Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Ilmu Harus Jadi Perilaku

Rabu, 01 Februari 2023 - 14:01 | 30.28k
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA). (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA). (FOTO: AJP TIMES Indonesia)
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Perilaku seseorang sangat erat kaitannya dengan ilmu yang dimiliki, peribahasa mengatakan “Padi semakin tua semakin merunduk” begitupun seharusnya manusia semakin berilmu semakin beradab. Bagaimana kategori ilmu bisa memengaruhi perilaku? Menurut KBBI “Ilmu” adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Menurut Wikipedia, Ilmu disebut juga sains adalah “Suatu usaha sistematis dengan metode ilmiah dalam pengembangan dan penataan pengetahuan yang dibuktikan dengan penjelasan dan prediksi yang teruji sebagai pemahaman manusia tentang alam semesta dan dunianya.”

Apabila indikator dari ilmu adalah sebuah pengetahuan tentang suatu bidang, maka dalam kehidupan sehari-hari dan sering mendengar bahwa ilmu bisa didapat dari mana saja, siapa saja, dan dengan bermacam cara. Pada praktiknya/realitanya itu benar, hal baru atau informasi baru (positif) yang bisa kita tiru untuk dilakukan itu bisa disebut sebagai ilmu tidak peduli dari siapa kita mendapatkannya bahkan dari orang yang tingkatknya lebih muda dari kita.

Advertisement

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Ilmu memiliki banyak bidang, mulai dari ilmu yang memang dapat dikaji secara logis bahkan hingga ilmu yang tidak dapat dipikir secara logika . namaun apabila beradasarkan teori salah satu indikator dari ilmu adalah sistematis yakni dalam penyampaian ilmu itu dapat diuraikan sebab akibatnya dan dapat dipikir secara logis maka dari itu ilmu yang diyakini secara universal atau semua orang bisa mengaksesnya. Ilmu itu hakikatnya ada pada diri sendiri karena ilmu itu ada (kita memiliki ilmu) karena kita mencari tahu.

Ilmu dapat dianalogikan seperti perasaan kenyang, “rasa kenyang yang kita rasakan milik siapa? Tentu milik kita masing-masing, mengapa bisa kenyang? Karena kita makan” sama seperti ilmu “siapa pemilik ilmu pengetahuan yang ada di otak kita? Tentunya itu adalah pengetahuan milik kita, mengapa kita berilmu atau bisa tau tentang itu? Karena kita mencari tahu”. Proses menacari tahu ini bisa melalui sumber manapun, semakin banyak hal yang diketahui maka semakin paham pula relasi antara satu bidang dengan bidang yang lain. Kembali pada judul, mengapa ilmu harus menjadi perilaku?

Saat orang mengetahui tentang suatu hal, maka akan dihadapkan pada dua kenyataan yaitu pengetahuan tentang hal yang negative dan pengetahuan tentang yang positif. Karena sifat dari ‘Ilmu” adalah untuk “Digunakan/diterapkan” tentunya yang akan diserap otak dan dianggap sebagai ilmu adalah pengetahuan yang positif. Sampai sini kita tahu bahwa ilmu itu bertujuan untuk menjadi positif. Manusia yang diberi privilege oleh Tuhan untuk hidup di dunia sudah semestinya menjalankan nilai-nilai dasar kehidupan, karena nilai-nilai dasar kehidupan ini adalah untuk kesejahteraan dan perdamaian di dunia maka sebagai manusia yang berilmu penting untuk menerapkan ilmu yang di dapat melalui perilakunya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Sebagai contoh orang yang sudah belajar tentang agama Islam bebarti orang tersebut telah memiliki ilmu agama Islam, dalam agama Islam sudah dijelaskan tentang perintah dan larangan beserta alasannya, orang yang sudah belajar agama Islam tersebut tahu akan hal ini, maka mutlak menjadi kewajibannya untuk berperilaku sesuai dengan yang dijelaskan dalam agama Islam. Contoh di bidang lain, orang yang telah belajar ilmu ekonomi keuangan, ilmu yang didapat dari mempelajari ekonomi keuangan adalah orang atau perusahaan yang berhutang harus membayar liabilitynya kalau tidak sanggup membayar liability pasti sudah ada kebijakan berkaitan dengan konsekuensinya. Kita apabila berada di posisi pihak yang berhutang dan meyakini bahwa teori tersebut adalah ilmu maka kita harus berperilaku seperti ilmu tersebut yakni perilaku kita harus mengembalikan hutang, kalau kita tidak berperilaku “mengembalikan hutang” tentunya kita akan menerma konsekuensinya. Itulah alasan mengapa ilmu yang dimiliki oleh manusia harus dijadikan sebagai perilaku, karena apabila manusia tidak berperilaku sesuai dengan kadar yang ia miliki (sesuai dengan ilmu yang dimiliki) maka mereka akan sama saja dengan orang yang tidak berilmu, seharusnya mereka tidak menerima kerugian berupa konsekuensinya karena mereka berpengetahuan tetapi mereka setara dengan orang yang tanpa pengetahuan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES