Kopi TIMES

Perempuan di Masa Kerajaan Nusantara: Refleksi untuk Perempuan Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 - 18:12 | 43.31k
Isna Asaroh, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Jember.
Isna Asaroh, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Jember.

TIMESINDONESIA, JEMBER – Sejak keberadaannya hingga kini perempuan acapkali dianggap sebagai makhluk nomor dua dalam tataran hidup atas nama manusia. Eksistensi perempuan seolah hanya sebagai pelengkap bagi laki-laki. Bagaimana tidak, sejarah barat ataupun timur mengungkap kesamaan dalam historical awal mula terciptanya manusia. Bahwa, alasan Eve (Hawa) dicipta untuk menemani Adam yang kesepian di surga. Kenyataan sejarah yang demikian kemudian menjadi buntut panjang bagi perjalanan hidup perempuan dibelahan dunia manapun. 

Tidak sedikit perempuan mendapatkan perlakuan subordinasi juga marjinalisasi dalam berbagai aspek dikehidupannya. Sebelum ini, kita sering mendengar bahwa tugas perempuan hanya ranah domestik –kasur, sumur, dan dapur- tidak ada ruang publik untuk perempuan. Hingga akhirnya, saat ini kita telah mengenal istilah kesetaraan atau keadilan gender, lawan patriarki, feminisme dan lainnya sebagai produk yang membuktikan perjalanan panjang perjuangan perempuan. Tidak hanya itu perempuan kerap getol membuat gerakan-gerakan sebagai bentuk perlawanannya kepada diskiriminasi –yang tentu dalam hal ini ada saja kontribusi dari beberapa laki-laki (yang sadar). 

Advertisement

Dari perjalanan panjang itu, perempuan diabad 21 ini bisa tersenyum lebar –sebab perjuangan itu mulai menunjukkan hasil yang positif. Saat ini perempuan memiliki kesempatan dan peluang yang sama dengan laki-laki dalam pembangunan, baik dalam ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan lainnya. Saat ini kita mudah saja untuk bertemu dengan pendidik perempuan, politikus perempuan, para ekonom atau pengusaha perempuan, bahkan disetiap sudut kota kita berpapasan dengan aktivis perempuan atau perempuan pegiat sosial. 

Dengan adanya kesamaan kesempatan dan peluang bagi perempuan, menjadi penting bagi perempuan untuk mengambilnya dengan semangat, dengan gelora kompetitif yang sehat. Meningkatkan kemampuan atau kapasitas diri untuk tidak lagi dipandang rendah serta tidak menyerah pada peradaban yang tidak adil, akan tetapi juga mencapai keadilannya sendiri. Namun, sebelum membahasnya panjang penulis ingin mengajak untuk merefleksikan kembali peradaban Indonesia jauh sebelum ini. Hal ini sebagai bekal sejarah untuk kembali menegakkan harmoni bangkit dan maju bagi siapapun. 

Sebelum kemerdekaan Indonesia mengalami Imperialisme yang cukup lama dan menyiksa. Sebelum Indonesia jatuh ditangan para penjajah ,Nusantara merupakan tempat berbagai kerajaan megah yang berdiri dengan sistem pemerintahan yang sukses. Lalu apa kaitannya dengan pembahasan kita diawal mengenai perjuangan perempuan?

Tidak lain ini sebagai penguatan bahwa dizaman kerajaan itu peran perempuan masih terbatas diranah domestik saja. Perempuan tidak pernah memegang peran sebagai pengambil keputusan dalam pemerintahan. Mereka terpaku dalam peran domestiknya, mengurus urusan rumah atau sebatas pemuas birahi laki-laki. Peran perempuan hanya permaisuri, dayang, selir, namun tidak dengan ratu (Pemimpin).

Apakah benar begitu?

Tentu saja untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu kembali membuka buku sejarah yang tebal (dan biasanya membosankan). Atau karena era globalisasi yang mempermudah akses informasi kita bisa cari langsung dengan gawai yang kita genggam. Atau pilihan termudahnya melanjutkan membaca tulisan ini.

Ternyata kepemimpinan perempuan di Indonesia telah ada dizaman kerajaan. Salah satu kerajaan Nusantara yang berpusat di Pesisir Pantai utara Jawa (sekarang Jepara, Jawa Tengah) pernah dipimpin oleh Perempuan yang tegas, yang berhasil membawa kerajaannya terkenal dihampir berbagai belahan dunia kala itu selama 21 tahun kepemimpinnya. Ia adalah Ratu Shima dari Kerajaan kalingga yang begitu dicintai oleh rakyatnya. Tentu bukan tanpa alasan, keberhasilannya dalam sektor ekonomi dengan menguasai bandar dagang saat itu melalui pengembangan komoditi pertanian dan kerajinan, serta tata kelola hukum yang tegas membuat Kalingga makmur. 

Selain itu, Kerajaan bercorak Islam di Aceh (Samudra Pasai) juga pernah dipimpin oleh perempuan bernama Sultanah Nahrasiyah. Dibawah kepemimpinannya, Samudra Pasai mencapai masa kejayaan selama 20 tahun (1405-1428). Oleh karenanya, Sultanah Nahrasiyah begitu dicintai oleh rakyatnya dengan sifatnya yang bijaksana, arif, dan penuh kasih. 

Dua tokoh di atas adalah contoh nyata kiprah perempuan di masa kerajaan dalam hal kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan –yang mungkin jarang didengar karena kalah orbitnya dari Pemimpin kerajaan laki-laki (Hayam Wuruk, Raden Patah, Airlangga, dll). Selain dalam hal kepemimpinan, ternyata Perempuan dimasa kerajaan juga memiliki kiprah yang besar dalam hal pertahanan kerajaan dalam arti menjaga stabilitas kerajaan dari Perperangan (bisa disebut militer saat ini).

Fakta bahwa Kerajaan Mataram saat itu tidak hanya dijaga oleh prajurit laki-laki, namun juga prajurit perempuan adalah bukti bahwa perempuan Jawa kala itu tidak hanya ayu dan lemah. Perempuan juga mengambil peran sebagai perkasa yang menjaga keamanan dan pertahanan kerajaan. Perempuan-perempuan tersebut tergabung dalam pasukan elite kerajaan yang dikenal sebagai Prajurit Estri dengan nama resmi Pasukan Lengen Kusumo. Prajurit Estri memiliki keterampilan yang mahir dalam bersenjata dan berkuda, dimbangi pula dengan kelihaiannya dalam bidang seni dan keterampilan lainnya. 

Professor Asian Studies di Australian National University, Ann Kumar, menyampaikan bahwa catatan paling awal tentang prajurit perempuan Jawa berasal dari periode kekuasaan Sultan Agung antara tahun 1613 sampai 1645. Sedangkan, Rijklof van Goens, Duta besar Belanda yang mengunjungi Mataram pada pertengahan abad ke-17 mendeskripsikan ada sekitar tiga puluh perempuan mengenakan pakaian tempur berdiri mengelilingi singgasana Sultan yang bersenjatakan tombak dan tameng dari berbagai penjuru arah.

Tidak hanya itu, hampir semua kerajaan pecahan Mataram memiliki prajurit perempuan. Kerajaan Mangkunegaran pada masa kekuasaan Mangkunegara I (Raden Mas Said) membentuk korps prajurit perempuan yang bernama Prajurit Estri Mangkunegara. Dimana, didalamnya terdiri dari putri-putri Solo yang cantik namun lihai dalam senampan dan memanah. Selain mengawal raja, Iwan Santosa dalam bukunya Legiun Mangkunegaran mengatakan tugas prajurit dalam kesehariannya ialah memelihara panah, mengecat, memotong bulu-bulu untuk anak panah, dll. 

Selain itu, Prajurit Estri juga terdapat di Kesultanan Yogyakarta yang dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwana II tahun 1750. Dimana tugas para prajurit tersebut adalah menjaga keamanan keraton, mengawal raja, bertani, mengelola keuangan dan berkebun. 

Keberadaan prajurit perempuan dalam lingkaran kerajaan tentu menjadi kisah romantis dan cambuk bagi perempuan masa kini untuk turut berkiprah dalam pembangunan negara. Adanya kebijakan raja (pada zaman itu yang sangat tradisionalis dan konservatif) untuk mengangkat perempuan sebagai ajudan seolah-olah menunjukkan semangat kesetaraan dan penghargaan terhadap perempuan. Padahal, raja-raja Jawa sejatinya tidak pernah mempertimbangkan soal emansipasi kala itu. 

Sejarah perempuan Indonesia di masa kerajaan ini sudah sepatutnya membangkitkan giroh dan pengetahuan bahwa Perempuan Indonesia adalah perempuan tangguh dan berani yang mampu ditempatkan dalam berbagai sektor pembangunan di pelbagai sendi kehidupan. Maka menjadi malu apabila perempuan masa kini dengan kebebasan yang dimiliki untuk mengambil kesempatan diberbagai ruang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin. Apabila perempuan masa kini terlena oleh kenyamanan belaka yang membuatnya tidak maju dan berkembang, malas belajar, maka mau kita apakan bekal keberanian dan ketangguhan para pendahulu (perempuan) kita. 

Lewat tulisan ini (penulis juga belajar) untuk senantiasa tidak lagi menjadikan persoalan gender atau sistem budaya patriarki yang mengakar sebagai alasan untuk tidak berkembang dan maju. Sebaliknya, kita (perempuan) sudah perlu menunjukkan kiprahnya dalam pembangunan. Tidak takut bersaing, disamping selalu berusaha mengupgrad diri menjadi “PANTAS” dalam hal apapun. Maka kisah-kisah Perempuan hebat di masa kerajaan baik Ratu Shima, Sultanah Nahrasiyah dan Pasukan Estri tidak hanya cerita sejarah semata. Namun, dibuktikan secara lugas dan nyata oleh perempuan-perempuan masa kini yang tidak lelah belajar, berproses dan mempunyai daya saing yang unggul.

***

*) Oleh: Isna Asaroh, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Jember.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES