Kopi TIMES

Dualitas Agensi dan Struktur Dalam Membangun Ekologi Budaya

Selasa, 10 Januari 2023 - 15:43 | 32.63k
Ida Wahyuni, Mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Ida Wahyuni, Mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Program Adiwiyata menjadi sorotan berdasarkan tingkat keberhasilan atau kegagalan pada perjalanan institusi pendidikan dalam capaian predikat atau penghargaan. Dalam perjalanannya banyak institusi Pendidikan atau sekolah yang berhasil menyandang gelar sekolah adiwiyata baik ditingkat daerah, provinsi, maupun nasional. Namun disisi lain tak sedikit juga sekolah yang gagal dalam merebut gelar tersebut. 

Ida Wahyuni yang merupakan salah satu mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang mendapati dari program yang telah dicanangkan tersebut, terdapat adanya indikasi pergeseran budaya peduli dan lingkungan. Kebijakan akan lingkungan ia rasa lebih lemah dalam hal pengembangan program seperti terjadinya pengurangan implementasi kurikulum berbasis lingkungan serta kegiatan lingkungan berbasis partisipatif yang dipandang masih banyaknya warga sekolah (agensi) yang tidak berperan aktif. Hal ini yang nantinya akan mempengaruhi jenjang predikat yang dicapai. Jenjang predikat yang berbeda menggambarkan hal yang menarik untuk diteliti. Sama-sama berhasil tetapi berbeda dalam tingkat predikat dan tahun capain ketika memperoleh penghargaan. Hal ini yang menjadikan ia mengangkat fenomena tersebut menjadi sebuah penelitian disertasi.

Advertisement

Saat dikonfimasi disela persiapan ujian, mahasiswa yang akrab disapa bu Ida ini menyampaikan bahwa penelitiannya ini bertujuan untuk mendeskripsikan warga sekolah dalam membangun struktur dalam memberikan ruang dan waktu kepada warga sekolah bagi berlangsungnya tindakan yang berorientasi ekologi budaya, serta melihat keberlanjutan/keberlangsungan proses dualitas agensi dan struktur dalam membangun ekologi budaya pada Program Adiwiyata di sekolah ini mengguakan paradigma definisi sosial dengan melakukan observasi untuk mengumpulkan data.

Melalui hasil observasi aik dengan model wawancara, Forum Group Discussion (FGD), serta dokumentasi yang telah ia lakukan di beberapa sekolah Adiwiyata di Kota Malang, didapati temuan bahwa Warga sekolah (agensi) memproduksi dan mereproduksi struktur untuk membangun ekologi budaya dalam program Adiwiyata di sekolah ditunjukkan melalui perencanaan Program Adiwiyata dilaksanakan dengan melibatkan seluruh warga sekolah sebagai agen, melalui beberapa tahapanseperti pembentukan Tim Adiwiyata Sekolah, menyusun kajian lingkungan sekolah untuk membuat peta permasalahan sekolah dalam berbagai isu untuk menetapkan perencanaan, menyusun rencana aksi lingkungan sekolah berdasarkan permasalahan isu-isu di sekolah, melaksanakan kegiatan aksi lingkungan, dan mengadakan evaluasi dan monitoring atas keiatan yang sudah dilakukan. 

Selain itu Struktur memberikan ruang dan waktu kepada warga sekolah bagi berlangsungnya tindakan yang berorientasi ekologi budaya pada program Adiwiyata di sekolah ditunjukkan melalui pelaksanaan kegiatan aksi lingkungan yang sudah terencana dalam rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang yang dibuktikan dengan bukti otentik berupa dokumentasi kegiatan serta pelaksanaan evaluasi oleh guru dan kepala sekolah secara berkala dengan monitoring rutin oleh guru mengenai pendidikan lingkungan hidup maka program tersebut kemungkinan besar akan dapat berjalan secara maksimal.

Keberlanjutan/keberlangsungan proses dualitas agensi dan struktur dalam membangun ekologi budaya pada Program Adiwiyata di sekolah ditunjukkan melalui pelaksanaan program sesuai perencanaan yang telah tersusun rapi ketika tahap perencanaan, melibatkan seluruh warga sekolah, berpartisipatif dan berkelanjutan, serta dalam pelaksanaan program Adiwiyata melibatkan 4 komponen program yaitu dalam pendidikan karakter menerapkan kebijakan berwawasan lingkunggan, kurikulum berbasis partisipatif, melaksanakan aksi lingkungan partisipatif, serta mengelola sarana dan prasarana ramah lingkungan yang mencakup perencanaan; pelaksanaan; dan pemantauan dilanjutkan dengan guru dan kepala sekolah serta warga sekolah aktif memantau kegiatan pembiasaan budaya cinta  lingkungan maka program Adiwiyata dalam pendidikan karakter akan berjalan lancar dan mencapai tujuan.

Melalui temuan penelitiannya ida berharap penelitiannya ini dapat dipakai untuk saran dan arahan pada sekolah-sekolah yang berada di Indonesia yang melaksanakan program Adiwiyata. Sebuah kegiatan yang memiliki relevansi kuat dalam memberikan jawaban terhadap masalah lingkungan yang buruk disebut dengan program adiwiyata, sebab kegiatan ini memberi penekanan dalam segi penyusunan perilaku warga sekolah serta orang-orang di sekitarnya agar tanggap pada lingkungannya dalam melakukan partisipasi secara rutin pada pengelolaan lingkungan yang bagus. Hal tersebut didukung dari telaah data yang dihasilkan studi yaitu melalui perwujudan tujuan, visi serta misi maupun peraturan sekolahan terkait pada usaha dalam mengelola serta melestarikan lingkungan hidupnya, kemudian implementasi kurikulum yang berlandasakan pada partisipasi rancangan pelaksanaan pembelajaran dimana sudah memiliki integrasi bersama kurikulum pendidikan lingkungan hidup. Pelaksanaan kegiatan lingkungan yang partisipasi diciptakan dengan kegiatan pelaksanaan setiap hari. Kemudian pengelolaan media serta alat yang bersahabat dengan lingkungan.

Ida juga menyisipkan saran yang ditujukan pada pihak sekolah agar lebih baik sekolah memberikan keikutsertaan orangtua sebagai bagian dari agen dalam memproduksi dan mereproduksi struktur untuk membangun ekologi budaya dalam program Adiwiyata di sekolah, agar yang diimplementasikan pada sekolahan bisa diimplementasikan juga di masing-masing tempat tinggal. Lebih baik sekolah melakukan evaluasi dengan intensitas yang tinggi dan sering pada tiap-tiap implementasi berbagai program yang sudah terlaksana. Juga kepada para pendidik agar meratakan pengertian lebih awal yang berkenaan dengan implementasi serta cita-cita adiwiyata. Lebih baik pendidik mencontohkan karakteristik tanggap terhadap lingkungan seperti aksi konkrit pada kesehariannya. Tak lupa juga kepada para peserta didik untuk lebih memiliki rasa peduli pada lingkungan sendiri meskipun tidak dalam pematauan. Terlebih lagi untuk dinas terkait hendaknya dapat terus mengembangkan tujuan dan memotivasi secara inten dalam bentuk pembinaan-pembinaan ke sekolah-sekolah dalam struktur yang memberikan ruang dan waktu kepada warga sekolah untuk berlangsungnya tindakan yang berorientasi pada ekologi budaya dalam program Adiwiyata di sekolah.

***

*) Oleh: Ida Wahyuni, Mahasiswa program studi Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES