan lainnya. 

Artinya kesadaran akan pendidikan yang humanis belum dihayati sampai sedewasa ini. Apa yang Gus Dur tanam adalah apa yang akan dituai oleh generasi penerus. Ini yang mendasari bahwa perjuangan itu harus selalu berjalan sampai menemui titik pemberhentian. 

Kalau saja tidak terjadi perjumpaan sepuluh tahun lalu, bisa jadi saya akan sangat jumud memandang Lian. Memandang cina, Arab dan suku-suku yang lain. Pak Kris juga menegaskan kepada saya bahwa apa yang menjadi impian Gus Dur adalah semangat memanusiakan manusia. Buka. Nggrogoti daging saudaranya atau merampas hak rakyatnya. 

Ada dua hal yang perlu digaris bawahi dalam meneruskan perjuangan Gus Dur. Pertama, menyadari bahwa manusia itu diciptakan dengan keberagaman, yang mana tidak harus disatukan dalam kesamaan identitas atau prinsip egoisme kelompok tertentu. 

Kedua, istiqamah, karena menjadi jujur dan bersikap membela itu siapa saja bisa meniru, tetapi menjaga untuk tetap bersikap demikian itu yang sulit. Ketika Gus Dur konsisten dengan prinsip kemanusiaannya, membela yang lemah dan kaum papa, Gus Dur tidak mundur satu langkah pun. 

Walaupun kerap merespon dengan joke-joke yang menggelitik, Gus Dur tidak melupakan esensi dari apa yang ia perjuangkan. Semangat inilah yang sampai hari ini masih gamang dijumpai. Kegagapan dan kegelisahan intelektual bukan untuk kemaslahatan umat melainkan jaminan atas gelar dan kesarjanaannya. 

Dari perjumpaan itulah saya mecoba nggrayai jitok saya, mengintrospeksi diri bahwa kemanusiaan itu memang benar-benar di atas segalanya. Kemanusiaan bisa berdiri dan menjungjung tinggi nilai ajaran agama, budaya dalam membangun peradaban. 

Saya kira Gus Dur benar-benar menghayati apa yang disampaikan Nabi Muhammad bahwa innama bu'istu liutammima makarimal akhlak, bahwa nabi diutus ke bumi tidak lain untuk menata moral, etika dan peradaban manusia. Sehingga interpretasi dari pengetahuan yang disodorkan oleh Gus Dur muaranya ada pada moralitas, intelektualitas dan spiritualitas. 

Moralitas berada di atas segala konsep pergaulan dan sikap komunikasi sosial. Sedangkan intelektualitas adalah keluasan berpikir yang ditawarkan oleh Gus Dur untuk tidak terburu-buru menghakimi dan menjustifikasi siapapun, dan spiritualitas adalah ruang kedap suara yang menjadi muara dari cakrawala manusia di mana ditata dan dibangun sedemikian rupa dalam pola-pola tirakat, penempaan diri bahkan sama sekali tidak memiliki orientasi duniawi. 

Dari sanalah nilai yang ditawarkan Gus Dur bukan pada keagungan intelektual, menang debat dan menjadi raja dalam ruang-ruang dialektika, tetapi peka atau tidak, peduli atau tidak terhadap kaum papa, minoritas dan kaum marjinal. Semoga semangat itulah yang tetap menjadi mobilisator gerak keberlangsungan hidup generasi muda.

***

*) Oleh: Ahmad Dahri.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

 

_____
**)
Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES